
Hari ini, adalah jadwal pertamaku kontrol kandunganku, rasanya aku sangat bahagia, aku akan melihat anakku, mengetahui kondisinya, jika dia baik-baik saja.
Tapi, tiba-tiba saja Anwar menghubungiku, dia bilang dia tidak bisa mengantarku ke Dokter kandungan karena kesibukannya, sejujurnya aku kecewa, sangat kecewa. Tapi biarlah, aku tahu ini bukan keinginan Anwar, mengingat betapa antusiasnya dia ketika tahu aku hamil.
Lagi pula Anwar sudah berjanji akan menjemputku ketika aku pulang kontrol nanti.
Aku bersiap-siap, lalu bergegas menaiki taksi online yang tadi kupesan, menuju rumah sakit.
Yah, aku kembali menggunakan Dokter Puspita, yang pernah menangani Indah sewaktu operasi dulu, untuk mengkonsultasikan kandunganku.
“Assalamu’alaikum Dok“ sapaku pada Dokter Puspita, kemudian menarik kursi, lalu duduk.
“Wa’alaikumsalam bu Anjani, wah bumil kelihatannya happy sekali ya“ Dokter Puspita tersenyum padaku.
“Iya Dok, he“ Aku tersenyum.
“Baik, sekarang Ibu berbaring dulu ya, saya mau periksa“ Dokter Puspita menuntunku, dan membaringkan aku di kasur, tempat pasien di periksa.
“Baik Dok“ jawabku, tak lama Dokter Puspita memeriksaku, sambil mengernyitkan dahinya.
“Ibu, apa selama ini merasakan ada keanehan pada kehamilannya?? Atau ada gejala lain yang Ibu rasakan?” tanya Dokter Puspita, membuat dadaku berdebar.
“Gejala lain seperti apa Dok??” tanyaku bingung.
“Apa Ibu pernah merasakan sakit seperti tertusuk di bagian perut, leher, dan bahu?? Atau kalau buang air besar Ibu suka merasa sakit yang teramat di bagian ***** ibu??” tanya Dokter Puspita menatapku, dengan tatapan yang penuh dengan tanda tanya.
“I iya Dok" jawabku terbata.
“Lalu, apa Ibu pernah mengalami pendarahan ringan?? Merasa pusing, atau lemas?” tanyanya lagi.
“I iya, benar, saya pernah mengalaminya, saya fikir itu gejala yang normal dan wajar pada Ibu hamil Dok" jawabku, dengan dada yang berdebar.
“Maaf bu, sepertinya Ibu mengalami kehamilan ektopik“ Dokter Puspita menunduk.
“Kehamilan ektopik?? Apa itu Dok??” tanyaku, sedikit kaget mendengar penuturan Dokter Puspita.
“Kehamilan ektopik, adalah kehamilan yang terjadi diluar kandungan atau rahim“
__ADS_1
Deg!!!
“Ma maksudnya gimana ya Dok??”
“Iya, jadi janin yang Ibu kandung tidak menempati rahim, melainkan menempati tuba falopi, kehamilan ini sangat berbahaya bagi Ibu“ jelas Dokter Puspita sambil menarik napasnya panjang.
“Ta tapi kenapa ini bisa terjadi Dok?” tanyaku, air mataku mulai mengembun, bahkan nyaris jatuh.
“Apa Ibu sebelumnya pernaha keguguran??” tanya Dokter Puspita lagi.
“I iya, pernah Dok“ jawabku masih terbata.
“Itu adalah salah satu penyebabnya, selain itu, masih banyak juga faktor yang membuat Ibu harus mengalami kehamilan ini“ tegas Dokter Puspita.
“La lalu?? Apa yang harus saya lakukan Dok?” air mataku sudah luruh di pipi, tak menyangka akan ujian hidup yang terus merundung hidupku.
“Sel telur yang telah dibuahi tidak akan tumbuh dengan normal, jika berada diluar rahim, oleh karena itu, jaringan ektopik harus segera di angkat, agar Ibu terhindar dari komplikasi serius, mengingat usia kandungan ibu baru berjalan tiga bulan, jadi saya sarankan untuk melakukan suntik methotrexate, obat ini akan menghentikan pertumbuhan sel ektopik, sekaligus akan menghancurkan janin yang Ibu kandung, agar janin tidak bisa berkembang lagi“ tutur Dokter Puspita.
Deg, deg, deg ...
Jantungku berdegup kencang, “Ya Allah ... apa lagi ini???”.
