
Kembali pada hari minggu yang selalu ku tunggu-tunggu kehadirannya, hari minggu ini aku ingin benar-benar menonton drama korea yang terus tertinggal, aku biasa menonton drama korea di laptopku, minggu ini aku tidak peduli dengan cucian yang menumpuk, aku tidak peduli dengan kosan yang amburadul, yang penting aku menonton saja dulu mencari kesenanganku sendiri fikirku. Kalau ibu tau kelakuan ku hari ini??? hadduh ... tapi ya sudah lanjutkan saja.
Tring ... tring ... tring ...
Notifikasi pesan masuk di handphoneku terdengar, ah ... ganggu aja, ku biarkan handphone yang ada di sampingku dan aku aku lebih memilih untuk mengabaikannya.
Tring ... tring ... tring ...
Suara notifikasi kembali terdengar, Ya Allah ... apa sih?? Dengan kesal aku membuka handphoneku, lalu menggeser layar nya, dan terbuka lah pesannya,
Faisal ...
"Hai jani, lagi apa?? hari minggu ini mau ke mana??"
Ya ampuuuunnnn ini orang ganggu aja, gak ada kerjaan lain lagi apa?? selain dari chat aku??
Akhir akhir ini Faisal entah kenapa jadi teramat sering menghubungiku, entah lewat telpon, ataupun lewat chat, dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurutku sama sekali tidak penting, hanya bertanya 'Anjani sudah makan?? sudah bangun?? sudah tidur??? sudah pulang kerja?? lagi apa??' Pertanyaan rutin yang selalu Faisal kirimkan via chat kepadaku.
Jujur bagi ku hal-hal seperti itu tidak ingin aku tanggapi, kesannya seperti keppo, Faisal kan bukan Ibu atau Indah, yang bisa dengan leluasa memantauku. Dia jelas bukan muhrim ku, jadi tidak ada kewajiban bagiku untuk menjelaskan apapun kepadanya.
Tapi dalihnya selalu membuatku sedikit tidak bisa berkutik ketika aku tak kunjung membalas pesannya, dan terpaksa aku harus membalas pesannya, ketika dia bilang "kenapa pesannya tidak di balas?? kan menjalin silaturahmi adalah kewajiban sesama muslim," ah ... alasan saja dia, laki - laki selalu berupaya lebih dan lebih lagi ketika dia mengejar sesuatu yang dia inginkan, iya kan???
Ku putuskan untuk tidak membalas pesannya kali ini, ku abaikan handphoneku, lalu aku melanjutkan acara nonton drakor kesayanganku, ooooohhhhh ... babang Lee Min Ho i'm coming, segera ku tekan PLAY di layar monitor laptopku.
Aku menonton sambil tengkurep dan senyum-senyum sendiri ketika melihat adegan yang menurutku romantis, tapi ketika durasi film baru 15 menit tiba tiba ...
Tok ... tok ... tok ...
Ku dengar suara pintu kosan ada yang mengetuknya ... ya Allah ... kenapa orang orang tidak ada yang bisa membuatku tenang barang sejenak???
Dengan wajah kusut, aku terpaksa bangkit dari posisi tidurku, lalu beranjak membuka pintu,
Ceklek ... Pintu aku buka
"Mas Faisal??? ada apa mas??" Aku mengerutkan dahi, ternyata Faisal yang datang,
"Heee ... hay Anjani, lagi apa?? kenapa chat aku gak di bales??" tanyanya sambil tersenyum lembut, hari ini wajah Faisal terlihat sangat berseri-seri, berbeda dengan sebelumnya yang selalu kusut.
"Aku lagi nonton mas, iya maaf chatnya gak sempet di bales, lagi tanggung nonton soalnya" Jawabku dengan nada males.
"ooohhh ... aku gak ganggu kan??" Faisal membulatkan bibirnya di lanjut senyum tipis padaku.
__ADS_1
Gak ganggu gimna??? kamu tuh gangguin hidup aku terus tau gak sih?? aku tuh pengen nonton!!! kamu gangguuu!!! kamu gangguuuuuu!!!!!
"Oh ... enggak mas, ada perlu apa ya???" Hati sama mulut emang gak pernah bisa bersahabat, mereka selalu saling berhianat.
