
Langit subuh, baru saja terbias oleh mentari, embun mulai beranjak dari peraduan, menghilangkan jejak di antara dedaunan, sementara di sebuah rumah mewah, masih terlihat sangat sepi, karena kedua penghuninya masih betah mendiami sebuah ranjang, di balut kehangatan.
“Kehamilan ektopik, Ibu harus menggugurkan kandungan, agar nyawa Ibu bisa di selamatkan” segala suara suara itu terus memenuhi fikiran Anjani. Seketika matanya mengerjap, sontak dia terbangun.
“Tidaaakkkk!!!” dengan napas ngos-ngosan dia mengurut dadanya, kemudian mengelus perutnya lembut.
‘kamu tenang saja nak, Ibu akan membuatmu terlahir kedunia ini, bagaimanapun caranya’ lirih hatinya berkata.
“Jan, kamu kenapa??? Kamu mimpi buruk??” Anwar memegang bahu istrinya lembut.
“Jangan sentuh!” seketika mata Anjani menjadi sangat bringas.
“Kamu kenapa??” Anwar terus mendekat.
“Jangan mendekat!!” dengan sigap Anjani mendorong tubuh suaminya.
“Jan, kalau aku perhatikan sepertinya kamu banyak berubah, aku rasa ini tidak ada hubungannya dengan kehamilanmu, kenapa hum?” Anwar bertanya lembut sambil merengkuh tubuh istrinya.
“Aku gak mau deket sama kamu!!! “ Anjani beranjak dari kasur kemudian berlalu, kemudian berjalan menuju kamar mandi.
‘Dia kenapa sih??? Ya ampuuunnn ... kenapa Ibu hamil bisa sesensitif itu sih?? Tapi aku rasa semuanya tidak wajar, semenjak dia di periksa dari Dokter kandungan, kenapa sikapnya sangat berubah?? Apa dia masih marah karena aku tidak bisa mengantarnya??’ gumam Anwar, sambil menyibakkan selimut. Turun dari ranjang kemudian berlalu menuju dapur.
Anwar, segera menyeduh koffee hitam, sambil berpikir mengenai perubahan sikap istrinya.
“AAAAAAAAAAAAA!!!!!” tiba-tiba terdengar teriakan dari arah kamar mandi.
“Anjani!!!!” tanpa sengaja Anwar membanting cangkir koffee yang tengah ia pegang, Anwar berlari menuju kamar.
“Jan!! kamu kenapa??” Anwar segera merengkuh tubuh istrinya yang tergeletak di lantai.
“Pe perut a aku sa sakit banget ...” Anjani mulai mengeluarkan air matanya, menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit yang teramat sangat di area perutnya.
“Kita kerumah sakit sekarang, ayo!!” Anwar segera memangku tubuh istrinya.
“Tidak!!! Aku tidak mau pergi kerumah sakit!! Aku benci rumah sakit!! Aku hanya ingin disini!!” Anjani berteriak histeris di antara isakannya.
__ADS_1
“Jan, jangan begini, mungkin terjadi sesuatu dengan anakku“ Anwar masih tetap memangku Anjani menuju pintu keluar.
“tidak! Anwar aku mohon, aku tidak ingin pergi kerumah sakit!!” Anjani kembali berteriak meronta.
“Ah, baiklah, baiklah, kalau begitu berbaringlah, aku akan menelpon Dokter untuk datang kesini“ Anwar mengalah, dan segera mengeluarkan ponselnya, berniat menelpon Dokter Kandungan.
“Tidak!! Aku juga tidak ingin di periksa!” Anjani kembali histeris.
“Ya Allah, Jan, kamu kenapa?? Hhmmhh???” di antara kefrustasiannya Anwar masih mencoba sabar, menghadapi sikap istrinya yang berubah total.
“A aku tidak ingin menemui Dokter, An, aku mohon, anakku sangat membenci Dokter dan rumah sakit“ Anjani memohon pada suaminya, agar mengabulkan keinginannya.
“Baiklah, selama kamu baik-baik saja, sekarang minum dulu ya“ Anwar membantu Anjani untuk minum, Anjani mengangguk, kemudian meminum segelas air putih, yang disodorkan suaminya.
“Jan, mungkin ada baiknya jika kita sekarang menyewa jasa ART, aku takut, jika aku sedang tidak ada dirumah, kamu kenapa-kenapa, kehamilanmu sekarang sudah semakin besar“ Anwar mengutarakan niatnya, sementara Anjani hanya terdiam menyimak.
“Bagaimana menurutmu?? Kamu setuju bukan??” Anwar kembali bertanya.
