
“Siapa yang nelpon?” tiba-tiba Anwar muncul dari balik pintu kamar mandi.
“Indah,“ jawabku singkat.
“Ada apa??” tanyanya lagi.
“Minta anter kedokter kandungan“ jawabku sambil bangkit dari tempat tidur, membantunya memakaikan kemeja kerja.
“Emh, Andre kemana?? Gak bisa nganter Indah??” tanya Anwar lagi.
“Gak bisa, katanya lagi sibuk, aku bolehkan? Nganter Indah ke dokter kandungan??” tanyaku lagi, sambil memasangkan dasi di leher suamiku.
“Boleh, kamu hati-hati ya dijalannya“ izinnya sambil mengecup keningku.
“Iya,“ jawabku sambil merunduk malu.
“Ya udah kamu sarapan dulu ya, aku bikinin kamu sarapan dulu,“ ajakku sambil berlalu mendahuluinya, dan Anwar 'pun mengikutiku dari belakang.
“Emang kamu udah masak??” tanyanya,
“Kamukan dari tadi belum kedapur“ dia mensejajari langkahku.
“Aku masak makanan yang gampang aja, yang penting kamu sarapan An,“ jawabku, sambil mengeluarkan bahan makanan.
“Mau aku bantu??” tanyanya menawarkan diri,
“Gak usah An, ini tugasku, maafkan aku, aku tidak bisa beraktifitas seperti biasanya, entahlah pernikahan Ibu dengan pria asing itu, membuatku jadi tidak bersemangat,“ Aku mengadukan keluhanku pada sang suami terkasih.
“Jangan terlalu di fikirkan, aku gak mau kamu banyak fikiran, hanya karena kamu memikirkan hal l-hal seperti itu,“ katanya sambil terus memperhatikan aku yang tengah gelisah.
“Iya An, makasih ya, kamu sudah sangat mengerti aku“ jawabku sambil memaksakan senyum.
“Iya sama-sama,“ jawabnya sambil memanggutkan kepalanya, di iringi senyuman manis, bahkan lebih manis dari teh manis buatanku pagi ini.
__ADS_1
“Sarapannya udah jadi, maaf hanya seadanya,“ lagi, aku merasa bersalah, atas semua tingkahku hari ini.
“Gak apa-apa, apapun yang kamu masak, akan tetap aku makan, semuanya pasti terasa enak dilidahku,“ lagi, jawabannya membuatku terharu, aku tersenyum menatapnya yang sudah asyik memakan nasi goreng, dan telur mata sapi, masakanku pagi ini.
Selesai sarapan, dan Anwar berangkat kerja, aku segera mandi, lalu bersiap-siap untuk menemani Indah cek ke Dokter kandungan. Aku janjian dengan Indah di dokter kandungan saja, jadi tidak menyita terlalu banyak waktu, terasa lebih simple saja. Kita jadi tidak saling mengunjungi rumah masing-masing, dan saling menunggu.
“Kakak,“ Indah melambaikan tangannya padaku, ketika aku turun dari mobil. Lalu aku membalas lambaiannya.
“Kamu udah lama Dek?” tanyaku.
“Belum Kak, ayo kita duduk disana sambil menunggu antrian“ Indah memegang tanganku, lalu kami berjalan beriringan.
Cukup lama kami menunggu antrian, hingga akhirnya nama Indah di panggil.
“Ibu Indah Hanjaya!!“ Seru suster “Mari bu, masuk kedalam, Dokternya sudah menunggu“ perintah suster sambil menggiring kami.
“Kakak,“ Indah menggenggam tanganku erat, tangannya terasa gemetar, aku faham, hatinya pasti sangat berkecamuk saat ini.
“Gak apa-apa, ada Kakak“ jawabku meyakinkan sambil tersenyum.
“Apa keluhannya bu??” tanya Dokter kemudian.
“Saya ingin program agar cepat hamil Dok,“ jawab Indah.
“Oh, begitu ya, sudah berapa lama menikahnya bu?” tanya dokter lagi.
“Sekitar tiga mau empat tahun Dok“ jawab Indah.
Kemudian dengan gamblang, Dokter menjelaskan syarat program hamil, lalu memeriksa tubuh Indah dengan teliti, hingga kebagian dalam melalui berbagai test.