"Jani aku boleh cerita???" mohonnya
Cerita apa sih?? hidup aku aja udah kelebihan cerita, sekarang kamu mau nambahin beban di hidup aku??? iya??? pulang sanah!!! aku mau nonton drakor!!!
"Iya boleh mas, mau cerita apa??? haduh ... mulutku sedang belajar menjadi anggahota badan yang munafik, aku benci ini!! ketika hati berkata A dan mulut berkata B.
"gak apa apa sih, hhee" kata Faisal sambil senyam-senyum terus,
"Lah, tadi katanya mau cerita?? Ya udah mas Faisal tunggu aja dulu di sini ya, aku ambilin minum" Akhirnya aku mengalah, aku mempersilahkannya duduk di kursi di luar kosanku,
"Eh jangan repot - repot Jan" Tolak Faisal, padahal aku tau dia hanya sedang berbasa - basi.
"Gak repot kok, cuman air mineral aja," Aku menyodorkan satu botol air mineral kepada Faisal karena hanya minuman itu yang ku miliki.
"ya udah, makasih ya Jani , kenapa kamu baik banget Jani?? kamu perempuan paling sempurna yang pernah saya temui, aku selalu melihat ketulusan di mata kamu" Kata-kata Faisal sungguh membuat pipiku memerah seketika, tapi aku segera tersadar, ucapan Faisal hanyalah rayuan recehan yang biasa di ucapkan pria pada umumnya,
"Pepatah arab mengatakan, Jika kamu ingin mencari manusia yang sempurna, tentu kamu tidak akan pernah mendapatkannya, karena manusia terlahir dengan banyak kekurangan, sempurna itu hanya milik penciptanya saja, jadi mas Faisal jangan bilang saya perempuan sempurna, karena saya pun manusia yang penuh dengan kekurangan dan dosa" Jawabanku sukses membuat Faisal semakin mengembangkan senyumnya, yang membuat aku semakin bertanya-tanya akan sikap dan ucapannya.
"Mas Faisal, pernah dengar tentang kisah kotak pandora????" Tanyaku
"Emh ... kayaknya enggak, kenapa memangnya??" tanya Faisal sambil mengerutkan keningnya,
"Kotak Pandora menceritakan tentang sebuah guci indah yang diberikan oleh para dewa kepada wanita manusia pertama, Pandora, pada pesta pernikahan Pandora dengan Epimetheus. Akan tetapi Pandora dilarang untuk membuka kotak tersebut. Namun, Pandora amat penasaran dengan isi guci itu dan ia pun membukanya. Ternyata kotak itu berisi segala macam teror dan hal buruk bagi manusia, antara lain masa tua, rasa sakit, kegilaan, wabah penyakit, keserakahan, pencurian, dusta, kedengkian, kelaparan, dan berbagai malapetaka lainnya. Dan dengan terbukanya guci itu, segala kejahatan pun berhasil bebas dan menjangkiti umat manusia. Semua keburukan itu merupakan hukuman dari Zeus atas tindakan pencurian api Olimpus oleh Prometheus. Pandora amat menyesali perbuatannya. Ketika ia kembali melihat ke dalam kotak, ada satu hal yang masih tersisa di dalam kotak dan tak
mampu terbang bebas, hal tersebut adalah harapan," Aku bercerita panjang lebar pada Faisal sambil menerawang jauh ke awan. Aku menoleh Faisal yang tengah memperhatikanku juga,
"Tapi Mas, aku sama sekali tidak ingin memberi harapan itu padamu, aku belum siap menerima hati siapapun di hidupku, aku akan sangat berdosa jika aku memberikan sebuah harapan pada orang yang jelas tidak akan aku terima cintanya" Aku terpaksa harus jujur dengan hatiku pada Faisal kali ini, entah mengapa, meski aku tau Faisal dan Sintia sudah lama putus, tapi aku masih tidak bisa menerima cinta Faisal.
"Anjani, aku bukan penulis, aku tidak bisa merangkai kata, aku pun bukan mahluk sempurna, aku hanya manusia penuh kekurangan dengan segudang masa lalu yang kelam, tapi aku akan mengutip ceritamu tentang kotak pandora," Faisal menghentikan ucapannya, dia menatapku lekat, aku tidak ingin membalas tatapannya, aku memalingkan wajahku ke samping, sungguh aku tidak menginginkan Faisal.
