KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Murka


__ADS_3

“Gak apa-apa, kamu mau nyobain baju kan??” Randi menoleh pada lenganku, yang sedang memegang beberapa baju.


“Ah, beneran gak usah Ran, nanti aja“ jawabku, aku?? Jelas tak ingin ada kesalah fahaman apapun, di antara aku dan Randi, niat Randi memang baik mau membantuku, hanya saja aku takut, jika ada oknum yang menjadikan moment ini menjadi di salah artikan.


“Gak apa-apa Jan, sini ganteng, sama om dulu yaaa ... Ibu mau nyobain baju dulu“ Randi dengan cepat meraih stroller Fadli, lalu duduk di kursi tunggu, aku mematung, bingung mau berbuat apa.


“Udah Jan, gak usah sungkan, Fadli aman kok sama aku“ lagi, Randi memaksa, lalu dia mengajak main Fadli, Fadli si anak baik, langsung tertawa ketika di ajak main oleh Randi.


Akhirnya, dengan langkah ragu, aku memasuki kamar pas, kemudian mencoba beberapa baju, dengan hati was-was.


Setelah hampir dua puluh menit aku mencoba baju, akhirnya aku keluar kamar pass, setelah memilih beberapa pakaian.


“Ran di a ku su dah ...”


Deg!!


Seketika langkahku membeku, kala kulihat Anwar sudah berdiri berkacak pinggang, di samping Randi, dengan memegang stroler Fadli, di ikuti Tiwi, yang tengah tersenyum.


Jangan di tanya wajah Anwar seperti apa?? Yah begitulah ...


“Anjani, pulang!!” hardik Anwar, melangkah, mencengkram tanganku, sementara Randi hanya menunduk, mungkin bingung.


“Ta tapi An“ Aku mencoba membantah,ingin menjelaskan, tapi begitu sulit.


“Pulang!!!” sekali lagi Anwar membentakku, kurasakan tangan Anwar begitu dingin, lalu mengeras, mencengkram erat jemariku.


“Ayah, sebentar, jangan marah dulu“ Aku mencoba meronta.


Anwar memutar tubuhnya, lalu berbalik menatapku, sorot matanya tajam, dan merah, dia mengeratkan rahangnya, pertanda dia amat marah.


Aku menarik napas panjang, aku tahu Anwar tengah salah faham, tapi, dari mana Anwar tau aku disni?? Siapa yang memberi tahunya?? Aku bingung.


“Randi, aku pulang dulu ya“ pamitku pada Randi, merasa tidak enak atas sikap Anwar.


“Iya, Jan, hati-hati ya“ Randi melambaikan tangannya.


“Dah ganteng“ Randi mencoba meraih pipi Fadli, tapi dengan sigap Anwar menepis tangan Randi.


“Jangan sentuh putraku!!!” sentaknya, Randi terdiam lagi, lalu menunduk.


“Kami duluan Ran“ pamitku, sudah sangat merasa tidak enak dengan suasana ini.


Anwar, menarik lenganku dengan kasar, sementara Tiwi mendorong stroler Fadli di belakang kami.


Diam. Itu yang terjadi di sepanjang perjalanan kami menuju parkiran. Anwar yang periang dan selalu penuh canda, entah kemana dia.


“Masuk!! “ sentaknya, sambil membuka pintu mobil untukku, sementara Tiwi, langsung masuk kedalam mobil tampa di perintah, dengan duduk di kursi depan.


Aku, Anwar, dan Fadli, duduk di kursi tengah, dengan wajah yang tegang. Aku menggendong Fadli, tapi tiba-tiba Anwar, mengambil alih gendongan Fadli, agar masuk kedalam gendongannya.

__ADS_1


“An, jangan terlalu kasar!” Aku mulai tidak terima dengan perlakuan Anwar.


“Fadli putraku!! Aku tidak mengizinkan sembarang orang menyentuhnya!” teriaknya lagi.


Pak Anto, dan Tiwi hanya diam saling memandang, seolah faham, jika kami sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja.


“Tapi, Fadli juga putraku, aku tahu apa yang terbaik untuk putraku“ jawabku, rasanya sakit, ketika Anwar bicara seperti itu, entah kenapa, tapi aku merasa Anwar sedang menyindir dan meragukan aku.


“Jadi, membiarkan Fadli di tunggui orang lain, yang menyukai kamu adalah yang terbaik?? Iya??“ tanya Anwar semakin berapi-api. Aku sungguh tidak mengenali Anwar, jika dia sedang di liputi rasa cemburu.


“An, jangan berlebihan, aku hanya menitipkannya sebentar“ elakku.


“Jadi, ini juga alasan kamu, minta izin buat jalan jalan?? Biar kamu bisa ketemuan sama Randi?? Iya??” tanyanya semakin tak terkendali, kulihat tangannya sudah gemetar.


“kamu salah faham An, aku tidak sengaja bertemu dengannya“ jelasku.


“O ya?? Tidak sengaja bertemu, tapi sampe dia mau menungguimu mencoba baju??” suara Anwar juga terdengar sudah gemetar.


