
“Anjani, dulu aku menikahimu dengan cara baik-baik, sekarang akupun akan menceraikanmu dengan cara baik-baik.“ terdengar suara Bagas begitu bergetar, matanya pun berkaca-kaca.
Meskipun aku sudah mempersiapkan diri untuk mendengar kenyataan pahit ini, tapi sungguh hatiku tidak kuat. Meskipun aku tidak begitu mencintai suamiku, tapi aku sudah hidup dengannya hampir satu tahun. Bagaimana mungkin aku bisa serela itu, jika rumah tanggaku harus berahir pada kata talaq.
“Kenapa???” tanyaku lirih
“Apa alasan mas Bagas mau menceraikan aku?” air mataku mulai mengembang.
“Aku tidak bisa menjelaskan apapun Jani, tapi yang pasti mulai saat ini, telah jatuh talaqku satu padamu, kamu bukan lagi istriku, aku sudah tidak lagi memiliki kewajiban padamu, begitupun kamu,“ suara Bagas terdengar begitu bergetar hebat, air matanya bahkan sudah luruh di pipinya.
“Aku bahkan baru saja kehilangan anakku, tidak bisakah kamu menungguku hingga fisikku membaik?” Aku menatapnya nanar, mungkin ini adalah tatapan terahirku untuk Bagas.
“Maafkan aku Anjani, aku bukan pria yang baik, meskipun aku sudah berusaha untuk menjadi manusia yang baik“ air mata Bagas semakin luruh.
“Aku menerima talaqmu Mas, aku harap kedepannya kita masih bisa bersilaturahmi dengan baik“ jawabku yang sudah tak ingin lagi mendengar ucapan Bagas, hatiku teramat sakit, hingga aku tidak tau harus menggambarkannya dengan kata apa.
Sebisa mungkin aku menahan air mataku agar tidak menetes, “Pulanglah Mas Bagas, setelah keluar dari rumah sakit aku akan langsung pulang ke rumah Ibu, aku harap Mas Bagas mau mengantarkan semua barang-barangku ke rumah Ibu, Mas Bagas jaga diri baik-baik ya, jangan lupa makan, jangan mengacak-acak semua barang hanya karena Mas Bagas mau mencari satu barang, jangan bawa sepatu kedalam kamar, jangan kelamaan main game online juga, nanti mata Mas Bagas cepet rusak“ Aku mengingatkan Bagas, seperti Ibu mengingatkan anaknya.
“Anjani, jangan membuat aku semakin berat untuk meninggalkanmu“ Bagas mencoba menggenggam tanganku.
“Kita sudah bukan muhrim lagi Mas“ Aku menepis lembut tangan Bagas.
__ADS_1
“Anjani, aku harus apa??? Aku sangat frustasi dengan kenyataan ini“ Bagas meracau lalu terisak di sampingku, badannya luruh ke lantai.
Aku memunggungi Bagas, karena air mataku sudah tumpah “Pergilah Mas, hidup bahagialah bersama orang yang lebih baik dariku, belajarlah untuk bisa mencintai perempuan, kembalilah pada fitrahmu sebagai seorang laki-laki normal“ Aku berkata sambil terisak dalam tangisku.
“Aku pergi Jan, aku akan mencoba menjadi pria sejati, maafkan aku Jan, hanya kamu perempuan yang bisa menerima kekuranganku, aku harap aibku hanya akan menjadi rahasiamu“ pamit Bagas lalu ia buru-buru berlari dari ruanganku sambil terus terisak, aku baru tau, ternyata suamiku secengeng itu.
Aku menghela napas, menatap kepergian suamiku. Setelah kepergiannya aku menangis sejadi-jadinya. Meratapi perpisahanku dengan suami gayku. Aku sangat berat untuk berpisah dengan Bagas, tapi aku tau ini adalah keputusan terbaik untuk kami. Aku tidak bisa terus memaksakan diri untuk tetap bertahan, sementara pasanganku sudah kehilangan selera untuk bisa bertahan.
