
Beberapa bulan kemudian ...
Aku menjalani hubunganku dengan Faisal yang begitu - begitu saja, entah kenapa hubunganku dengan Faisal kini terasa hambar dan datar. Entah apa penyebab jelasnya, tapi yang aku tau hubungan setiap insan pasti akan selalu di uji, aku yakin aku akan lebih kuat dari ini, jika dulu Faisal dengan semangat empat limanya mengejar cintaku, kini dia seolah mengulur rasanya untukku. Cintaku kini kepada Faisal sungguh tengah di uji, ah ... aku sungguh tidak menyukai hal ini.
kriiinnnggg ... kriiinnggg ... kriiinnggg ...
Suara telphon genggamku berbunyi, membuyarkan lamunanku yang tengah menerawang terbang entah ke mana.
Aku segera mengangkat telponku, setelah ku lihat yang menelponku ternyata Ibu.
"Hallo assalamu'alaikum ibu ..." Sapaku.
"Wa'alaikumsalam Jani, Kamu lagi apa Jan??" Tanya Ibu di seberang sana, suranya begitu lembut terdengar,
"Jani baru selesai shalat isya Ibu, ada apa bu??" Tanyaku,
"tidak ada apa - apa, Jani, Ibu hanya ingin tanya, gimana Faisal??" pertanyaan Ibu membuatku tertegun dan bingung.
"Gimana apanya Ibu??" Tanyaku, mencoba mengecoh Ibu.
"Kok gimana apanya sih Jan??" tanya Ibu.
"Gimana? sudah ada keputusan dari Faisal?Kapan kalian nikah?? kalian punya hubungan yang dekat sudah cukup lama lho ... mau sampai kapan kamu pacaran sama Faisal?? ingat kelamaan pacaran gak baik lho Jani" Lanjut Ibu bertanya sekaligus mengingatkan ku.
"Iya ibu, nanti Jani tanya mas Faisal ya bu, lagian Jani pacaran sama mas Faisal juga gak pernah ngapa ngapain kok bu, Ibu percaya Jani kan??"
"Iya Ibu percaya sama kamu, kamu anak ibu, bagaimana mungkin ibu tidak mempercayaimu?? tapi kamu tau Jani??Pandangan orang lain terhadap kamu akan seperti apa?? Jika kamu terus berhubungan dengan seorang pria tanpa ikatan, meski kamu tidak melanggar aturan" seketika penjelasan ibu membuatku tersadar.
"Iya ibu, nanti Jani akan diskusikan kembali dengan Faisal, Jadi sekarang ibu merestui hubungan kami kan??" Tanyaku,
"Ibu sudah tidak bisa melarangmu lagi Jani, apalagi setelah kamu menolak Andre" pernyataan Ibu seolah menyindirku,
__ADS_1
"Makasih banyak ya ibu, Jani sayang sama ibu" Jujur aku bahagia dengan kenyataan yang ku dengar dari mulut Ibu, setelah sekian lama kami berjuang menunggu restu dari Ibu, akhirnya waktu ini tiba juga. Tapi aku juga bingung hari bahagia ini tiba justru di saat hubunganku dan Faisal justru sedang tidak baik aku rasa.
"Ibu juga nak, ibu tunggu keputusan baik dari kalian ya nak" Allah itu memang maha pembolak balik hati, dulu ibu setengah mati melarang hubungan kami, sekarang ibu justru tidak sabar menunggu keputusan kami. Aneh memang.
"Iya ibu, kalau gitu Jani tutup dulu telponnya ya bu, Assalamu'alaikum ... " Pamit ku, rasanya aku sudah tidak sabar lagi ingin mengabarkan kabar bahagia ini kepada Faisal.
"Iya nak, wa'alaikumsalam"
Trut ...
Aku menutup telpon ibu, kemudian langsung mencari nomor Faisal dan langsung menekan tombol call, aku sudah tidak sabar ingin faisal segera tau tentang restu Ibu.
"Hallo Assalamualaikum, mas Faisal" Sapaku setelah Faisal mengangkat telponku.
"Wa'alaikumsalam Jani," Jawab Faisal, aku mendengar suara Faisal agak sedikit malas bicara denganku.
"Lagi apa mas??" tanyaku basa - basi, sebelum bicara pada intinya.