“Kamu salah faham“ hanya itu yang mampu ku katakan, berbicara dengan Anwar dalam situasi seperti ini, hanya akan membua ucapanku sia-sia.


“Kamu keterlaluan Jan!!” sentaknya lagi, keterlaluan?? Keterlaluan apa coba??? hhuuhhh ...


“Mulai sekarang, kamu gak perlu keluar rumah lagi, kecuali jika kalian pergi bersamaku!” tegasnya, dan aku hanya bisa diam.


“Tapi An“ Aku mencoba bernegosiasi.


“Tidak ada penawaran, itu keputusanku!!” teriaknya.


Setibanya di rumah, aku turun dari mobil, sementara Fadli masih dalam gendongan Anwar, putraku terlelap sepanjang perjalanan pulang. Mungkin dia juga lelah.


Sementara Tiwi, dia sibuk mengeluarkan belanjaannya, aku bingung, siapa yang bayarin belanjaan Tiwi?? Bukannya dia gak punya uang?? Dan akupun tidak merasa mengeluarkan uang, malah belanjaan aku dan Fadlipun aku tinggal, belum sempat di bayar, karena insiden ini keburu terjadi.


Tapi, aku tak ingin bertanya, aku langsung masuk kedalam kamar fadli, melihatnya, yang tengah di tidurkan oleh Ayahnya.


Hening, keadaan itu kembali terjadi, bahkan ketika kami sudah berdua.


Ddddrrrttt ... dddrrtt ... ddrrrttt ...


Suara ponselku berbunyi, ada notifikasi chat masuk ke ponselku.


Aku tidak berusaha membukanya, takut jadi salah faham lagi.


Dddrrrttt ... dddrrttt ... ddrrrttt ...


Nyaring, suara itu kembali terdengar, aku masih membiarkannya.


Anwar menatapku tajam, lalu melirik pada tas yang masih aku tenteng, aku menarik napas. Kemudian meraih ponselku dari dalam tas. Ku buka chat yang masuk itu, lalu terlihat Randi mengirimiku banyak pesan.


“*Jan, kamu gak apa apa??”

__ADS_1


“Jan?? Apa Anwar marah??”


“Jan, maafkan aku “


“Jan, kamu baik baik saja bukan*??”


Chat dari Randi beruntun, aku bingung, tak ingin membalasnya, takut kesalah fahaman ini terus berlanjut.


“Siapa?” suara berat itu bertanya padaku.


“Tidak, bukan siapa-siapa“ jawabku menggeleng.


Ggrreeppp ...


Anwar merebut ponselku, lalu membaca pesan dari Randi.


“Kamu bilang, ini bukan apa-apa??” tanyanya mengacungkan ponsel ke wajahku.


“Apa ini pantas??? Apa pantas seorang pria, mengirimi pesan pada istri orang??” tanyanya mulai berapi-api lagi.


“An, jangan terlalu berlebihan An, Randi itu hanya temanku, dia orang yang pernah menolongku, salahkah aku jika aku merasa berhutang budi padanya??” air mataku sudah mengembang, tidak tahan dengan tuduhan Anwar.


“Aku sungguh membencinya!!” Anwar masih ketus.


“Kamu boleh membencinya, tapi jangan seperti ini An, kendalikan dirimu, tidak pantas kamu berteriak-teriak di hadapan banyak orang, itu akan merendahkan harkatku sebagai seorang istri“ Aku mulai terisak, kali ini Anwar diam.


“Apa kamu meragukan kesetiaanku?? Apa perjuanganku masih kurang untukmu?? Apa pengorbananku tidak ada artinya di matamu??” tanyaku beruntun.


Anwar diam lagi. Dia menundukkan kepalanya, sementara aku memundurkan langkah, kemudian masuk kedalam kamarku.


Aku menangis terisak, kesal akan prasangka Anwar yang menurutku berlebihan.


“Jan, maafin aku“ Anwar mendekatiku, sambil menyentuh pundakku lembut.


“Maaf?” tanyaku, menatap matanya dalam.


“Maaf, aku tidak pernah bermaksud menyakitimu, hanya saja aku tidak suka, istri dan putraku, bersama orang lain, meski siapapun dia“ Anwar menunduk, mungkin dia menyesal.


“Aku sungguh membenci keadaan ini“ Aku menyeka air mataku dengan kasar.


“Maafkan aku, aku yang salah karena sudah berlebihan pada kamu, dan juga Fadli“ pinta Anwar.


“Aku bisa menjaga diri, menjaga hati, dan menjaga keutuhan rumah tangga ini An, jadi kamu tidak perlu sehawatir itu“ jelasku.


“Maaf, aku yang salah“ Anwar memelukku erat.


Yah, begitulah keluargaku ini, ketika Anwar bicara, aku terdiam, ketika Aku bicara Anwar yang terdiam. Hingga kami mengucapkan maaf pada satu sama lain, untuk bisa memperbaiki diri masing masing. Meski usia kami sudah dewasa, tapi kadang, kamipun sering terlihat labil. Yah ... namanya juga manusia, tak akan pernah luput dari kesalahan.


Bersambung................

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers....


__ADS_2