KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Tiara


__ADS_3

Ke esokan harinya aku berangkat ke kantor dari rumah, aku tiba di kantor cukup pagi, hanya beberapa karyawan saja yang baru datang.


Aku tidak ingin segala masalah yang sedang ku hadapi mengurangi kinerjaku. Aku masuk ke dalam ruanganku, Aku duduk di kursi, dan mulai menyalakan komputerku.


Di luar ruanganku, aku sudah mendengar suara gemuruh mungkin karyawan yang lainnya sudah pada datang. sayup - sayup aku mendengar suara - suara mereka, awalnya suara mereka sangat pelan dan terdengar berbisik - bisik, tapi lama - lama suara itu semakin meninggi dan semakin keras, lalu ku dengar ada suara gebrakan meja.


Terdengar suasana jadi ribut dan kacau. Aku membuka pintu ruanganku, ku lihat Tiara sedang di kerubuti karyawati lain, ku lihat Tiara tertunduk dan menahan tangisnya. Aku juga melihat Sindy tengah berkacak pinggang sambil menunjuk - nunjuk Tiara di hadapan banyak orang.


"Dasar perempuan gak bener!!!! Beraninya loe gangguin pak Brian, asal loe tau ya pak Brian itu calon pacar gue!!!"


"Aku gak bermaksud gitu Sin" ku lihat Tiara bermaksud membela dirinya.


"Alah ... maling mana ada yang mau ngaku, gue tau loe itu orang miskin Tiara, tapi gak gitu juga kali, loe pengen dapetin kemewahan hanya dengan modal ngangkang doang di depan om - om" Kata - kata Sindy cukup membuat telingaku sakit mendengarnya.


"Cukup ya Sindy, aku gak pernah kayak gitu" bantah Tiara,


"Heh Tiara!!!! terus kenyataan yang gue liat tadi apa??, Gue ngeliat loe keluar dari hotel sama pak Brian" Sindi masih terus menunjuk - nunjuk wajah Tiara dengan wajah sangarnya.


"Itu tidak seperti yang kamu fikirkan" air mata Tiara mulai tumpah, membuatku tidak tega melihatnya, Tiara sedang di hakimi teman - temannya sendiri. Begitu fikirku.


"Halah udahlah, Tiara loe itu gak lebih dari ..." Belum Sindy menyelesaikan kalimatnya, aku langsung menemui mereka dan menghentikan perdebatan mereka. Aku sudah tidak tahan lagi dengan pertengkaran mereka, yang tidak ku mengerti, entah apa yang mereka perdebatkan.


"Cukup!!!!!!" Aku menggebrak meja, seketika menghentikan perdebatan mereka, gerakan tanganku membuat karyawan lain tertunduk dan terdiam.


"Kalian itu kenapa sih?? apa yang kalian ributkan?? masalah neraca kantor?? masalah amortisasi?? atau masalah apa?? pekerjaan mana yang tidak kalian mengerti???" Tak ingin membahas masalah yang mereka debatkan, aku memilih untuk mengabsen setiap pekerjaan yang harusnya mereka kerjakan.

__ADS_1


"Kalian itu kenapa sih?? kalian kan sarjana, kalian faham hukum, ayo lah jangan bersikap brutal seperti ini, jika ada masalah bicarakan baik - baik bisa kan?? jangan mengotori divisi yang saya pimpin dengan ke egoisan kalian" Aku menggunakan dalih pekerjaan lagi untuk menyadarkan mereka.


Mereka tertunduk dan diam, sebagian dari mereka langsung duduk di mejanya masing - masing, dan tangan mereka menjadi sibuk, entah apa yang mereka kerjakan.


"Sindy, Tiara, saya harap kalian bisa berbaikan dan saling memaafkan, saya harap divisi ini di penuhi dengan suasana tenang dan damai, ayo berbaikan" perintahku, tapi yang ku lihat hanya Sindy yang memalingkan mukanya, dan Tiara langsung pergi berlari entah ke mana. Aku menghela napas, penatku terus bertambah "Ya sudah terserah kalian saja" Gumamku, dan langsung kembali ke ruanganku.


Jam makan siang sudah tiba, tiba - tiba Faisal menelponku,


"Hallo Jan, kamu udah makan siang belum??makan siang bareng yuk" Ajak Faisal dari sebrang sana.


