
Anwar POV.
Setiap manusia tidak ada yang dilahirkan sempurna, termasuk aku, aku memiliki segudang kekurangan dan kesalahan, satu kesalahn fatal yang pernah kulakukan, membuat hidup orang yang paling kucintai menderita.
Suatu hari, ketika aku berusia genap dua puluh lima tahun, aku pergi dari rumah yang selama ini mengurungku, yah kedua orangtuaku mengurungku di dalam rumah, karena insiden penculikanku dimasa kecil, kejadian itu membuat mereka trauma, dan menjadi over protectif padaku, hingga mereka terkesan sangat berlebihan memperlakukan aku. Dan pada akhirnya kedua kakakku menjadi cemburu atas perlakuan kedua orangtuaku, sementara itu, insiden penculikan itu, masih lekat dalam ingatanku, betapa ketika aku disiksa, bahkan hampir dibunuh, hingga menimbulkan trauma hebat dihidupku, sekian lama aku merasa takut ketika harus bertemu orang asing, tubuhku akan menggigil, dan gemetaran, dokter bilang aku mengidap gangguan panik, dan bipolar akut.
Suatu hari ketika kedua Kakakku menakutiku, aku segera pergi dari rumah begitu ada kesempatan, dengan pakaian yang dipakaikan oleh mereka, mereka sungguh suka sekali memanfaatkan sakitku. Yang selalu ketakutan dan menuruti perintah mereka, ketika Mamah dan Papah tidak ada dirumah.
Aku memasuki salah satu mobil, yang dikendarai oleh salah satu pegawai Papah, tanpa tahu arah dan tujuannya, aku hanya terdiam saja, hingga pegawai itu menyadari keberadaanku, dan bertanya padaku, tentang maksud dan tujuanku.
Kuutarakan maksud dan tujuanku, aku ingin menghindari penyiksaan kedua Kakak tiriku yang kejam, dan selalu mengingatkanku pada masa laluku, hingga traumaku tak kunjung sembuh.
Pegawai tersebut menyetujui keinginanku, hingga dia memasukkanku ke salah satu kantor papahku, dia bilang aku bisa menyamar jadi OB. Ah, baiklah, disini hanya pegawai itu dan Direktur kantor ini saja yang tahu, karena sebagian besar karyawan disini tidak mengenalku, karena aku jarang dikenalkan pada mereka, akibat aku selalu dikurung.
Ku edarkan pandanganku pada kantor ini, kantor cabang yang cukup kecil, tapi aku tahu, kantor Papah tidak bisa disebut kantor abal-abal, semua karyawannya pasti berkualitas, aku memasuki kantor ini, perlahan aku mulai berjalan ...
Deg!
Pandanganku tertuju pada seorang perempuan cantik yang kini ada didepanku, dia begitu terlihat ayu, dan pandangannya meneduhkan. Aku menyukainya.
Bahkan ketika aku datang, dialah satu-satunya manusia yang bisa memperlakukanku dengan sangat baik, dengan begitu lembut, dan penuh kasih sayang. Aku semakin mengaguminya.
__ADS_1
Dia tidak malu, ketika harus menemaniku yang berpenampilan norak, bahkan dia tidak marah, karena ketika gugup aku bisa saja melakukan hal yang fatal. Dia hanya tersenyum dan membelaku, namanya Anjani, bu Anjani, aku selalu tersenyum ketika menggumamkan namanya, dia seperti malaikat tak bersayap yang dikirim Allah, untuk menjagaku. Dia mengingatkanku pada kasih sayang Mamah, yang selama ini aku lupakan, bahkan ketika aku melakukan segala kekonyolan, dia hanya akan tersenyum, lalu berbicara dengan lembut padaku. Aku tak bisa membendung rasaku, bahkan ketika aku sudah pulang kerumah, aku tidak bisa melupakan sosoknya, aku hanya terus berusaha untuk sembuh dari rasa traumaku, aku mencoba untuk tidak panik lagi ketika bertemu dengan orang asing, ku bayangkan orang asing itu adalah Anjaniku, hingga aku tidak lagi merasa takut ketika bertemu dengan mereka.