“Hmhh ...” hanya itu jawaban Anjani, dia memejamkan matanya, sambil mengelus perutnya.
“Jan, apa kehamilan ini sangat menyulitkanmu??” tanya Anwar tiba-tiba, menatap mata istrinya hingga kedalam.
“Ti tidak, aku sangat menikmati kehamilanku“ jawab Anjani terbata.
“Lalu, kenapa kamu terlalu banyak berubah?? Bukan hanya sekali atau dua kali aku melihatmu menahan sakit, tapi sering kali Jan, kamu kenapa?? Apa keluhanmu??” Anwar terus mendesak istrinya.
“Tidak, An, aku dan anakmu baik-baik saja“ jawab Anjani tegas.
“Jan, kamu tahu, bohong itu dosa kan??” tanya Anwar, Anjani mengangguk lemah.
“Jangan bohong, ayo bilang ada apa??” Anwar terus menuntut penjelasan.
“Anwar!!! Aku tidak apa-apa, tidakkah kamu mengerti?? Jika Ibu hamil memang sering bersikap di luar kebiasaannya?? Apa kamu menganggapku sebagai pembohong sekarang? Apa kamu lupa?? Kamulah yang pembohong!!!” Anjani berteriak, kemudian menangis tersedu-sedu.
“Ya Allah Jan, aku nanya baik-baik, ya udah jangan nangis lagi ya, maafin aku, aku yang salah oke??” Anwar memeluk istrinya, kemudian mengusap punggungnya perlahan, sementara istrinya masih terisak.
__ADS_1
“An, jika aku tidak ada, kamu mau kan merawat anak kita sendirian??” tanya Anjani tiba-tiba.
“Emangnya kamu mau kemana??” Anwar masih memeluk istrinya, merasakan setiap gejolak aneh di dalam dadanya.
“Aku gak kemana-mana“ jawab Anjani masih terisak.
“Jangan ngomong gitu lagi, aku gak suka, kita akan membesarkan anak kita bersama-sama, oke??” Anwar mengecup kening istrinya lama, seolah merasakan setiap kekhawatiran yang di rasakan istrinya.
“An, aku mau kerumah Ibu, boleh??” Anjani mendongakkan kepalanya, menatap lekat suaminya.
“Boleh, nanti di antar sopir aja ya, aku akan suruh sopir kantor buat jadi sopir dirumah aja, buat nganterin kamu kalau mau pergi“ usul Anwar.
“Iya“ jawab Anjani lemah.
“Pulangnya, aku yang akan jemput kamu, kamu tunggu aja, aku gak akan pulang malam-malam kok“ Anwar mengelus kepala istrinya lembut, menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah istrinya, sambil sesekali menciumi keningnya.
“Hay, jagoan Ayah, lagi apa?? Jangan nakal di perut Ibu ya“ Anwar mengelus perut istrinya sambil mengajak anaknya berkomunikasi.
“Ck, dia tidak akan meresponmu“ Anjani berdecak sambil tersenyum.
“Tak apa, yang penting dia tahu, jika Ayahnya sangat mengharapkan kehadirannya“ Anwar tersenyum ceria.
Anjani tertunduk, bulir bening kembali berjatuhan dipipinya, ada rasa sakit menyelusup di antara rongga dadanya.
“An, jika anak ini tidak ada, apa kamu masih akan sangat mencintaiku??” tanya Anjani tiba-tiba.
“Tentu saja, ada ataupun tidak ada anak ini, kamu adalah wanita pertama dan terakhir dihidupku, aku akan tetap mencintaimu sepenuh hatiku, tapi dengan adanya anak ini, aku jadi lebih mencintaimu, semua rasa ini sungguh tak terkira untukmu, hingga aku tak mampu mengungkapkannya dengan kata“ Anwar tersenyum bangga.
“Apa kamu sangat mengharapkan kehadirannya?” tanya Anjani, menatap lekat, menanti jawaban.
“Tentu saja, aku sangat mengharapkannya, anakku adalah bayangan dari diriku, kamu tahu Jan?? Akan ada sesosok manusia yang akan menjadi penerusku, ah ... aku sangat bahagia, ketika mengetahui kehadirannya, terimakasih karena kalian sudah berjuang untukku“ Anwar mencium perut istrinya, kemudian berbaring dengan menggunakan dua tangan sebagai bantalan, lalu menerawang menatap langit, dengan senyuman mengembang menghiasi bibirnya.
Bersambung................
Lewati gunung, turuni lembah, mendaki bukit, untuk mencari insfirasi....hhee...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers......syala la la la....du dud dud du