KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Sibuk


__ADS_3

Udara hari ini membuat air dikamar mandi menjadi terasa benar-benar dingin, kulilit handuk berwarna hijau tua di pinggang, dan berjalan kearah kamar mandi.


Menarik handuk kecil, yang menggelantung di besi jemuran, tepat di samping kanan pintu kamar mandi, lalu mengeringkan rambut yang basah. Lalu kugunakan kemeja berwarna abu, dan celana panjang berwarna hitam, jas berwarna hitam pula, dengan dasi yang berwarna senada dengan kemeja yang kugunakan, tak lupa kulilitkan jam tangan, di tangan kiriku.


Perlahan aku berjalan, mendekati ranjang yang masih di huni istriku.


Cup, aku mengecup keningnya.


“Selamat pagi sayang“ sapaku, padanya yang masih saja terpejam.


Entahlah, semenjak dia hamil, rasanya aku tinggal serumah dengan orang yang berbeda, dia sungguh banyak berubah, yah ... mungkin karena pengaruh hormon didalam tubuhnya, istriku yang sabar kini jadi agak sedikit manja, sedikit sensitif, dan sedikit ngambekan.


Tapi, aku mencoba menikmati semua kondisi ini, daripada aku harus kehilangannya lagi, aku lebih baik menikmati setiap moment kehamilannya, yang jujurnya sangat merepotkanku.


Bagaimana mungkin, aku bisa tahan, jika di jam satu malam, Anjani membangunkan aku, hanya karena ingin makan rujak mangga, padahal persediaan mangga muda dirumah sedang tidak ada, lalu aku harus mencarinya, setelah sampai jam tiga subuh aku mencari mangga muda, akhirnya aku mendapatkannya, dengan susah payah, karena harus manjat pohonnya sendiri, untung saja dirumah Andi sekertarisku ada pohon mangga yang sedang berbuah, coba jika tidak?? Entahlah.


“Jan, ini mangga mudanya, kamu makan ya“ Aku menyodorkan mangga muda, pada istriku, dengan wajah lesu dan mengantuk.


“Enggak, aku gak mau“ jawabnya ketus.


Jederrrr!!!


”Lah?? Kok gak mau?? Tadi katanya mau“ tanyaku tak percaya.


“Iya, maunya tadi, sekarang udah gak mau, makan aja sama kamu“ katanya sambil beranjak, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, sementara aku hanya bisa mengelus dada, “Sabar Anwar, sabar“.


“Pagi ...” Dia menggeliat, dulu dia paling anti, setelah shalat subuh untuk tidur kembali, tapi sekarang, mau bangun aja susahnya minta ampun.


“Jan, aku mau berangkat ke kantor dulu ya“ Aku mencium keningnya.


“Hhmmhh” jawabnya sambil kembali memejamkan matanya.


“Hari ini, kamu jadwal kontrol kandungankan??” tanyaku.


“Hmmhh” jawabnya, tak membuka matanya.


“Aku berangkat ke kantor dulu, nanti siang aku kembali lagi kesini jemput kamu“ Aku kembali mengelus kepalanya.


“Sayang, Ayah berangkat dulu yaaa, jaga Ibu baik-baik, jangan nakal“ Aku mengelus perutnya dan berusaha mengajak anakku berkomunikasi.


Kemudian aku beranjak, keluar rumah, dan memasuki mobilku, lalu melajukannya.

__ADS_1


Mobil melaju, membelah jalanan. masih terlihat sisa sisa embun, menaungi aspal yang sedikit basah, perjalanan ke kantor hanya memakan waktu sekitar tiga puluh menit, bisa kurang jika jalanan tidak macet, setibanya di parkiran kantor, aku segera turun dan memasuki kantorku, hari ini jadwalku sungguh sangat padat, sebelumnya hampir satu bulan aku meninggalkan segala urusan kantor, jadi sekarang pekerjaanku sungguh bertumpuk-tumpuk.


Aku segera masuk kedalam ruangan, dan segera mengerjakan semua tugas yang harus kukerjakan, agar aku bisa pulang dulu nanti siang, lama aku mengerjakan pekerjaanku, hingga tak terasa waktu berlalu.


“Pak, maaf hari ini Bapak ada meeting, tepatnya nanti siang pukul satu“ Andi memberitahuku.


“Tapi Andi, siang ini saya harus mengantar istri ke dokter kandungan, bisa di cancel jadwalnya??” tanyaku.


“Tidak bisa pak, saya sudah membatalkannya berkali-kali, nanti client bisa kecewa pak“ jawab Andi.


