
Kamu, aku, kita semua adalah manusia-manusia yang penuh dengan kesalahan.
Tapi kita juga adalah manusia yang paling egois, karena kita seringnya tidak ingin mengakui kesalahan tersebut.
Aku tahu bahkan kata saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi puas untuk sebuah pencapaian.
Seperti halnya kata syukur, yang kadang kata “alhamdulillah” saja tidak cukup untuk mewakili semua nya, harus ada ekspresi dari semuanya.
Karena Ada banyak bentuk dari sebuah rasa.
Maaf, satu kata yang tak pernah bisa ku sampaikan padamu, ku akui awalnya aku menikahimu bukan karena aku mencintaimu, tapi karena kebawelan orangtuaku yang terus memaksaku untuk menikahimu, jujurnya aku bukan pria yang mudah mencintai, tapi untuk pertama kalinya mungkin aku jatuh cinta pada seorang perempuan, Anjani, aku menyesal telah membentakmu dan lebih membela Agung dari pada dirimu.
Aku sungguh ingin berubah, dan itu berkat kesabaranmu.
“Bagas, aku ingin kita pergi liburan“ rajuk Agung di suatu hari.
“Aku gak bisa, kamu tau aku sekarang sudah memiliki istri, dan kita sudah tidak bisa sebebas dulu“ jawabku pada Agung.
“Tapi, aku sudah lelah berpura-pura di hadapan istri kamu, dengan menggandeng perempuan lain“ Agung masih merajuk.
“Tidak bisa Agung, aku tidak ingin meninggalkan Anjani“ Aku masih tetap pada pendirianku yang ingin berubah.
“Semenjak menikahi perempuan itu, kamu sekarang jadi tidak peduli lagi padaku“ Agung cemberut.
“Bukan seperti itu ...“
“Kamu berubah?? Akupun akan berubah“ belum aku menyelesaikan ucapanku, Agung sudah mengancamku.
“Maksud kamu?” tanyaku mengerutkan kening, heran dengan pernyataan Agung.
“Aku akan mengatakan kelainanmu pada istri dan keluargamu“ Aku sungguh tidak percaya Agung akan mengancamku.
__ADS_1
“Astaga....baiklah, aku akan mengikuti keinginanmu “ Aku akhirnya menyerah.
“Nah, gitu dong, aku mau kita liburan ke puncak selama tiga hari“ pinta Agung, yang membuatku membelalakkan mata.
“Baiklah, akan aku usahakan“ akhirnya aku mengalah, aku tidak ingin Agung menceritakan semuanya pada keluargaku.
“Nah, gitu dong, jadilah Bagasku selamanya“ seru Agung riang, sambil bergelayut di tanganku.
Aku menarik napasku, bagaimana caraku menjelaskan semuanya pada istriku, sementara kini keadaan rumah tanggaku sudah berangsur membaik, berkat kerja kerasku meluluhkan hatinya yang mulai membeku.
“Berjanjilah, ini adalah kebersamaan kita yang terahir“ pintaku pada Agung, yang langsung di angguki Agung, tanda setuju.
Aku menghela napas dalam, aku sungguh tidak tau harus berbuat apa?.
Akhirnya setelah banyak drama yang terjadi, aku berangkat untuk memenuhi ajakan Agung, dengan alasan ada urusan pekerjaan di luar kota, Anjani mengizinkanku, kulihat ada sesuatu yang mengganjal dengan izinnya. Dia seperti berat melepasku pergi, feellingnya sebagai seorang istri memang tidak bisa di bohongi dengan mudah.
Aku memutuskan untuk tidak menghubunginya selama aku liburan. “Anjani, hanya sekali ini saja, aku mohon, setelah ini, aku utuh milikmu“ monologku dalam hati.