Ah kebetulan Faisal nelpon, tapi aku jadi bingung, kira - kira aku beri tau tidak ya kejadian kemarin? aku ingin menceritakan keluh kesahku pada Faisal. Biasanya Faisal akan dengan sabarnya mendengarkan segala deritaku. Iya aku merindukannya, aku rindu ketika dia bilang "Sabar ya Jani" sambil menedipkan matanya. Aku ingin bertemu dengannya, ya walaupun masih tersisa rasa kesal di hatiku sih.


"Iya, mas ayo, tapi mau makan siang di mana??" Tanyaku,


"Iya ayo, aku jalan sekarang, telponnya tutup dulu ya mas, assalamua'laikum" Aku lalu menutup telpon setelah Faisal menjawab telponku. Aku berjalan ke luar dari ruanganku. Aku melihat Tiara tengah duduk di kursinya sendirian, sambil menangis, sementara kursi lain sudah kosong karena mungkin karyawan lain sudah berhamburan keluar kantor untuk makan siang.


"Tiara, kok sendirian, gak makan siang??" Sapaku, jujur aku kasihan melihat Tiara, aku tau Tiara sedang di jauhi teman - temannya karena masalahnya yang cukup berat.


Sementara Tiara hanya diam, lalu menatapku tajam, membuatku bingung,


"Kamu kenapa?? mau makan siang bareng yuk" Ajakku, masih terus berusaha berkata lembut padanya, aku tau Tiara kini hatinya sedang di penuhi kebencian,


"Tiara kamu gak apa - apa kan??" Aku mendekati tiara dan memegang tangannya, tapi jauh dari perkiraan Tiara malah menghempaskan tanganku cukup keras, dan berlalu pergi.


Aku tertegun, ah ... mungkin Tiara sedang tidak ingin di ganggu dan ingin sendirian dulu, aku memang harus memberinya waktu.

__ADS_1


Aku melanjutkan perjalananku menemui Faisal yang sudah menungguku di kafe yang biasa kami kunjungi.


"Mas maaf lama ya ..." Sapaku setibanya di hadapan Faisal.


"Iya gak apa - apa, memangnya ada apa sih??kok kamu lama banget" Tanya Faisal.


"Gak apa - apa, cuman itu tadi Tiara, yang temen aku itu mas, yang tempo hari pernah aku kenalin sama kamu, kayaknya dia lagi ada masalah deh" Jelasku pada Faisal.


"Oya?? masalah apa??" tanya Faisal dengan wajah penuh tanda tanya.


"Ya aku juga kurang tau mas, cuman yang aku denger dari pertengkaran mereka, katanya Tiara bukan orang baik ya semacam itu lah mas," jelasku lagi.


"Masa sih?? Tiara itu orang baik Jani, aku gak suka lho kamu bilang Tiara bukan orang baik" Pernyataan Faisal membuatku bingung, kenapa Faisal bicara seperti itu?? tau apa dia tentang Tiara, bukan kah mereka tidak saling kenal??.


"Maksud mas Faisal apa??" tanyaku, yang tidak bisa menyembunyikan rasa penasaranku.


"Eh gak apa - apa" Jawab Faisal gelagapan.


"Apa ayooooo??? Lagian mas sekarang kenapa sih?? suka banget mainin handphone kalau lagi sama aku??" tanyaku menyelidik, akhir - akhir ini hampir setiap bertemu denganku Faisal tak pernah bisa jauh - jauh dari handphonenya.


"Eh, ya gak apa - apa Jan, ini masalah kerjaan, kerjaan aku banyak banget, aku sampai pusing lho," jelas Faisal yang membuatku langsung mengerti, tiba - tiba aku tak ingin lagi menjelaskan tentang Andre kepada Faisal, ya yang penting aku tetap setia pada Faisal kan?? aku tidak ingin menambah beban hidup Faisal lagi. Jadi diamku saat ini pasti akan sangat membantu Faisal.


Bersambung...............


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers yang author kasihi....dengan cara like, komen, kasih bintang lima dan vote sebanyak banyak nya....author tunggu yaaaaa :) makasiiiiihhhhh.......

__ADS_1


__ADS_2