KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Bersiaplah ...


__ADS_3

Aku mengerjapkan kedua mataku, sudah hampir tiga hari aku di rawat di rumah sakit, dan Dokter menyarankan agar aku di rawat selama lima hari kedepan karena kondisiku yang sangat lemah, Dokter bilang aku kehilangan banyak darah karena sedikit terlambat di tangani, aku hanya bisa pasrah, sementara di rumah sakit, dengan setia Ibu menungguiku, Ibu merawatku dengan sangat telaten. Aku bersyukur memiliki Ibu yang masih bisa di bilang muda. Hingga beliau masih bisa dengan sigapnya menjaga dan merawatku.


“Ibu, maafkan Jani, Jani sudah membuat Ibu sangat repot“ Aku menoleh ke arah Ibu sambil tersenyum.


“Tidak Jan, kamu tidak pernah membuat Ibu repot, kamu anak Ibu, bagaimana mungkin Ibu membiarkanmu di sini??” jawab Ibu sambil mengelus kepalaku dengan sayang.


“Ibu, Mas Bagas kemana?? Kenapa Jani tidak melihat Mas Bagas lagi setelah hari pertama Jani di rawat di sini?” tanyaku sambil mengedarkan pandanganku.


“Bagas ada, katanya dia sibuk bekerja, nanti waktu jam istirahat, Bagas pasti datang kok buat nemenin kamu“ jawab Ibu sambil tersenyum.


“Oh gitu ya bu,“ Aku menganggukan kepalaku, lalu membenahi posisi tidurku, rasanya sangat jenuh terus tiduran di atas kasur ini.


“Jan, Ibu keluar sebentar ya, mau beli minum dulu“ pamit Ibu seraya beranjak dari duduknya


“Iya Ibu, hati-hati ya“ Aku kembali menganggukan kepalaku tanpa menoleh ke arah ibu, fokusku terus pada pemandangan di luar jendela.


“Iya Jan, kamu mau nitip sesuatu?” tanya Ibu lagi sambil mulai melangkahkan kakinya.


“Tidak Ibu, terimakasih“ jawabku tanpa mengalihkan pandanganku pada ibu.

__ADS_1


Terdengar Ibu menutup pintu kamar ruang rawatku.


“Mau apa lagi kamu datang kesini??!!” Aku tersentak kaget, mendengar sayup-sayup suara Ibu membentak seseorang.


“Ibu, izinkan saya bertemu Anjani“ Mas Bagas, iya itu suara suamiku.


“Kamu tidak saya izinkan menemui Anjani, Anjani lagi istirahat tidak bisa di ganggu, sana pergi kamu dari sini“ terdengar suara Ibu semakin meninggi.


Akhirnya aku memutuskan untuk melepaskan botol infusanku dan berjalan mengendap-endap mendekati sumber suara, aku menguping pembicaraan mereka dari balik pintu, dalam keadaan yang lemah.


“Ibu, saya mohon, Anjani masih istri saya, saya berhak untuk melihat keadaan istri saya” mohon Bagas pada Ibu.


“Istri??? Sejak kapan kamu menganggap putri saya sebagai istri kamu?? Bukankah kamu sendiri yang bilang pada bapak kamu, kalau kamu tidak pernah mencintai putri saya??” Ibu mulai berapi-api.


“Ceraikan anak saya Bagas“ permintaan Ibu sungguh membuatku lunglai.


“Tidak Ibu, saya tidak akan menceraikan Anjani, sekalipun Anjani yang memintanya“ suara Bagas terdengar semakin bergetar.


“Pernikahan kalian sudah tidak sehat, kamu fikir saya tidak tau bagaimana cara kamu memperlakukan anak saya?? Meskipun anak saya tidak pernah mengadukan hal apapun, tapi saya tau sorot matanya menyatakan jika dia tidak bahagia bersamamu Bagas“ suara Ibu semakin meninggi dan penuh penekanan.

__ADS_1


“Ibu, saya janji, saya akan memperbaiki semuanya“ untuk kedua kalinya aku mendengar suamiku memohon.


“Jika pernikahan ini di teruskan, maka akan semakin banyak kedzaliman yang terjadi pada putriku, aku tidak ridha jika putriku yang sempurna itu, terus di dzalimi oleh kamu dan keluargamu Bagas, Aku fikir kamu pria baik-baik, ternyata aku salah, Aku salah sudah menikahkan kalian“ terdengar suara Ibu agak bergetar.


“Ibu, saya mohon jangan seperti ini, setidaknya izinkan saya bertemu Anjani dulu“ suara Bagas terdengar begitu mengiba di telingaku.


“Baik, temui Anjani, dan langsung talaq dia!!“ seru Ibu, yang membuatku tak bisa menahan air mataku lagi.


‘Ku mohon ibu, biarkan aku mengambil keputusan untuk hidupku sendiri‘


“Baiklah, jika itu yang terbaik untuk kita semua, saya akan mengabulkan permintaan Ibu, saya akan menceraikan Anjani sesuai permintaan Ibu, saya tahu, saya bukan pria yang pantas untuk mendampingi putri Ibu yang sempurna, saya hanya manusia biasa yang banyak kekurangan“ suara Bagas melemah, Tapi tak selemah hatiku yang tau bahwa suamiku tak lagi bisa memperjuangkan rumah tangga kami.


Hidup bersama Bagas adalah hal tersulit bagiku, tapi akupun tidak tahu, jika hidup tampa Bagas akankah hidupku menjadi mudah??.


Suamiku sungguh menyerah, Aku sakit menerima kenyataan ini, bahkan luka jahitan di rahimku saja belum kering, bahkan luka karena kehilangan anakku saja belum bisa sedetikpun hilang dari benakku, sekarang kenyataan bahwa suamiku akan menceraikanku pun harus ku telan juga.


Aku melangkahkan kaki menuju kasurku kembali, aku menggantungkan botol infusanku di tempatnya semula, aku membenahi diriku dengan susah payah, setelah terasa nyaman, aku menyenderkan punggungku di bantal sambil kembali menatap kaca jendela yang mengembun karena uap udara


‘Sebentar lagi kenyataan pahit akan terdengar di telingaku. Bersiaplah Jani’ Gumamku lirih.

__ADS_1


Bersambung..............


Readers kesayangan author, jangan lupa dukung author terus yaaaa....tinggalkan jejak kalian, apapun bentuknya.


__ADS_2