
“Apa kamu kehabisan alasan sekarang?” tanyanya lagi, dengan nada menekan.
Aku tetap diam, percuma menjelaskan apapun pada Anwar sekarang, aku menggigit bibir bawahku, menahan rasa sakit yang sudah menjalar di area perutku.
Air mataku luruh di pipi, bukan hanya karena sakit menahan sakit, tapi juga karena sakit menahan tuduhan Anwar, dia tidak mempercayaiku.
“Hhhhh ...” Kudengar Anwar mendesah, kemudian melirikku.
“Astagfirullah“ Dia mengusap wajahnya, kemudian merangkulku.
“Maafkan aku, aku terlalu berlebihan“ pintanya, penuh penyesalan.
Aku hanya terdiam, sambil kembali merasakan sakit di perutku.
“Maaf, maafkan aku, aku yang salah“ Anwar masih mendekapku.
Kurasakan hangatnya pelukan suamiku, tubuh harumnya, aku sangat menyukainya, ku pejamkan mata, hingga aku tertidur dengan rasa sakit di bahunya.
“Jan, kita udah sampai di rumah“ terdengar Anwar berbisik di telingaku, aku mengerjapkan mata, lalu mencoba berdiri.
“Awwww ...” rasa sakit itu, masih ada, dan kembali terasa.
“Kamu kenapa?? Sakit lagi??” tanyanya lembut.
“Hmmhh ...” jawabku sambil mengangguk, dengan air mata yang mulai menetes.
“Baiklah, aku akan memangkumu hingga kamar“ Anwar memangku tubuhku, hingga masuk kedalam rumah.
“Apa kau merasa sakit hati?? Maafkan aku, aku tidak sengaja, aku terlalu cemburu“ berkali dia meminta maaf.
“Hmhh“ jawabku sambil memejamkan mata.
“Baiklah, sekarang berbaringlah dulu, aku akan membuatkan susu untukmu“ Anwar beranjak lalu pergi menuju dapur, sementara aku membenahi posisiku dengan banyak bantal di kepalaku, rasanya begitu tidak enak.
‘Apa kau marah pada Ayahmu?? Karena dia sudah membentak Ibu?? Ck, anak pintar, kau juga bisa membela Ibumu‘ Aku tersenyum
mengelus perutku, entahlah, baik aku ataupun Anwar jadi sangat senang berbicara dengan perutku, meskipun tidak ada respon sama sekali.
“Maafkan Ayah, Ayah tidak sengaja“ Anwar datang dengan segelas susu Ibu hamil, lalu memberikannya padaku, aku segera meminumnya, lalu memberikan gelasnya kembali pada Anwar, Anwar duduk di
sampingku, setelah meletakkan gelas di atas nakas.
Ting ... tong ... ting ... tong ...
Suara bel berbunyi nyaring,
“Siapa??” Aku menatap Anwar, yang juga tengah menatapku.
“Gak tahu, biar aku cek ya“ Anwar berdiri, kemudian berlalu menuju pintu depan, setelah melihat anggukanku.
“Silahkan masuk“ samar terdengar suara Anwar.
“Jan, itu ART barunya udah dateng“ Anwar muncul dari balik pintu, memberi tahuku, jika ART yang Anwar pesan beberapa hari yang
lalu sudah datang.
“Oh, iya“ jawabku sambil berusaha berdiri.
__ADS_1
“Assalamu’alaikum bu“ seorang perempuan paruh baya menyodorkan tangannya padaku, mengajak berjabat tangan.
“Wa’alaikumsalam, Ibu namanya siapa??” tanyaku ramah.
“Nama saya Lastri bu“ jawabnya mengangguk ramah.
“Oh, baik, semoga Ibu betah kerja disini ya“ Aku tersenyum padanya, aku yakin usia bu Lastri pasti jauh lebih muda dari usia Ibuku.
“Baik terimakasih bu“ jawabnya mengangguk.
“Bu Lastri kamarnya disana ya, di samping kamar kami“ Aku menunjukkan kamar kosong di samping kiri kamarku.
“Ah, masa di sana bu, gak di kamar belakang aja bu??” tanyanya ragu.
“Gak, mulai sekarang Ibu juga keluarga saya, Ibu boleh tidur di sana, jangan sungkan, kalau ada apa-apa, Ibu bilang aja sama Jani ya“ Aku mencoba mendekatkan diri pada perempuan yang terkesan segan itu, aku tidak ingin memiliki jarak dengan siapapun, apalagi bu Lastri ini akan bekerja siang dan malam untukku.
“Ah, baik, terimakasih banyak ya bu“ jawabnya menunduk.
“Sama-sama, Ibu istirahata aja dulu, beres-beres ya“ perintahku, sambil berlalu menuju ruang tv, di ikuti Anwar.
“Jan, kamu suka sama bu Lastri??” tanyanya.
“Gak tahu,kan baru ketemu“ jawabku, sambil
menyalakan tv.
“Baiklah, jika kamu merasa tidak nyaman, kamu bilang aku ya“.
“Iya“ jawabku sambil merebahkan tubuh di dada bidang suamiku, rasanya hari ini begitu melelahkan.
Ke esokan harinya, aku kembali datang ke rumah sakit, untuk memeriksakan kandunganku.