"Harapan, Iya selamanya aku akan menyimpan harapan itu padamu Anjani" Kata Faisal bersungguh-sungguh,
Aku tersenyum kecut padanya, mulut laki-laki tidak sepenuhnya bisa di percaya, apalagi untuk pria sekelas Faisal yang sudah berpengalaman untuk urusan perempuan, Ku ikat rapat-rapat imanku, aku tidak ingin terjerumus pada hal yang bisa membuatku tersandung dan terjatuh.
"Mas Faisal, aku harap mas bisa mengerti ke adaan aku sekarang, Aku tidak bisa mas" Jawabku sambil terus menggeleng - gelengkan kepala,
"Tapi kenapa Anjani?? Kamu tidak percaya dengan ketulusan hati saya yang dari dulu sangat mencintai kamu??? Apa perlu aku bawa orangtua aku buat ngelamar kamu???" Tanyanya, terdengar suaranya begitu parau,
__ADS_1
Aku tersenyum mendengar ucapan Faisal, laki - laki memang sama saja, ketika ke inginannya belum terpenuhi, usahanya begitu kuat.
"Tidak apa-apa mas, biar Jani saja yang tau alasannya, Jani harap mas Faisal bisa mengerti" Jawabku,
"Ok aku hargai keputusan kamu Anjani, kalau gitu aku pamit pulang aja," Faisal langsung berdiri dan meninggalkanku yang terbengong - bengong sendirian. Faisal mengendarai motornya dengan kecepatan penuh tanpa menolehku lagi,
Aku menghela nafas dan membuangnya kasar, keputusanku sudah tepat, aku belum ingin membuka hati untuk siapapun dan aku tidak memberi harapan untuk siapa pun, iya aku sudah melakukan hal yang tepat.
Aku kembali masuk ke kamar, ku rebahkan diriku di kasur, aku memikirkan setiap kata -kata yang ku ucapkan pada Faisal tadi, sementara aku sudah kehilangan selera untuk menonton drakor lagi.
Aku berdiri lalu keluar dari kamar kosanku, aku mengunci pintu dan berjalan keluar, entah aku tidak memiliki tujuan, aku hanya terus berjalan aku butuh udara segar untuk menenangkan fikiranku.
Tak tersa sudah hampir setengah jam aku berjalan menyusuri jalanan, hingga aku merasa lapar, dan memutuskan untuk berhenti di salah satu warung tenda di pinggir jalan, aku masuk ke dalam tenda, tidak terlalu ramai pengunjung hanya ada satu dua orang saja, lalu aku duduk di kursi yang telah di sediakan.
Pelayannya datang dan tersenyum padaku "Mau pesan apa mbak??" Tanyanya,
"Soto ayam aja mas, di makannya di sini ya" Jawabku
"Baik, di tunggu sebentar ya Mbak" jawab si pelayan ramah,
" Baik ..." aku pun tersenyum tipis pada pelayannya yang segera beranjak pergi, demi menyiapkan pesanan konsumennya,
Aku duduk menunggu pelayan, sambil mengedarkan pandanganku pada sekeliling warung tenda ini, tapi di salah satu kursi pembeli telah duduk sepasang manusia yang sepertinya aku kenal,
Aku mendelikkan mataku, iya sepertinya aku mengenal perempuan yang membelakangiku, perempuan itu duduk menghadapi seorang laki laki, sambil berpegangan tangan dan ketawa ketiwi, Akhirnya rasa penasaranku mengalahkan segalanya, aku memutuskan untuk menghampiri mereka.
"Sintia??!!!, Kamu di sini??" Tanyaku, benar dugaanku perempuan ini Sintia orang yang sudah membuat hidupku menjadi rumit,
"A A Anjani" Jawab Sintia terbata-bata, terlihat wajahnya begitu kaget melihat kedatanganku.
"Jelasin sama aku Sintia!!! Semuanya!!Sekarang!!!" Kata-kataku sungguh tak terkontrol,
"A aku ... maafkan aku Anjani" Terlihat wajah Sintia seketika memerah menahan tangis,
"Ya udah, jelasin ke aku sekarang Sintia" Aku mulai melemah, aku tak kuasa jika harus melihat Sintia menangis.
"A a akuuuu ... "
Bersambung........
Jangan lupa like, komentar, bintang lima dan juga Vote.........
__ADS_1