KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Takdir


__ADS_3

Perjalanan kehidupan manusia tidaklah selalu sesuai dengan yang diharapkan, terkadang seorang manusia harus melewati jalan terjal setelah beberapa waktu menikmati jalan yang landai. Hari-harinya pun penuh warna, terkadang gembira namun sewaktu-waktu ia dihampiri rasa sedih, duka dan nestapa, inilah tabiat kehidupan. Tak ada yang dapat mengelak dari kenyataan ini.


Di antara kesedihan yang banyak menimpa manusia adalah kondisi dimana seseorang mendapatkan sesuatu yang tidak diharapkannya. Banyak orang yang berusaha menggapai sesuatu yang kelihatannya baik, ia mati-matian mendapatkannya dan mengorbankan apapun yang ia miliki demi terwujudnya impian itu. Tetapi tanpa disadari hal itu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Ketika hal seperti ini terjadi, tak sedikit orang yang menyalahkan pihak lain, bahkan Allah, Rabb yang mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya pun tak luput untuk di salahkan.


Tok ... tok ... tok ...


Aku mengetuk pintu setibanya di rumah,


"Assalamu'alaikum ibu ..." Dengan tangan gemetar aku terus mengetuk pintu di hadapanku, antara dinginnya hatiku dan dinginnya air hujan yang mengguyur seluruh tubuhku berpadu jadi satu. Aku lelah sangat lelah.


Ceklek ...


Pintu di buka


"Loh Jani?? kamu kenapa nak?? kamu gak kerja?? kenapa kamu ujan - ujanan?? ayo masuk dulu nak" Ibu begitu kaget melihat kondisiku kini, penampilanku kini begitu acak - acakkan, tubuhku basah kuyup, sambil menenteng tas yang cukup besar, yang di penuhi barang - barangku. Ibu menuntunku masuk ke dalam rumah, dan mendudukkan aku di kursi.

__ADS_1


"Kamu duduk dulu, ibu ambilin handuk dan bikinin teh hangat buat kamu ya" Ibu pergi beranjak meninggalkanku sendirian di ruang tengah, hujan masih belum reda, sesekali petir masih terus menyambar - nyambar. Segala bayangan suara bu Novi yang membentakku terus terngiang di telingaku. Mengalahkan suara petir di luaran sana.  Aku menyenderkan punggungku di kursi, dan memejamkan mataku. Aku tidak bisa menerima kenyataan ini, aku seolah ingin menghindari takdirku kini.


"Nak, ini minum dulu, teh hangatnya" Ibu datang menyodorkan teh hangat kepadaku. Aku mengambilnya dan meminumnya dengan tatapan kosong, tanpa ku sadari ibu terus mengelap tubuhku dengan handuk dengan begitu telaten. Aku hanya terus terdiam. Air mataku tak lagi menetes aku hanya terus memandang ke segala arah dengan tatapan hampa.


"Anjani, ayo cerita sama Ibu, kamu kenapa nak?? kenapa kamu diam terus??" Tanya ibu lagi, sambil mengelus rambutku.


"Ibu, Anjani di pecat dari kantor" Jawabku, Yang membuat Ibu membulatkan matanya sempurna.


"Apa???!!!!! Kenapa kamu sampai di pecat nak?? Kamu bikin salah apa??" Tanya ibu dengan segala kecemasannya.


"Anjani di fitnah Ibu, Jani di fitnah korupsi uang kantor, demi Allah ibu, Jani tidak pernah melakukannya" Suaraku mulai meninggi, aku menjelaskan alasan aku di pecat dari kantor, tapi anehnya air mataku kini malah sulit untuk menetes, hanya rasa sesak dan berat yang bersarang di dadaku. Ibu memelukku erat.


"Suatu hari nanti, kejadian seperti ini akan terjadi ibu, jodoh, maut, rezeki, sudah di tuliskan Allah di lauhil mahfudz jauh sebelum kita terlahir ke dunia ini, hanya saja mungkin caranya saja yang membuat Jani shock dan merasa tidak siap menghadapi semua ini ibu, Insya Allah Jani bisa melewati semua ini" Aku tersenyum sambil menatap ibu lekat. Aku berusaha menenangkan hati ibu, aku tidak ingin melihat ibu sedih berlarut - larut.


"Tentu saja kamu bisa melewati semua ini, kamu anak ibu Jani," Ibu terus memelukku, dan menangis, aku membalas dekapan ibu, tapi aku sudah tidak bisa menangis. Mungkin karena air mataku sudah habis.

__ADS_1


***


Semenjak kejadian itu, aku memutuskan untuk tinggal di rumah saja, menjadi seorang pengangguran, dan menikmati waktuku yang selama ini sudah hilang begitu saja dari hidupku.


Namun, meskipun aku menjadi seorang pengangguran, tapi aku masih bisa agak sedikit tenang menjalani hidup ku sebagai seorang pengangguran. Kenapa?? Karena aku sudah memiliki cukup tabungan untuk menunjang hidupku sementara waktu.


Selama bekerja, sedikit demi sedikit aku menyisihkan sisa uang gajiku untuk membeli sebidang tanah, yang kini aku kontrakkan kepada para petani, dengan di bayar pertahun, aku juga menyimpan sedikit demi sedikit uangku, dan menyimpannya di beberapa usaha kecil - kecilan temanku, dan toko kue yang sebelumnya di kelola ibu pun adalah milikku, karena aku pemilik modalnya.


Aku mulai membantu ibu membuat kue dan mendagangkan kue - kue yang di buat oleh ibu, baik secara offline, maupun secara online, selain aku menjadi memiliki kegiatan, aku juga bisa menambah pengalaman dan ya hasil dari dagang kue juga bisa menambah pundi - pundi penghasilanku. Semua itu yang menjadi sumber penghasilanku kini. Kini aku bisa merasakan hasil dari jerih payahku sendiri, aku bisa merasakan hasil dari aku berhemat setengah mati dulu.


Ingat kan ada pepatah yang mengatakan "Berakit - rakit ke hulu, berenang - renang ke tepian" Sekarang aku bisa menikmati hasil dari perjuanganku dulu. Di sela - sela kejenuhanku, kini aku mulai menghubungi sahabat - sahabatku dulu, aku mulai menghubungi Aliya dan Rani, orang yang ku anggap sebagai sahabat baikku, yang sempat aku lupakan berkat kesibukanku ketika bekerja, aku jarang merespon jalinan silaturahmi yang coba mereka bangun dengan alasan aku sangat sibuk bekerja, karena aku pun tak jarang harus lembur kerja kala itu, aku mulai mengunjungi tempat - tempat yang dari dulu ingin aku kunjungi. Aku mulai bisa mengunjungi acara keluarga yang sebelumnya sama sekali tidak bisa aku hadiri.


Sungguh aku sangat menikmati waktuku kini. Aku mencoba melupakan semua kejadian pahit yang sebelumnya menimpaku, Aku begitu bersyukur, dan bahagia.


Bersambung......................

__ADS_1


Readers juga, kalau sekarang lagi pada punya penghasilan jangan lupa nabung yaaaaa,,,hhheee.....


Jangan lupa Like, komen, Bintang lima, Dan vote sebanyak banyak nya ya readers........


__ADS_2