“Ini hanya saran saya bu, kehamilan bu Anjani sangat beresiko tinggi, kemungkinannya kehamilan ini sangat membahayakan nyawa Ibu sendiri, kasus ini harus di tangani sedini mungkin, atau kalau tidak, pengobatannya akan semakin sulit“ jelas Dokter Puspita lagi.
“Tidak, saya tidak mau mebunuh anak saya Dok, Ibu mana yang mau melenyapkan anaknya sendiri??” Aku mulai menangis terisak.
“Sabar bu, coba ibu fikirkan kembali, dan diskusikan semua kenyataan ini dengan suami Ibu“ saran Dokter Puspita.
Anwar?? Haruskah aku meberi tahunya??Ssiapa yang akan di pilih Anwar?? Aku?? Atau anaknya??.
“Saya harap Ibu bisa bijak dengan pilihannya, saya harap juga, Ibu bisa secepatnya memberi keputusan, mengingat ini adalah masalah yang sangat serius, ini berhubungan dengan nyawa Ibu sendiri“ Dokter Puspita mengelus bahuku lembut.
“Baik Dok, saya akan mendiskusikannya dengan suami dan keluarga saya“ jawabku, sambil beranjak dari kursi dan menuju keluar ruangan.
Di loby aku terduduk lemah, entah apalagi yang di rencanakan Allah untukku, kenapa ujian ini semakin berat, dan semakin terasa sulit, apa yang harus kulakukan sekarang??.
Yang aku ingin, hanya mempertahankan anakku, bahkan jika aku harus mati, itu tidak apa-apa, selama aku bisa memberi kehidupan untuk anakku, yah aku akan mempertahankannya, aku tidak akan mengatakan apapun pada Anwar, atau siapapun, hal ini, biar aku saja yang tahu.
__ADS_1
“Nak, bertahanlah demi Ibu, dan Ibu akan berjuang keras untukmu, kamu akan baik-baik saja, Ibu janji, Ibu akan memberikan semua yang terbaik untukmu“ Aku mengelus perutku lembut, mencoba berbagi rasa dengan buah hatiku.
Tidak, aku tidak akan menyerah, sebelumnya, aku dan anakku pernah berjuang bersama melawan maut, jadi kali ini, kitapun akan melakukan hal yang sama, bersama-sama melawan kematian.
Hidup, mati, semuanya takdir Allah, ku pasrahkan semua yang akan terjadi padaku, pada sang pemilik kehidupan.
Tttttiiiiiidddddd!!!
Kudengar suara klakson mobil Anwar, aku segera menyeka air mataku, kemudian membuang kertas hasil pemeriksaan Dokter tadi.
“Hallo Ayah“ sapaku, mencoba untuk menyembunyikan rasa sakitku.
“Maafkan aku, aku terlambat menjemputmu!“ serunya, sambil membukakan pintu penumpang padaku.
“Iya gak apa-apa ayah“ jawabku sambil tersenyum.
‘maaf, karena untuk waktu yang lama, aku akan menyimpan sebuah kenyataan darimu’
Aku menyentuh pipinya lembut,
“Gimana tadi kata Dokter?? Apa anakku baik baik saja??” tanyanya sangat antusias.
“Iya, dia sangat baik baik saja“ jawabku, ku usap perutku dengan sayang.
‘Kita harus bertahan nak, demi Ayah‘
Anwar kembali menyetir mobil, melajukannya menuju arah pulang.
Sementara aku fokus, pada pemandangan diluar jendela.
‘beberapa bulan kemudian, akankah aku masih bisa menikmati semua ini??” air mataku luruh lagi, aku tidak bisa membendung rasa takutku, takut kehilangan semua yang menjadi milikku, aku takut tak sempat melihat wajah anakku, jika dia selamat.
“Kamu mau makan sesuatu??” terdengar suaranya begitu merdu, dia suamiku, yang selalu sabar, dan pernah memberiku segalanya, meski dia pernah melakukan sebuah kesalahan besar, tapi aku sudah memaafkannya, bukankah manusia tidak akan luput dari kesalahan??.
“Tidak“ jawabku tanpa menoleh, aku takut, air mataku terlihat olehnya, aku tidak ingin membuatnya cemas.
Bersambung......................
__ADS_1
Readers, jangan lupa dukung terus authornya yaaaa.....ayo dong, tinggalkan jejaknya, like, koment, kasih author vote juga...hhee...author maksa banget sih?? iya emang, saking author butuh banget dukungan, author tuh sampe keluar masuk hutan buat cari insfirasi ( Author lebay ) iya, emang, saking puyengnya author mau nulis apa lagi, hheee.....