Aku bingung harus berbuat apa?? Akhirnya aku memutuskan untuk menelpon Bapak. Dalam kecemasanku, aku menunggu kabar dari Bapak, dan betapa kagetnya aku, ketika mendapat kabar bahwa Anjani keguguran. Ini sungguh ujian terbesar untukku, aku sungguh menyesal telah mengikuti inginnya Agung.
Akhirnya aku memutuskan untuk segera menemui istriku, setibanya di rumah sakit, aku segera memasuki ruangan tempat dia di rawat. Aku melihat kedua mertuaku dan adik iparku sudah berada di sebelah istriku. Aku juga melihat Bapak yang tengah termenung di pojokan pintu, Aku langsung mendekati istriku dan berusaha untuk meraih tangannya.
Tapi, dengan sigapnya Ayah mertuaku mencengkram tanganku kuat, aku kaget dan menatap Bapak, tapi yang di tatap hanya terus menunduk.
“Kamu, ikut saya keluar!“ kata Ayah mertua sambil mengeratkan giginya.
“Ke kenapa Ayah??” tanyaku polos, sementara Ibu mertuaku masih terisak sambil di peluk adik iparku.
“Sini kamu!“ Ayah mertua tanpa aba-aba langsung menuntunku kasar keluar ruangan.
“Ke kenapa Ayah??” tanyaku masih tidak mengerti dengan kekasaran Ayah mertua.
__ADS_1
“Ceraikan putriku!!!”
Jlebbbbb!!
Kata-kata Ayah mertua membuatku lemas seketika.
“Maksud Ayah apa??” tanyaku dengan suara gemetar.
“Sudah terlalu lama kamu membuat putriku menderita, ceraikan dia!” suara Ayah semakin meninggi.
“Tidak Ayah, maafkan segala kesalahan saya, saya janji, saya akan berubah“ Aku memohon pada beliau.
“Tidak bisa, kamu tahu Bagas, aku dari awal tidak pernah mengizinkan kalian menikah, aku tidak ikhlas, jika putriku memiliki suami dari anak pria arogan dan ambisius seperti Ayahmu, kamu fikir aku tidak tahu rencana busuk keluarga kalian??” kata-kata Ayah terus memojokkanku.
“Apa maksud Ayah??” suaraku semakin bergetar hebat.
“Aku lebih baik kehilangan hartaku, daripada harus kehilangan putriku, selama hidupnya putriku sudah terlalu banyak menderita. Aku tidak bisa melindungi putriku sendiri, tapi kali ini?? Aku akan melindunginya dari pria brengsek seperti kamu dan keluargamu“ Ayah mertua sama sekali tidak bisa mengerem kata-katanya, beliau terus berapi-api.
“Ayah, kumohon, jangan seperti ini, aku janji aku akan berubah“ Aku masih terus memohon. Tidak, aku tidak ingin kehilangan cahaya di hidupku.
“Tidak!!!! Aku hanya ingin putriku bahagia, dan putriku akan bahagia jika tanpa dirimu Bagas!!“ Aku sungguh tidak bisa lagi mengatakan apapun.
Badanku luruh di lantai, hatiku sakit ketika kehilangan anak yang tidak ku ketahui kehadirannya. Dan sekarang akupun harus kehilangan Anjani, istriku.
“Tuhan, ampuni aku“ Aku segera berdiri setelah kepergian Ayah mertuaku, aku pergi ke mesjid yang berada di area rumah sakit ini,
Aku merasa kecil ketika berada di hadapannya, aku bersujud sangat lama, aku meminta semua yang terbaik kepada Allah, selama ini aku sudah terlalu lama melupakan sang pencipta. Aku sadar, selama ini aku sudah terlalu lama bersemayam dalam dosa. Ternyata cinta tidak hanya bisa membuatku berubah, cinta tidak hanya membuatku tersenyum dalam bahagia, tapi cinta juga bisa membuatku menangis dalam sujud.
Bersambung......................
Ayoooooooo.....tinggalkan jejak kalian...........
__ADS_1