KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Restu Ayah


__ADS_3

“Han, dua minggu ke depan anak kamu Anjani akan melangsungkan pernikahannya“ jelas Ibu pada Ayah yang akan menjadi wali nikahku di dua minggu ke depan.


“Maya, bolehkah aku meminta sesuatu padamu??” tanya Ayah, seolah memohon.


“Apa??” tanya Ibu tegas.


“Jangan menikahkan Anjani dengan Bagas, Maya aku mohon“ pinta Ayah yang jelas membuatku merasa heran, bukankah Bagas masih kerabat jauh Ayah?? tapi kenapa Ayah malah tidak setuju?? dan melarang kami untuk menikah?.


“Kenapa??” tanya Ibu yang langsung meninggikan suaranya.


“Tidak apa-apa aku hanya tidak setuju saja dengan pernikahan anakku” jawab Ayah.


“Anakku kamu bilang Han?? Dengar baik-baik Han, Anjani dan Indah itu mutlak anakku, mereka di besarkan dan di didik oleh ke dua tanganku, kamu sama sekali tidak berhak atas mereka, selama ini aku lah yang sudah banyak menderita ketika membesarkan mereka. Jadi kamu sama sekali tidak bisa melarang atau menyuruh anak-anakku agar sesuai dengan ke inginanmu" hardik Ibu yang membuat Ayah langsung membuang napasnya kasar.


“Aku tau Maya, aku bukan pria yang baik, selama ini aku hanya bisa memberi luka padamu dan anak-anak kita, tapi percayalah Maya, apa yang ku katakan hari ini adalah untuk kebaikan Anjani, sekali ini saja Maya dengarkan aku.“ pinta Ayah yang membuatku menjadi semakin dilema.


“Jangan terus memaksakan kehendakmu pada anak-anakmu Maya, jangan membalas kebencianmu padaku lewat anak-anakmu". lanjut Ayah, yang entah kenapa membuat hatiku menjadi semakin sakit, aku terus menempelkan telingaku pada daun pintu kamarku.

__ADS_1


“Cukup Han, aku memberitahu pernikahan Anjani, hanya karena kamu adalah wali dari pernikahan Anjani, Aku tidak meminta pendapatmu, aku hanya memberi tahumu" jelas Ibu yang membuat Ayah langsung terdiam.


“Baiklah Maya, aku memang tidak pernah berada di sisi kalian, selama ini, tapi bukan berarti aku tidak peduli pada putriku sendiri, Anjani juga adalah darah dagingku, tidak mungkin aku ingin membuatnya menderita, Aku hanya ingin yang terbaik bagi Anjani, itu saja. Tapi jika menurutmu memaksanya menikah dengan pria yang sama sekali tidak di cintainya adalah hal terbaik, maka aku akan mengikuti ke inginanmu. Aku harap ke depannya kamu tidak akan menyesal Maya" jelas Ayah, yang membuat Ibu semakin marah pada Ayah.


“Kenapa aku harus menyesal menikahkan Anjani? Dia aku nikahkan dengan pria yang baik,“ hardik Ibu.


“Baik menurutmu belum tentu baik bagi anakmu Maya“ Ayah masih mempertahankan pendapatnya, berusaha bernegosiasi dengan Ibu.


“Cih! kamu seorang pria pengkhianat dan tidak bertanggung jawab saja berani-beraninya mengguruiku, beraninya mengeluarkan pendapat tanpa aku minta, sekali lagi aku tidak meminta pendapatmu Han, Aku hanya memberi tau jika dua minggu lagi Anjani akan menikah, aku hanya tidak ingin putriku bersedih karena di hari pernikahannya Ayah kandungnya tidak menjadi walinya“ jawab Ibu mengahiri perdebatannya dengan Ayah, jelas Ayah kalah dari perdebatan ini, Ayah seolah tak memiliki kekuatan apapun di hadapan Ibu.


“Kenapa kamu selalu keras kepala Maya??” Ayah menundukkan kepalanya.


“Aku tahu kesalahanku tak termaafkan, aku juga tak akan memintamu untuk memaafkanku, tapi hiduplah dengan damai Maya, kita sudah tua, tidak pantas kita terus menerus bergelut dengan emosi dan ambisi kita" kata Ayah sambil terus menundukkan kepalanya.


“Halah, jangan so bijak kamu Han, jangan membuat aku semakin membencimu“ jawab Ibu sarkis.


“Baiklah Maya, jika memang itu sudah menjadi keputusanmu, aku sudah tidak bisa melarangmu, seperti yang kamu bilang, aku memang tidak memiliki hak apapun atas ke dua putriku, aku akan merestui pernikahan Anjani dan Bagas. Dua minggu ke depan aku pasti akan datang menjadi wali pernikahan putriku“ akhirnya Ayah benar-benar mengalah, Aku menyenderkan kepalaku di tembok kamar, kenapa hidupku begitu sulit dan rumit??.

__ADS_1


“Ya bagus, memang harusnya seperti itu“ jawaban Ibu kembali terdengar.


“Ya sudah Maya kalau begitu aku pamit pulang dulu" pamit Ayah.


“Ya sudah sana!!“ hardik Ibu.


“Assalamu’alaikum“


“Wa’alaikumsalam”


Aku tersenyum pedih mendengar percakapan mereka, tidak bisakah sekali saja, aku melihat keluargaku harmonis, setidaknya sebelum aku menghilang, Ayah, Ibu damai dan hidup rukunlah kalian berdua, meski kini sudah tidak ada lagi ikatan suci pernikahan di anatara kalian, meski kini sudah tidak ada lagi cinta yang bersemayam di hati kalian, tapi setidaknya di hadapanku sekali saja, tunjukkanlah keharmonisan sebuah keluarga.


Lucu memang, mimpiku kini hanya ingin melihat Ayah dan Ibu hidup bahagia, Tidak, aku tidak akan meminta kalian untuk tinggal dalam satu rumah dan satu atap dalam sebuah ikatan yang suci, tapi setidaknya ketika bertemu bertegur sapalah dengan cara yang baik.


Tidak bisakah Ayah dan Ibu berpura-pura harmonis barang sejenak?? Hanya untuk membuatku tersenyum bahagia?? Ayah, Ibu Jani rindu kehangatan keluarga yang di miliki oranglain. Bolehkan aku bermimpi untuk ini??? Sekali saja. Aku mohon.


Bersambung.....................

__ADS_1


Jangan lupa dukungan nya ya readers sayang......like ,komen, bintang lima dan vote sebanyak banyak nya yaaaaa....aku tunggu,....terimakasih........


__ADS_2