Ibu datang lalu memelukku erat, aku tahu Ibu ikut andil dalam perpisahanku dengan Bagas, entah harus apalagi yang ku katakan pada Ibu, ada rasa kecewa yang mendalam di hatiku karena ulah Ibu.
“Maafkan Ibu Jani, Ibu bukan Ibu yang baik, Ibu sudah menikahkanmu dengan pria yang salah“ Ibu terus terisak sambil mendekapku.
“Aku tidak bisa bertahan dalam ujian cintaku kali ini“ Aku masih menangis pilu dalam dekapan Ibu.
“Di dunia ini tidak ada perempuan yang ingin menjadi janda Jani, tapi percayalah, jika pernikahanmu sudah terlalu banyak kedzaliman maka perpisahan adalah yang terbaik, dzalim itu dosa kan nak??? Jangan terus membuat orang lain mengumbar dosa-dosanya” Ibu terus berusaha menenangkan aku, tapi aku semakin tidak mengerti dengan ucapan Ibu.
“Ibu, bukan perpisahan yang aku sesali, tapi pertemuanlah yang ingin aku ulang, aku ingin bisa bertemu dengan suami yang bisa menjadi imam bagi hidupku, tapi kenapa??aku selalu di pertemukan dengan orang-orang yang tidak bisa menghargaiku??” Aku mulai meracau sambil sesenggukan.
“Jani, percayalah, akan selalu ada hikmah di balik setiap musibah“ Ibu berkata dengan sangat lembut sambil menyeka air matanya.
“Aku tau Ibu, tapi kenapa?? Ujian seolah tak pernah surut dari hidupku??” Aku berhenti menangis lalu menatap Ibu.
__ADS_1
“Karena kamu kuat, karena kamu bisa melewatinya“ jawab Ibu tegas.
“Tapi aku rasa, aku sudah tidak sekuat itu Ibu“ elakku lemah.
“Jika kamu tidak kuat dan tidak mampu melewati ujian ini, maka Allah tidak akan mengujikan ujian ini padamu Nak, Kamu tahu Jani, Allah tidak akan memberikan ujian kepada hambanya melebihi batas kemampuannya“ jelas Ibu masih dengan nada tegas.
“Ibu, apa dulu Ibu merasa sesakit ini ketika Ayah meninggalkan Ibu?” tanyaku tiba-tiba yang membuat Ibu terhenyak.
“Lebih dari ini Nak, karena Ibu harus membesarkan kamu dan Indah sendirian“ jawab Ibu yang air matanya kembali mengalir.
“Tapi setiap orang memiliki kadar rasa sakit yang berbeda, mungkin apa yang kamu rasa sekarang tidak seberapa di banding rasa sakit Ibu dulu, begitupun sebaliknya“ jawab Ibu panjang lebar.
“Ibu, maafkan Jani, jika Jani memiliki banyak kesalahan pada Ibu, do'akan Jani, agar Jani kuat melewati status baru Jani, do'akan Jani agar bisa tabah menghadapi setiap ujian yang Allah berikan pada Jani“ pintaku pada Ibu sambil memeluknya erat.
“Tentu Nak, tanpa kamu pintapun do'a Ibu menyertaimu selalu“ jawab Ibu sambil mengelus kepalaku dengan sayang.
“Terimakasih Ibu“ air mataku terus mengalir membasahi pipi, aku terus menangis hingga mataku bengkak.
“Ya Allah semoga rasa sakit dan deritaku menjadi kiparat, semoga lelahku bisa menjadi penebus dosa-dosaku“.
Bersambung.............
__ADS_1
Hay...hay...hay...readers.....jangan lupa dukung author selalu yaaaa.....ayo tinggalkan jejaknya, like, koment, bintang lima dan vote sebanyak banyaknya yaaaa.......