Waktu berlalu, aku hampir sembuh, aku sudah bisa mengendalikan emosiku dengan baik, aku ingin menemuinya, aku ingin mengutarakan isi hatiku padanya, tapi, nahas, aku menemukan dia sudah dimiliki pria lain, aku begitu marah, ketika melihatnya makan bersama seorang pria, dan tertawa bersama, yang ku ketahui namanya Faisal, aku tau dia bukan pria baik, pria dengan masa lalu yang begitu kelam, beraninya mendekati wanitaku.
Hingga pada suatu hari, aku tahu mengenai informasi Faisal, bahwasannya dia memiliki mantan kekasih, yang kini melamar bekerja di perusahaan papahku, dia bekerja sama dengan Anjani, Anjaniku yang baik, dia selalu menemani wanita murahan itu, tanpa rasa risi.
Kutawarkan sebuah penawaran menarik pada Tiara, terpaksa kulakukan itu, hanya karena ingin melindungi Anjani dari pria yang tidak baik itu.
“Tiara, kamu Tiarakan??” tanyaku pada perempuan dihadapanku.
“I iya, betul pak“ jawabnya sambil menunduk.
“Baik, tidak perlu basa-basi lagi, saya ingin mengajukan sebuah penawaran menarik untukmu, bagaimana?” tanyaku, sambil menatapnya.
“Jauhkan Anjani dan Faisal!!“ tegasku.
“Ma maksudnya pak? saya tidak bisa pak,“ jawabnya menunduk.
“Saya akan memberikan kompensasi yang setimpal untukmu“ tawarku.
“Ta tapi pak“ sanggahnya.
__ADS_1
“Bukankah kamu sangat mencintai Faisal??” tanyaku, yang membuatnya terkejut.
“I iya“ jawabnya gugup.
“Baik, lima ratus juta, itu kompensasi untukmu, kamu setuju bukan??” Ku ajukan uang yang cukup banyak pada wanita murahan dihadapanku, aku tahu, dia sudah ditiduri banyak lelaki, jadi uang yang kutawarkan jelas sangat menggiurkan untuknya.
“Baik pak, saya setuju“ tanpa fikir panjang, Tiara mengambil cek yang kusodorkan.
“Saya suka bekerja sama dengan perempuan selicik kamu“ senyum jahatku mengembang sempurna, Tiara pergi dari ruanganku dengan segala misinya.
Tak lama berselang, kudengar Anjani di pecat dari kantorku, karena kasus korupsi, aku tahu itu tidak benar, dan tak lama kulihat, undangan pernikahan Tiara dan Faisal sudah dibagikan, aku tersenyum “Benar-benar sejoli, calon neraka!!” umpatku dalam hati.
Kubiarkan suasana mereda, aku tahu, kini Anjani pasti sedang mengalami masa sulitnya, sementara aku hanya akan memperhatikannya di kejauhan saja, aku tersenyum ketika melihatnya begitu tegar menjalani hidupnya, dia beraktifitas seperti biasanya, dengan bibir menyunggingkan seulas senyum.
Aku semakin mencintaimu, tapi nyaliku selalu saja menciut, aku takut kamu tidak menerima cintaku, kadang penyakitku bisa membuatku menjadi seorang pecundang.
Anjani, aku melihat seluruh aktifitasmu dari kejauhan, aku melihatmu bertemu dengan sahabatmu, aku juga melihatmu ketika bertemu dengan seorang pria, dan tak lama aku melihatmu melihat pria itu sedang bersama adikmu, aku sering mengikutimu, dan memfoto semua flat nomor taksi online yang membawamu pergi. Hanya itu yang bisa kulakukan.
Anjani, sering aku bertanya, hatimu itu terbuat dari apa?? Hingga kamu kuat menghadapi semua kondisi yang menyerangmu.
Suatu hari aku ditugaskan untuk mengurus perusahaan Papah di Palembang untuk enam bulan kedepan, sesungguhnya aku tidak mau, aku takut kehilangan jejak Anjani, tapi, aku juga tidak bisa menyerahkan perusahaan yang sudah diberikan Papah padaku pada ke dua Kakak tiriku, akhirnya aku berangkat ke Palembang, selama enam bulan disana, sungguh membuat hatiku berkecamuk, tidak karuan, Anjani, tiada hari, tiada malam tanpa kehadiranmu dalam benakku, nanti ketika aku kembali, semoga kamu sudah bisa menerimaku. Aku mohon, lihat aku, Anwar yang sangat peduli padamu, aku mohon terima aku sebagai pendampingmu.
__ADS_1
Bersambung..................
Readers, jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaaa.......