"Mas, besok ketemu ya, ada yang mau Jani sampaikan" Aku memutuskan untuk bicara secara langsung saja dengan Faisal, rasanya lebih afdal.
"Hem?? ada apa Jan?? Kenapa gak di omongin sekarang aja??" Terdengar suara Faisal semakin malas, entah kenapa, tapi rasanya sungguh berbeda, dulu aku tidak pernah mengajaknya bertemu duluan, tapi kini, justru malah aku yang sering menghubunginya duluan.
"Ih ... kan biar jadi kejutan" Aku masih berusaha menetralkan fikiranku.
"Ya udah besok kita ketemu ya, di tempat biasa aja" putusnya.
"Iya mas, ya udah sampe ketemu besok ya, Assalamu'alaikum" pamitku.
"Iya Jan, Wa'alaikumsalam"
Aku kembali menutup sambungan telponku setelah Faisal menutup telponnya. Aku tidak sabar ingin segera bertemu dengan hari esok, aku segera memeluk bantal guling dan terlelap tidur menemui mimpi indahku.
__ADS_1
Ke esokan harinya ....
Setelah tiba di kaffe yang di janjikan Faisal, akhirnya kami bertemu, rasanya jantungku berdegup kencang, khayalanku sudah di atas angan, aku menghayalkan akan segera menikah dengan Faisal, setelah perjuangan panjang yang kita lalui, akhirnya aku akan menggapai anganku, menikah dengan orang yang kita cintai, siapa yang tidak bahagia dengan hal itu??.
"Mas Faisal udah lama??" Sapaku setelah duduk di hadapannya, Wajahku hari ini sangat sumringah, berbeda dengan wajah Faisal yang agak murung, yang aku sendiri tidak tau penyebabnya.
"Belum Jan," Jawab Faisal dengan wajah di tekuk, sambil terus mainin handphonenya.
"Mas, kamu kenapa?? kok kaya murung gitu sih??" Tanyaku yang tak bisa lagi menyembunyikan rasa heranku.
"Gak apa apa Jan," Jawabnya masih dengan wajah kusut dan tak memalingkan wajahnya dari handphonenya.
"Kamu, bohong ya sama aku?? kamu kenapa hem? ayo cerita sama aku?" Tanyaku sambil menatap lekat Faisal.
"Gak apa - apa Jani" Jawab Faisal dengan meninggikan suaranya, sontak aku kaget, untuk pertama kalinya Faisal berani meninggikan suaranya di hadapanku,
seketika emosiku muncul begitu saja, dan tak bisa membendung kekesalanku pada sikap dingin Faisal ahir - ahir ini, meski aku datang untuk membawa kabar yang menurutku bahagia, tapi aku sungguh membenci sikapnya kali ini, dia bahkan tidak bertanya tentang apa yang ingin aku sampaikan.
"Mas, kamu dengerin aku gak sih?? aku lagi ngomong sama kamu lho, kamu kok asyik terus main handphone sih?? kamu chatingan sama siapa sih??" Aku sudah tak lagi bisa mengontrol diriku, seketika aku merebut handphone Faisal, tapi dengan cepat Faisal merebut handphonenya kembali, hingga terjadilah rebut - rebutan handphone, hingga pada akhirnya.
Brrraaaakkkkkkk ...
Handphone Faisal jatuh hingga berantakan, terlihat layar handphonenya pecah, Faisal membelalakan matanya dan menatapku tajam, Aku tertunduk sambil menutup mulutku, tak menyangka akan ada adegan seperti ini dan berakhir cukup mengagetkanku.
"Anjani ..." Faisal membentakku, sambil memunguti handphonenya yang sudah tercerai berai.
Seketika aku kaget setengah mati, ya ... Faisal membentakku, aku membencinya dan sangat membencinya, seketika aku melihat bayangan buram di mana Ayah pernah membentak Ibu di malam sebelum Ayah pergi. Aku sangat membenci Faisal. Sangat . Sangat.
Aku pergi berlari ke luar kaffe tanpa menghiraukan Faisal lagi. Meski samar aku mendengar Faisal memanggil namaku. Aku tidak peduli lagi.
Bersambung................
__ADS_1
Jangan lupa like, komen bintang lima dan vote nya ya readers yang paling author kasihi, author tunggu yaaaa....makasih.............