
Indah POV
Betapa unik perkara jodoh, kadang ketika kita mencintai seseorang, tapi orangtua tidak merestui, maka kita tidak jadi menikah, ada pula, kadang kita tidak saling mencintai, tapi Allah segera mempersatukan kita, dan ada pula yang sama-sama saling mencitai, bisa menikah, tapi pernikahannya tak luput dari ujian, seperti aku.
Yah, aku menikahi Andre, awalnya bukan karena aku sangat mencintainya, melainkan awalnya karena rasa iri, dan rasa cemburuku pada kak Anjani. Kak Anjani yang hidupnya selalu di elu-elukan, dan di anggap sempurna, sementara aku?? Aku tidak pernah mendapatkan apapun yang kuinginkan, kecuali menikahi Andre.
Kini, aku merasakan pahitnya pernikahanku bersama Andre, yah meskipun seiring berjalannya waktu, kami jadi saling mencintai satu sama lain, tapi tetap saja, entah kenapa aku merasa kini hubungan ini menjadi hambar, hingga dia menuntutku untuk memiliki anak, di tambah dorongan Ibu mertua, dan sanak sodara lainnya, yang ketika bertemu tak luput dari pertanyaan “Belum ngisi juga??” hingga aku lelah mendengarnya, ingin rasanya aku teriakkan pada mereka “Perempuan mana yang tidak ingin menjadi perempuan seutuhnya?? Memiliki suami yang baik, anak yang sehat, dan rizky yang melimpah, di tambah keharmonisan rumah tangga, aku yakin itu adalah impian setiap insan yang menapaki bumi ini.”
Tapi, apa daya?? Allah belum mentakdirkannya padaku, meski aku sudah berupaya sebisaku.
Hingga pada suatu hari, kuputuskan untuk memeriksakan segalanya pada Dokter, bersama Kakak, yang dulu pernah kubenci, aku memeriksakan diriku, setelah melewati berbagai test dengan setiap rasa sakit karena jarum suntik yang menusuk setiap kulitku, aku berusaha sobar dalam ikhtiarku.
Hingga dua hari kemudian, tibalah saatnya untukku mengambil hasil test di klinik yang sama,
Kuputuskan untuk mengambil hasil test tersebut sendirian, aku tidak ingin orang orang menaruh rasa iba terhadapku.
“Permisi Mbak“ sapaku pada resepsionis.
“Iya bu, ada yang bisa dibantu?” balas resepsionis ramah.
“Iya Mbak, saya sebelumnya sudah ada janji dengan Dokter Puspita untuk mengambil hasil test“ jelasku.
“Oh, begitu ya bu, baik, mohon ditunggu sebentar ya bu“ jawabnya sambil mengecek komputer.
“Dengan Ibu siapa kalau boleh tau?” tanyanya lagi.
“Indah Hanjaya“ jawabku.
“Baik, sebentar ya Bu“ lagi, Resepsionist mengecek komputer di hadapannya.
“Iya, data Ibu sudah terdaftar di komputer saya, saya akan menghubungi dulu Dokter Puspita untuk komfirmasi ya Mbak, nanti Mbak saya panggil lagi, silahkan ditunggu“ perintah Resepsionis, sambil menunjukkan tangannya pada kusi tunggu.
__ADS_1
“Baik,“ jawabku, seraya beranjak duduk menunggu.
Sambil menunggu panggilan dari Resepsionist, ku edarkan pandanganku, kulihat ada banyak pasangan Ibu hamil di temani suaminya, aku iri pada mereka, kini kenapa aku harus sendirian di tempat ini?? Selang beberapa menit, namaku dipanggil “Ibu Indah Hanjaya!!“
Aku bangkit, kemudian menghampiri resepsionist yang tadi.
“Silahkan masuk ke ruangan Dokter Puspita bu, sudah di tunggu“ resepsionis berjalan mendahuluiku, kemudian membukakan pintu untukku.
“Silahkan bu“ katanya sambil menunjukkan tangannya.
“Makasih,“ jawabku sambil tersenyum.
“Siang Dok,“ sapaku pada Dokter.
“Siang bu Indah, silahkan duduk“ balas Dokter Puspita tidak mengurangi keramahannya, sambil menunjukkan kursi di hadapannya.
“Terimakasih Dok, jadi bagaimana hasil test kesehatan saya Dok??” tanyaku tanpa basa-basi lagi.
“Iya Dok,“ jawabku lesu.
