KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Anwar


__ADS_3

Kini hubunganku dengan Bagas berangsur membaik, meski belum sepenuhnya aku bisa menerima akhlak Bagas, tapi aku mencoba memberinya kesempatan untuk berubah, di dunia ini tidak ada yang instan bukan???termasuk untuk meraih kebahagiaan, bagiku tidak ada satu pun hal yang mudah ku raih, aku harus berjuang dan berkorban lebih banyak agar bisa dekat dengan kebahagiaan menurut versiku.


Siang ini aku memutuskan untuk pergi ke supermarket, karena persediaan gula di rumah sudah habis, biasanya aku akan membeli semua keperluan dapur di pasar tradisional saja, tapi karena ke adaan mendesak, jadilah aku pergi ke supermarket terdekat.


Setibanya di supermarket aku mengambil sebungkus gula. Dan langsung menuju kasir lalu membayarnya. Ketika aku menarik pintu supermarket, tiba-tiba dari luar juga ada pria yang mendorong pintu tersebut hingga aku hampir terpental dan menjatuhkan bungkusan gula yang tengah ku pegang.


“Maaf, maaf saya gak sengaja, saya buru-buru“ seru pria yang hampir membuatku jatuh itu.


“Iya, gak apa-apa“ jawabku sambil berjongkok, mengambil bungkusan gula yang tadi sempat terjatuh.


“Anjani, kita ketemu lagi“ kata-kata pria itu tiba-tiba mengagetkanku dan membuatku langsung mendongakkan kepala menatapnya.


“Anwar, kenapa kamu ada di sini??” tanyaku kaget, ternyata pria yang telah membuat gulaku jatuh itu adalah Anwar.


“Aku, mau beli sesuatu Jan, Ayo sini bangun, aku bantu“ Anwar mengulurkan tangannya ke arahku. Tapi aku segera berdiri sendiri, tanpa mempedulikan tangan Anwar. Akan salah bagiku jika menggenggam tangan pria lain, ke adaan sekarang belum terlalu darurat, apa lagi aku selalu ingat statusku sebagai seorang istri.


“Gak apa-apa, aku bisa sendiri ko, makasih ya Anwar“ Aku tersenyum pada Anwar.


“Oh, ya udah“ jawab Anwar ketus.


“Kamu tinggal di sekitaran sini Jan??” tanya Anwar kemudian.


“Iya, masih deket kok dari sini, Kamu sendiri kenapa bisa ada di daerah ini?? “ Aku mulai menyadari keherananku, kenapa aku bertemu kembali dengan Anwar dengan cara yang sama.


“Aku ada kerjaan aja di daerah sini, jadi untuk sementara aku tinggal di daerah sini“ jawab Anwar.

__ADS_1


“Kerjaan?? Anwar sekarang kerja??” tanyaku, heran, mengingat dulu sama sekali tidak ada gurat di wajah Anwar untuk menjadi seorang pekerja.


“Iya, aku sekarang megang beberapa perusahaan Papah,“ jawab Anwar sambil tersenyum bangga.


“Papah?? Bukan abah lagi??” tanyaku tersenyum mesem, mengingat dulu Anwar memanggil orangtuanya dengan sebutan Abah dan Ambu.


“Aku sudah sembuh Anjani,“ jawab Anwar tegas yang membuatku sedikit kaget, dulu Anwar selalu memanggilku bu Anjani, sekarang dengan terang-terangan dia memanggil namaku saja.


“ Sembuh?? Anwar tidak pernah sakit kan??” Aku mencoba mencairkan suasana yang mulai menegang.


“Kamu tidak lupa kan jika aku tiga tahun lebih tua darimu??” sungguh Anwar telah banyak berubah, Ah, kadang ada kalanya aku tidak suka perubahan yang seperti ini.


“Iya, aku masih mengingatnya, lalu?” tanyaku mulai canggung berbicara dengan Anwar yang sekarang.


“Jangan panggil hanya nama padaku, aku bukan Anwar yang dulu“ pinta Anwar yang membuatku sedikit ngeri dengan permintaannya.


“Suami kamu kerja di mana??” tanya Anwar kemudian.


“Di salah satu perusahaan di kota ini,“ jawabku kemudian menyebutkan perusahaan tempat Bagas kerja.


“Oh, oke“ jawab Anwar yang membuatku bingung.


“Ya udah Mas Anwar, kalau gitu aku pulang duluan ya“ pamitku akhirnya.


“Iya, Jani lain kali kita bisa bertemu lagi 'kan?” tanya Anwar yang membuatku bingung.

__ADS_1


“Iya, insya Allah ya Mas Anwar“ jawabku yang masih saja tidak nyaman dengan panggilan untuk Anwar.


“Iya, aku tunggu ya Jan“


“Iya, Mas Anwar, Assalamua’laikum“ pamitku.


“Wa’alaikumsalam“ jawab Anwar.


Aku pun melangkahkan kaki untuk pulang, takdir memang ajaib sekali, bahkan aku masih sangat mengingat wajah cupu Anwar, tapi kini Anwar sudah seribu persen berubah, manusia terlalu cepat berubah-ubah, dan aku tidak terlalu menyukai perubahan. Aku masih ingin Anwar masih seperti dulu, Anwar yang membuatkan aku lagu dan tanpa malu bernyanyi di atas meja untuk mengunggkapkan perasaannya kepadaku. Aku senyum-senyum sendiri ketika


mengingat kejadian lucu itu.


Setibanya di rumah aku langsung menuju dapur, aku langsung memasak untuk menyiapkan makan malam untuk Bagas, Aku harap Bagas suka dengan masakanku hari ini.


Tidak lama kemudian Bagas pulang ke rumah, Aku membuka kan pintu setelah Bagas mengetuknya, Aku mencium tangan Bagas dan membawakan tasnya, Bagas terlihat lesu dan lelah.


“Mas, gimana kerja nya hari ini?? Cape??” tanyaku.


“Iya,“ jawabnya dingin.


“Ya udah kamu mandi dulu aja ya?? Aku siapin air panasnya“ perintahku.


“Iya,“ jawabnya singkat.


Aku melangkahkan kaki menyiapkan air panas untuk Bagas mandi, ada apa dengan orang-orang hari ini?? Kenapa mereka berubah menjadi sebongkah es?? Dingin sekali. Hingga aku merasa beku jika berada di dekat mereka.

__ADS_1


Bersambung .............


jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaa ...


__ADS_2