
Setelah kejadian hebat yang menimpaku beberapa waktu lalu, aku kini memutuskan untuk lebih banyak diam, untuk sementara aku tidak ingin berbicara dengan Indah, aku pun hanya berbicara seperlunya dengan Ibu, aku sungguh butuh waktu yang panjang untuk bisa menerima semua kenyataan pahit ini.
Selama ini aku sudah berjalan di jalanan yang curam, gelap, sempit dan penuh dengan duri, taruhannya bukan hanya darah, tapi juga nyawa. Tapi kenapa semua orang tak ada yang bisa melihat setiap rasa sakitku, mungkin selama ini yang ku tunjukkan pada mereka hanya senyuman dan ketegaranku saja, hingga membuat mereka terus merasa benci kepadaku.
Kini aku pasrah tanpa usaha, aku menyerah sia-sia, aku diam, aku akan menemui zona nyamanku, di mana aku hanya perlu diam seribu bahasa, aku tidak ingin melakukan apapun lagi, aku sudah kehilangan semangatku untuk hidup, aku tau jatah azalku kini terus mendekatiku, waktu terus berjalan tanpa bisa di jeda, tapi entah kenapa? Aku merasa nyaman dengan hidupku yang masa bodoh kini, entah sampai kapan?? aku pun tak tau. Aku merasa butuh waktu yang panjang untuk menghilangkan traumaku.
Suatu sore, ketika aku selesai menyiram bunga, aku memutuskan untuk duduk di teras rumah sambil memandangi bunga-bunga yang meneteskan air yang baru saja aku semburkan.
Tiba-tiba aku melihat sebuah mobil di depan rumahku, ku lihat ada seorang perempuan cantik, seksi turun dari mobil tersebut, dan melambaikan tangannya padaku.
"Anjani, apa kabar??!" seru perempuan tersebut.
"Ibu Dewi?? Aku kabarnya baik Ibu. Ibu apa kabar??" Aku memeluk perempuan seksi itu, yang ternyata bu Dewi, beberapa waktu lalu bu Dewi sempat d mutasi ke luar kota, hingga waktu kasus aku di fitnah beliau tidak mengetahuinya.
"Aku baik Jan, kamu kenapa tidak pernah mengabariku?" tanya bu Dewi.
"Iya ibu, maaf Jani sibuk ngurusin usahanya Ibu Jani, jadi lupa deh buat saling bertukar kabar. Oh iya Ibu ke sini sengaja mau main atau ada hal lain??" tanyaku yang baru menyadari apa maksud kedatangan bu Dewi yang tiba-tiba.
"Oh iya Jan, aku ke sini mau nganterin undangan dari Tiara, dia mau nikah beberapa minggu lagi, kamu dateng ya, katanya kalian temen deket dulu ya???" kata bu Dewi sambil menyodorkan sebuah undangan kepadaku.
"O ya?? Tiara mau nikah kok dadakan sih???" tanyaku heran.
"Ya gak dadakan juga sih Jan, dia kan sekarang udah hamil empat bulan baru mau di nikahin sama pacarnya" jelas bu Dewi yang berhasil mebuatku membulatkan mataku sempurna.
"O ya?? Masa sih bu??" tanyaku masih tak percaya.
__ADS_1
"Iya Jan, mungkin itu karma karena dia udah fitnah kamu" pernyataan bu Dewi membuatku semakin tak mengerti.
"Maksud Ibu apa?, Jani ngerasa gak pernah di fitnah Tiara" jelasku.
"Ya tuhaaaaannnn Jani, kamu beneran polos atau gimana sih?? emangnya pihak kantor gak ada yang konfirmasi ulang sama kamu?" tanya bu Dewi sambil berdecak tak percaya.
"Gak ada tuh bu, emangnya kenapa sih??" Aku mulai kepo.
"Jadi, yang fitnah kamu menggelapkan dana kantor itu Tiara, dia memanipulasi data, sehingga terlihat kamulah yang melakukannya, hingga team audit mengecek ternyata ketauan Tiara lah yang bersalah, dan Tiara pun langsung di pecat dari kantor.
Aku tersenyum getir, sudah tak asing lagi bagiku dengan sebuah penghianatan, satu persatu orang yang pernah aku bela mulai terbuka topengnya, hari ini telah terbuka penghianatan Tiara terhadapku, nanti siapa lagi?? Allah memang sangat menyayangiku, Allah mengujiku lewat orang-orang yang ku sayangi.
"Jan, Jani, kok kamu malah melamun sih??" Bu Dewi mengguncangkan tubuhku.
"Eh, iya bu gak apa-apa, oh iya bu Dewi masuk ke rumah dulu yuk, minum dulu," ajakku yang baru menyadari sedari tadi kami hanya duduk di teras depan rumahku.
"Kok pulang sih?? buru-buru amat bu, Jani masih kangen lho sama bu Dewi" rengekku.
"Iya nanti aku main lagi ke sini" kata bu Dewi.
"Ya udah hati-hati di jalan ya bu, lain kali jangan lupa mampir lagi ke sini" akhirnya aku mengizinkan bu Dewi pulang.
"Iya Jan, pasti ya udah dadah Jani," seru bu Dewi sambil melambaikan tangannya.
"Iya Ibu Wa'alaikumsalam" jawabku lirih sambil tersenyum.
__ADS_1
Aku masuk ke dalam rumah sepulangnya bu Dewi, sambil menenteng undangan yang di beri bu Dewi tadi.
"Siapa Jan?? tadi kaya ada suara tamu, kamu gak ajak masuk dulu ke rumah??" tanya Ibu.
"Eh, iya Ibu, tadi itu bu Dewi, temannya Anjani waktu kerja dulu, mau ngasihin undangan pernikahan Tiara temannya Anjani juga dulu" jelasku.
"O ya?? nikahnya sama siapa?? sama teman kerjanya??" tanya Ibu yang membuatku penasaran untuk membuka undangan tersebut, aku membuka undangannya perlahan, lalu mengibarkannya.
DEG!
Sepertinya jantungku tak pernah bosan untuk terus berolah raga, hatiku tiba-tiba terasa kembali sakit melihat kenyataan ini di undangan tersebut tertera,
Menikah :
TIARA RENATA & FAISAL ADITIA
Seketika aku tertawa terbahak-bahak, rasanya jantungku ada yang menggelitiki, Aku membolak balikan undangan tersebut, aku melihat foto prawedding mereka dengan saksama, terlihat Tiara dan Faisal sedang berhadapan sambil berpelukan sangat bahagia. Ibu mulai panik melihat tingkahku dan mendekatiku, Ibu merebut undangan tersebut dari tanganku, Ibu membelalakkan matanya, sementara tubuhku terasa lemah sekali, rasanya aku ingin mati saja agar aku tidak lagi merasakan sakit dan kecewa.
Kenapa dengan tubuh ku? kenapa dengan diri ku? kenapa semua orang seolah berlomba ingin menyakitiku???.
GUBRAAAAAAKKKKKKK!
"Anjani!!!!!! kamu kenapa nak????" terdengar sayup suara Ibu memanggil namaku, tapi seketika kesadaranku menghilang, seiring dengan tubuhku yang jatuh terkulai.
Bersambung ...
__ADS_1
Di sini adakah readers yang mengalami hal yang sama dengan Anjani??pacaran bertahun tahun, eh nikahnya malah sama temen sendiri .
Jangan lupa tinggalkan jejak nya ya readers, like, koment, star five dan Vote sebanyak banyak nya....makasih....