“Harusnya dari awal Ibu tidak mempertahankan kehamilan Ibu, lihat sekarang kondisi ibu? Rasa sakit di bagian perut Ibu, akan semakin menjadi seiring bertambahnya usia kehamilan Ibu“ Dokter Puspita kembali menyarankan hal itu lagi, ketika aku kembali memeriksakan kandunganku. Aku sungguh membencinya, berulang kali dia menyarankan aku untuk membunuh anakku sendiri.
“Tidak, saya akan mempertahankan anak saya Dok, apapun yang terjadi“ tegasku.
“Keputusan ada di tangan Ibu, dan suami Ibu, saya hanya menyarankan sebagai Dokter kandungan yang menangani bu Anjani“ Dokter Puspita terlihat kesal.
“Saya hanya minta obat untuk mengurangi rasa sakit saya Dok“ suaraku kian lantang.
“Saya tidak bisa meresepkan obat yang terlalu keras, untuk penahan sakit bu, itu akan lebih membahayakan untuk Ibu“ sergahnya lagi.
“Baik, saya akan menahan rasa sakit saya saja kalau begitu“ jawabku penuh semangat.
“Bu Anjani, tidakkah Ibu menyayangi diri Ibu
sendiri?? Belum terlambat, sekarang kita bisa melakukan operasi untuk pengangkatan tuba falopi dan juga rahimnya bu“ suara Dokter Puspita melemah.
“Saya menyayangi diri saya, tapi saya lebih
menyayangi anak saya Dok“ jawabku menunduk.
“Dokter tahu, ketika saya bisa mendengar detak jantungnya, ketika saya bisa merasakan tendangannya, saya begitu bahagia Dok“ jawabku antusias.
“Satu berbanding sembilan ribu bu Anjani, itu
tingkat keselamatannya“ Dokter Puspita kembali menerangkan.
__ADS_1
“Saya harap saya adalah satu dari sembilan ribu itu, saya yakin saya bisa Dok“ Aku masih tetap dengan pendirianku.
“Saya salut dengan tekad bu Anjani, tapi sekali lagi, saya menyarankan agar janin itu digugurkan, tapi semuanya terserah bu
Anjani“ Dokter Puspita menarik napas.
“Baiklah, bulan depan saya kesini lagi, untuk cek kandungan lagi“ jawabku, segera pamit pada Dokter Puspita, kemudian beranjak.
menuju parkiran, dan menemui pak Anto, selama cek kandungan aku tidak pernah
mengajak Anwar, meski Anwar memaksa ingin ikut.
Tiba di rumah, aku sedikit kaget, dengan suasana rumah yang agak berantakan “Kemana bi Lastri??” gumamku.
“Sayang, lihat itu“ tiba-tiba Anwar menarik
tanganku.
“Ada apa ini?” tanyaku mematung, kala melihat ada dua orang tukang sedang mengecat kamar di sebelah samping kiri kamarku.
“Ini adalah persiapan untuk menyambut kedatangan my baby boy ku“ Anwar antusias.
Ya Allah ... bahkan Anwar sudah mempersiapkan semuanya, dengan begitu teliti dan lengkap, jadi bagaimana mungkin aku harus melenyapkannya?.
“Kamu suka gak??” tanyanya kemudian.
“Suka“ jawabku tersenyum, sambil melihat ke adaan kamar baru untuk anakku.
Sebuah kamar yang cukup luas, dengan cat warna biru muda, sudah lengkap dengan segala pernak-pernik bayi, dari mulai baju, mainan, buku-buku bayi, kosmetik, stroler, kereta dorong bayi dan lain sebagainya.
“An, kamu beli sikat giginya juga??” tanyaku sambil mengacungkan sikat gigi berukuran kecil.
“He ... itu kiriman dari neneknya sayang“ Anwar menggaruk tengkuknya.
“Ya ampun, kan anaknya juga belum lahir“ Aku menggelengkan kepala.
“Ya maklumlah sayang, neneknya terlalu antusias menyambut kedatangannya” Anwar kicep-kicep.
“Neneknya dan kamu juga Ayahnya“ Aku menunjuk dada Anwar dengan sikat gigi mini itu, hingga kami tertawa bersama.
‘Ya Allah, aku sangat bahagia, tapi aku juga sangat takut, tolong kuatkan aku ...’
Bersambung..............
Hay readers sayang, jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaaaa....biar Anjani jadi lebih kuat berjuangnya....hhhhheeee....
Hay, pembaca yang budiman,
tak terasa yaaa....beberapa hari lagi, kita akan segera bertemu dengan bulan suci ramadhan,
selamat menjalankan ibadah puasa, bagi yang menjalankannya....
bersihkan diri, sucikan hati, maafkan segala kesalahan author, selama menulis kisah ini yaaa....author tau, ada buanyak kekurangan dan kesalahn dari kepenulisan buku ini, tapi author juga tau, pembaca semua adalah orang yang bijak, yang bisa membedakan mana yang baik, dan mana yang buruk, mana yang bisa di ambil hikmahnya, dan mana yang harus di buang.
semoga kita selalu di beri kesehatan, dan kemudahan dalam menjalani ibadah puasa kali ini, yah meskipun keadaan kita sekarang, sedang dalam keadaan yang terbatas, karena musibah wabah yang tengah melanda.
Semangat selalu yaaaa semuanya....
__ADS_1