“Oh begitu ya“ Aku manggut-manggut, hatiku bingung, bisa di bayangkan, istriku yang sedang sensitive itu pasti bakalan ngamuk-ngamuk, kalau tahu aku tidak jadi mengantarnya ke Dokter kandungan, lagi pula, aku ingin tahu, bagaimana kondisi anakku.


“Tidak bisa di percepat jam meetingnya Andi??” tanyaku lagi, berharap ada celah.


“Tidak bisa pak“ jawab Andi lagi.


Sedikit kecewa, tapi mau bagaimana lagi?? Ini sudah menjadi tanggung jawabku, kuputuskan untuk menelpon istriku.


Aku mengambil ponselku, lalu menekan tombol ‘panggil’ pada nomor istriku, satu kali panggilan telpon tidak di angkat, dua kali, hingga tiga kali panggilan dia masih belum mengangkat telponnya.


“Kenapa dia tidak mengangkat telponnya ya?? Apa iya dia masih tidur?? Ini sudah pukul sepuluh lho“ Aku menggerutu.


Akhirnya kuputuskan untuk mengirim chat padanya.


[iya, gak apa-apa ] balasnya


[kamu tidak marah kan??]


[tidak, aku akan pergi cek kandunganku sendiri, nanti pulangnya kamu bisa jemput aku kan??]


[iya, aku usahakan, makasih ya Jan, kamu mau mengerti aku]


[iya, sama-sama Ayah]


Aku tersenyum membaca pesan terakhirnya, meski kami sudah berkomitmen untuk mengubah nama panggilan kami, tapi kadang kami masih sering memanggil nama kami, dengan nama yang dulu.


Kami hanya ingin terbiasa, jika anak kami lahir nanti, kami sudah terbiasa dengan nama panggilan kami.


Ah ... Anjaniku memang banyak berubah, tapi dia masih tetap perempuan yang sabar dan pengertian, perubahannya mungkin hanya karena kehamilannya saja. Aku yakin dia tetaplah dia yang dulu.


“Pak?? Bapak tidak apa-apa??” tiba-tiba suara Andi mengagetkanku.

__ADS_1


“Ah, iya tidak apa-apa,” jawabku mesem.


“Bapak kenapa senyum-senyum sendiri?” tanyanya lagi.


“Makanya nikah, biar tahu alasannya“ jawabku, ah ... entahlah tapi aku paling suka menjahili Andi, dia sudah seperti adikku sendiri.


“Hhee ... bapak, ya udah pak ayo udah di tunggu di ruang meeting“ Andi merentangkan tangannya.


“Iya“ Aku mengikuti langkah Andi, kemudian memasuki ruang meeting. Kemudian memulainya.


Hingga pukul dua siang berlalu, tapi meeting ini tak kunjung selesai, aku sudah gusar dibuatnya, aku tahu istriku pasti sudah menungguku menjemputnya. Tapi pokok permasalahan yang jadi bahan meeting belum juga terpecahkan.


Meskipun aku pemilik perusahaan, tapi aku tidak bisa pergi seenaknya, aku harus bertanggung jawab.


Hingga waktu mendekati pukul tiga, akhirnya meeting ini selesai, aku segera beranjak mengambil kunci mobil dan segera melesat, menuju rumah sakit tempat istriku mengecek kandungannya.


Dari kejauhan kulihat dia tengah berdiri di lobby, sambil celingukan, mungkin dia sedang menunggu kedatanganku, tak lama aku melihatnya membuka selembar kertas, kemudian meremasnya, dan membuangnya kedalam tong sampah.


Aku mengernyitkan dahi, dan segera menyalakan klakson mobilku, dia terlihat terperanjat, dan langsung tersenyum


menghampiriku.


“Hallo Ayah“ sapanya riang.


“Maafkan aku, aku terlambat menjemputmu!“ seruku, sambil membukakan pintu mobil untuknya.


“Iya gak apa-apa Ayah“ jawabnya sambil tersenyum, lalu mengusap pipiku lembut.


“Gimana tadi kata Dokter?? Apa anakku baik baik saja??” tanyaku antusias.


“Iya, dia sangat baik-baik saja“ jawabnya sambil mengelus perutnya, yang mulai terlihat menyembul, aku mengangguk.


Aku kembali menyetir mobil, melajukannya menuju arah pulang.


“Kamu mau makan sesuatu??” tanyaku, pada istriku yang tengah melihat pemandangan diluar jendela mobil.


“Tidak“ jawabnya tanpa menoleh padaku.


Ada yang aneh dengan sikapnya, tapi apa ya?? Hatiku merasa ada sesuatu yang dia sembunyikan.


Bersambung.....................

__ADS_1


Jangan lupa tetep dukung cerita ini ya readers,.....


__ADS_2