“Saya sangat menyayangkan keadaan ini bu, harusnya pasangan suami istri itu saling mendukung satu sama lain, harusnya suami Ibu juga datang hari ini untuk mendengar penjelasan saya,“ terlihat raut kecewa dari wajah Dokter Puspita, tapi apa dayaku?? Kak Andre selalu sibuk dengan segudang pekerjaannya.
“Maaf Dok, suami saya sedang sibuk bekerja akhir akhir ini“ jawabku merunduk.
“Baiklah, begini Ibu Indah, ada yang harus saya jelaskan mengenai kesehatan Ibu, meninjau dari hasil test kemarin“ Dokter Puspita mulai menjelaskan.
“Iya, silahkan Dok“ jawabku dengan tangan gemetar, aku sungguh takut menerima kenyataan jika aku divonis hal yang tidak kuinginkan.
“Baik bu Indah, sebelumnya saya mohon maaf, karena harus mengatakan kejujuran ini“ Dokter Puspita terlihat ragu.
“Gak apa-apa Dok, silahkan katakan, apapun kenyataan yang akan dikatakan oleh Dokter, pasti akan saya terima“ Aku berusaha menetralisir perasaanku.
__ADS_1
“Iya, baik jadi begini Bu, salah satu penyebab Ibu belum bisa memiliki momongan adalah karena adanya kelainan pada rahim atau terdapat gangguan pada mulut rahim Ibu, yang dipicu oleh sumbatan pada leher rahim, serta lendir pada mulut rahim yang tidak normal, sehingga menyebabkan lendir menjadi terlalu kental, atau terlalu cair, yang mengakibatkan ****** terhambat menuju rahim, selain itu bentuk mulut rahim yang tidak normal pun dapat mengganggu perjalanan ****** menuju rahim,“ jelas Dokter Puspita panjang lebar, seketika lututku lemas, bagaimana mungkin aku memiliki penyakit seperti itu, jadi selama ini, masalahnya ada pada diriku sendiri.
“La lalu, bagaimana cara penyembuhannya Dok??” tanyaku terbata suaraku kian bergetar.
“Untuk mengatasi permasalahan dimulut rahim ini, kita bisa melakukan pengobatan secara rutin dan teratur, nah jika untuk pengobatan yang berkaitan dengan bentuk mulut rahim yang memang sudah tidak sempurna harus dilakukan pembedahan atau oprasi, agar mulut rahim dapat berfungsi dengan normal sebagai jalur ****** menuju rahim“ jelas Dokter Puspita yang membuat hatiku bergemuruh kian kencang.
“Ba baik Dok, akan saya fikirkan“ jawabku sambil mencengkram erat rok yang kugunakan.
“Saya harap, Ibu segera memutuskannya, agar Ibu segera mendapatkan pertolongan“ jelas Dokter Puspita lagi, menegaskan.
“Ba baik Dok, secepatnya saya akan mengambil keputusan dan segera mengabari Dokter kembali, sekarang saya harus merundingkan dulu semua ini dengan keluarga saya“ sungguh hatiku sangat gentar menghadapi kenyataan ini.
“Baik, saya tunggu keputusan Ibu secepatnya ya bu, saya takut penyakit Ibu akan semakin bertambah jika tidak segera ditangani“ Dokter Puspita terus menekankan pendapatnya padaku.
“Baik, jika seperti itu, saya permisi dulu ya Dok,“ tanganku kian bergetar ketika menjabat tangan Dokter Puspita.
“Iya, silahkan Ibu Indah, saya tunggu kembali keputusan baiknya“ Dokter Puspita melepaskan jabatan tangannya dariku, kemudian mempersilahkan aku keluar dari ruangannya.
‘Ya Allah, sekarang apa yang harus kulakukan?? Harus kukatakan pada siapa keluh kesahku kali ini?? Aku sungguh takut ya Allah, aku sungguh takut menerima keadaan ini‘ lirihku dalam hati.
‘Kak Andre, Kakak dimana?? Aku butuh Kakak sekarang, aku takut Kakak‘
‘Kak Jani, tolong aku, maafkan kesalahanku, apa Kakak mengutukku sekarang?? Hingga aku menderita seperti ini?? Bukankah Kakak sudah bahagia sekarang?? Tolong aku Kakak‘
‘Ayah, ibu, tolong Indah, Indah takut‘
Lirih, hatiku berteriak sekuat tenaga, ‘Ya Allah tolong aku ...’
Bersambung.................
Readers, jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaaa.....
__ADS_1