KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Cemburu


__ADS_3

“Loh?? Anjani 'kan???” tanya pria itu membuat ku kaget, dan langsung menatapnya dengan lekat.


“Siapa dia?? Kamu kenal??” tanya Bagas sambil menggenggam tanganku.


“Anwar??? Iya kamu  Anwar 'kan???” tanyaku tak percaya.


“Iya Anjani apa kabar??” tanya orang yang baru saja ku tabrak.


“Ba baik, kamu??” jawabku gelagapan, aku tak menyangka akan bisa bertemu lagi dengan Anwar di tempat ini, ada banyak hal yang berubah darinya, iya sekarang dia terlihat jauh lebih tegap, lebih tampan dan terawat, kata-katanya juga menunjukkan jika dia pria normal.


Bukan Anwar yang cupu dan memakai celana cutbrai lagi, bukan juga Anwar yang selalu menunduk dan gagap ketika bicara, aku sangat terkesima dengan penampilannya sekarang, wajahnya sangat tegas dan berwibawa.


“Kamu kemana aja Jan?? Aku nyari kamu di kantor, tapi katanya kamu sudah keluar kerja ya??” tanya Anwar menatapku seolah ada kerinduan di sana.


“Iya, aku udah keluar kerja, udah lumayan lama, Anwar kenapa ada di sini??” tanyaku heran, sesungguhnya ada banyak pertanyaan di benakku untuk Anwar, tapi aku bingung harus memulainya dari mana??.


“Ekheeemmmmm ...” tiba-tiba saja Bagas berdehem, ah, aku melupakan suamiku sendiri saking kagetnya bisa bertemu Anwar kembali.


“Ah, iya Anwar, kenalin ini Mas Bagas suami aku“ Aku mencoba mengenalkan mereka.


“Kamu sudah menikah Jan??” tanya Anwar, terlihat raut wajahnya yang menunjukkan rasa kaget bercampur kecewanya, dan Anwar memilih untuk tidak menyapa Bagas sama sekali, yang dari tadi sudah terlihat jengkel dengan obrolan kami.


“Iya, belum lama kok“ jawabku.


“Sayang ayo kita pulang, udah mau malam“ tiba-tiba Bagas merangkul pinggangku, yang membuatku kaget.

__ADS_1


“I iya, ayo“ jawabku gagap, aku masih shock atas pertemuanku dengan Anwar.


“Anwar, kalau gitu aku pulang duluan ya, nanti kita ketemu lagi“ Aku berpamitan pada Anwar.


“Oh, iya“ jawab Anwar ketus sambil melirik pada Bagas.


“Assalamu’alaikum“ Aku tersenyum pada Anwar, tapi Anwar malah memalingkan wajahnya entah kenapa.


Bagas menggandeng tanganku, kami berjalan kembali bersama, di sepanjang jalan kami hanya terdiam, aku melihat Bagas kini sudah kembali pada tabiat awalnya, dia diam, kaku, dan dingin. Aku hanya bisa terdiam, tidak tau apa yang harus ku lakukan.


‘mungkin aku sudah bangun dari tidurku‘ gumamku dalam hati.


Setibanya di rumah, Bagas langsung masuk kamar mandi dan membersihkan dirinya, aku menyiapkan baju ganti untuk Bagas. Entah apa yang harus ku lakukan sekarang, jika aku tidak salah mengartikan, apakah mungkin  kini Bagas tengah cemburu?? Ah, tapi bagaimana mungkin??? Bagas 'kan penyuka sesama. Hatiku terus berkecamuk penuh dengan ketidak jelasan.


Setelah Bagas selesai mandi, dia masuk kamar, dia hanya menoleh padaku sekilas, kemudian mengambil pakaian gantinya sendiri, tanpa mempedulikan baju ganti yang sudah ku siapkan. Lagi-lagi aku bingung, jika aku bertanya takut Bagas malah marah, mengingat moodnya yang tidak bagus, mau tidak bertanya aku penasaran dengan perubahan sikapnya, akhirnya aku memutuskan untuk diam saja, aku pun masuk ke dalam kamar mandi, dan membersihkan diri.


“Kamu itu kenapa?? Kamu lupa dengan ucapan kamu tadi di kaffe?? Hatimu


terlalu mudah berubah-ubah“ gumamku lirih.


“Siapa pria tadi??” tiba-tiba Bagas membalikkan badannya dan menatapku tajam.


“Anwar” jawabku datar.


“Iya, aku tau nama pria itu Anwar, dia siapanya kamu??” Bagas kini sudah meninggikan suaranya.

__ADS_1


“Dia temen aku waktu kerja dulu“ jawabku sekenanya.


“Yakin, cuman temen aja?? “ tanyanya.


“Yakin“ jawabku penuh keyakinan.


“Anwar bukan mantan kamu 'kan??” Bagas mulai kepo dengan sosok Anwar.


“Bukan“ jawabanku sudah seperti jawaban Bagas dulu ketika aku bertanya padanya, entah kenapa, tapi aku sudah tidak semangat lagi meladeninya berdebat.


“Jan, kamu kenapa?? Jawaban kamu singkat banget??” tanya Bagas dengan pandangan menyelidik.


“gak apa-apa“ jawabku.


“Kamu suka sama Anwar ya?? Anwar mantan kamu yang sulit kamu lupakan itu ya??” tanya Bagas beruntun.


“Bukan,“ jawabku masih malas.


“Kamu, jangan berhubungan dengan pria itu lagi Jan, aku tidak suka“ seketika permintaan Bagas membuatku ingin tersenyum, tapi aku masih menyembunyikan senyumku.


“Iya“ jawabku masih ingin bersikap dingin pada Bagas, padahal hatiku senang luar biasa, suamiku sangat perhatian, dia memintaku untuk tidak berdekatan dengan pria lain, itu artinya suamiku benar-benar cemburu, iya kan??? Dan itu artinya suamiku sudah mulai mencintaiku kan??.


Aku harus apa?? Aku sangat bahagia hari ini.


Bersambung ...........

__ADS_1


Jangan lupa terus dukung author ya readers, jangan lupa like, komen, star five, dan vote nya....makasih....


__ADS_2