Aku menghela napas melihat perjuangan Indah, sungguh kini kehadiran anak tengah menjadi ujian cinta mereka, aku kini tengah meraba hatiku sendiri, kira-kira jika Anwar dan Ibu mertuaku meminta hal yang sama dariku terus menerus, tetangga juga ikut mendesakku agar memiliki anak, akankah aku kembali setegar dulu?? Kala aku menikah dengan Bagas, dan aku kehilangan anak pertamaku. Tiba-tiba bulir bening jatuh begitu saja dari kedua pelupuk mataku, mengingat semua yang telah kulewati. Tapi kini aku beruntung memiliki Anwar, dan Mamah Anita yang begitu tulus menyayangiku dan mencintaiku, bahkan sampai saat ini, setelah dua tahun pernikahan kami, Anwar ataupun Mamah Anita, tidak pernah menyinggungku tentang anak, meski aku tahu merekapun pasti memiliki harapan yang sama terhadapku.
“Nah, sekarang saya sudah selesai memeriksa kesehatan Ibu Indah, dan hasilnya akan keluar dua hari kedepan, Ibu harap sabar menunggu yaa” jelas Dokter, kemudian kami hanya manggut-manggut saja.
__ADS_1
“Sebaiknya mulai dari sekarang, Ibu mencoba untuk mempertahankan berat badan normal Ibu, kemudian sekarang Ibu juga jangan terlalu lama atau terlalu sering berendam di air panas ya, lalu di usahakan Ibu juga jangan terlalu setress dalam menjalani program hamil ini, saya sarankan suami Ibu juga ikut untuk mengikuti test ini, karena percuma saja, Ibu terus melakukan test, sementara suami Ibu tidak, saya juga butuh daftar riwayat kesehatan suami Ibu, agar mempermudah semuanya“ jelas Dokter panjang lebar.
“Iya, baik Dokter, nanti akan saya usahakan untuk datang kembali bersama suami saya“ Indah menunduk, aku tahu betul hati Indah saat ini, sakit itu pasti.
“Iya, baik saya tunggu kembali kedatangannya ya bu, oh iya, dan jangan lupa, Ibu setiap hari konsumsi susu murni, buah, sayur, dan makanan sehat lainnya.“ Timpal Dokter kemudian.
Indah mengangguk “Baik Dok“
“Baik, sekarang, untuk sementara waktu, Ibu saya resepkan obat dan vitaminnya ya bu, silahkan di tebus di apotek“ Dokter menyodorkan sebuah kertas pada kami, lalu Indah mengambilnya.
“Terimakasih banyak Dok“ Aku berdiri kemudian menyalami Dokternya.
“Iya bu sama-sama, saya tunggu dua hari kedepan, untuk pengambilan testnya“ Dokterpun berdiri, kemudian menyambut tangan kami, lalu tersenyum mempersilahkan kami pulang.
“Dek, kamu gak apa-apa kan??” tanyaku pada Indah setelah keluar dari ruangan Dokter tersebut.
“Gak apa-apa Kak” Terlihat Indah menyeka air matanya.
Aku memeluk pundaknya, lalu berjalan menuju apotek, kemudian menebus obat yang tadi diresepkan Dokter. Setelah selesai, kamipun pulang menuju rumah masing-masing dengan mulut saling terkunci satu sama lain, sempat kudengar isakan tangis Indah ketika didalam mobil.
“Sobar ya dek, Kakak mengerti perasaan kamu“ Aku terus mendekap Indah, aku tau, kali ini ibu pasti tidak akan bisa dijadikan tempat berkeluh kesah, karena sedang sibuk dengan urusannya sendiri, jadi sebagai seorang Kakak, maka aku harus menguatkan adikku.
“Kakak, Indah ingin, Kak Andre bisa mengantar Indah pergi ke Dokter kandungan“ Indah masih terisak.
“Sobar, nanti juga pasti ada saatnya,“ jawabku sambil mengelus kepalanya dengan sayang.
“Kakak, Indah sudah tidak tahan lagi dengan permintaan mertua dan tetangga yang terus memojokkan Indah, karena tak kunjung hamil“
“Iya, Kakak tahu, kamu yang kuat ya,“ jawabku sambil tersenyum lembut.
Ah ... kadang orang hanya menilai kita dari apa yang mereka lihat, dan mereka dengar, mereka tidak tau apa yang sedang kita usahakan, dan apa yang sedang kita rasakan. Kebanyakan dari mereka terus menjudge orang sesuka hati, tanpa mereka sadar ada hati yang terluka karena ucapan mereka.
Bersambung, .....
__ADS_1
Hay readers, jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaa........