
“Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setetes embun, yang turun dari langit, bersih dan
suci, cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, maka akan tumbuhlah hal-hal tercela, tetapi jika ia jatuh pada tanah yang subur, maka di sana akan tumbuh kesucian hati, dan hal lainnya yang terpuji, jadi pada dasarnya, hidup ini akan jauh lebih mulia, bila saling
mengasihi. Namun, cinta tidak akan hadir jika hanya berharap, cinta akan hadir jika kita saling membagi” aku melipat sebuah kertas berisi catatan kecil ini, yang ku ambil dari tulisan almarhum Profesor Doktor Buya Hamka.
Iya, cinta itu harus saling membagi, maka akan kubagi cinta ini padamu nak, ku elus perutku, kini usia kehamilanku sudah memasuki usia empat bulan dalam kandungan. Tak terasa, tapi janin ini terus
tumbuh di rahimku, meski seiring usianya bertambah, maka semakin sakit pula yang kurasakan.
Setiap kali aku memeriksakan kandunganku, saran Dokter masih tetap sama.
“Ibu Anjani, harus secepatnya mengubah keputusan, meskipun janin ini tumbuh dengan normal, tapi saya tidak menyarankan untuk Ibu terus mempertahankan kandungan Ibu“
Suara itu terus menggema di dalam gendang telingaku, “Tidak, aku akan tetap membawanya lahir kedunia ini, dia anakku, darah dagingku, aku tidak akan membunuhnya, apapun yang terjadi“ Ku bulatkan tekadku.
Aku membereskan kertas-kertas di antara buku yang novel yang sudah lama tidak aku baca, kamar ini, aku merindukannya, ya ... kini
aku ada dirumah iIu.
Pluk ...
Sebuah kertas berukuran kecil, terjatuh
begitu saja, aku mengambilnya, kemudian memutarnya, dan terlihat dengan jelas,
itu adalah hasil USG anak pertamaku, anak hasil pernikahanku dengan Bagas.
“Apa kabar Kakak?” Aku mengelus foto itu dengan mata yang sudah mengembun,
meskipun aku tidak menyukai Ayahnya, tapi aku juga sangat mencintai anakku, seandainya aku tahu dia ada didalam rahimku kala itu, akupun pasti akan melakukan hal yang sama, aku akan mempertahankannya, apapun yang terjadi.
“Jan“ tiba-tiba Ibu menyentuh bahuku.
“Astagfirullah“ Aku mengerjap.
“Kamu kenapa?” tanya Ibu pelan.
“Gak apa apa bu“ jawabku sambil menyeka air mata.
“Kamu baik-baik saja??” Ibu menatapku lekat.
“Tidak apa-apa Ibu, aku hanya mengingatnya“ jawabku sambil menunjukkan foto USG pada Ibu.
Ibu tersenyum, lalu memelukku penuh haru “Tidak apa-apa, wajar jika seorang Ibu mengingat anaknya, seburuk apapun seorang anak, dimata Ibu, dia tetaplah sempurna, entah anak itu masih ada di sisinya, ataupun
__ADS_1
sudah tidak ada di sisinya“ Ibu mengusap air mataku dengan jarinya.
“Ibu, apa Ibu bahagia dengan kehadiran cucu Ibu??” tanyaku, ku tatap wajah Ibu yang di penuhi dengan gurat bahagia.
“Tentu saja, kehadiran cucu adalah hal yang sangat Ibu tunggu, kamu tahu Jan?? Bahkan para tetangga hampir tiap hari nanya ke Ibu, ‘Bu Maya kapan punya cucu??’ “ Ibu menirukan suara para tetangga.
Aku terkekeh “Lalu ??”
“Ya sekarang Ibu bisa jawab ‘Aku sekarang sudah punya dua cucu sekaligus‘ dan mereka terdiam, lalu tidak berani bertanya lagi“ Ibupun ikut terkekeh geli dengan jawabannya.
“Apa Ibu sangat senang??” tanyaku lagi memastikan.
“Tentu saja, sangat, sangat senang, hari tua Ibu, akan di penuhi oleh canda tawa dari cucu cucu Ibu“ jawab Ibu antusias.
Aku kembali tertunduk, anak ini begitu di nantikan kehadirannya oleh semua orang, apalagi oleh Mamah mertuaku, beliau yang paling heboh memamerkan cucu yang bahkan belum lahir ini, sudah repot-repot dari
sekarang membelikan banyak baju dan mainan untuk bayi, padahal belum tahu juga
jenis kelaminnya apa, tapi Mamah Anita hanya membelikan banyak mainan untuk
anak laki-laki, karena beliau sangat yakin, jika cucunya akan terlahir dengan jenis kelamin laki-laki.
“Ibu, Jani akan mendatangi makam anak Jani,“ Kuputuskan untuk mendatang makam anakku, yang selama ini belum pernah aku
pergi sebelum dilahirkan.
“Apa kamu akan kuat?” tanya Ibu.
“Iya, in sya Allah Jani akan kuat bu“ Aku tersenyum menggenggam tangan Ibu.
“Baiklah, Ibu antar ya“ Ibu menawarkan diri.
“Tidak Ibu, Jani bisa sendiri, lagian Jani kan di antar Pak Anto“ jawabku.
“Ah, baiklah, tapi jangan lama-lama ya Jan, Ibu
cemas“ pinta Ibu, aku mengangguk, lalu beranjak, menaiki mobil yang disopiri pak Anto.
“Bu, maaf, Bapak nanya, katanya Ibu lagi apa??” kata Pak Anto di tengah perjalanan kami.
“Ah, iya, bilang aja saya mau ke makam anak saya pak“ pintaku.
“Baik bu“ Pak Anto dengan sigap mengangguk.
Hening, ku tatap jalanan dari jendela kaca mobil yang kutumpangi.
__ADS_1
Setibanya di pemakaman, aku berjalan dengan lutut gemetar, “Maaf karena tak pernah mengunjungimu, tapi, doaku selalu
menyertaimu, apa kamu sudah bahagia sekarang?? Apa kamu sudah di syurga?? Ah ... bagaimana jika Ibu segera menyusulmu saja??” lirih, hatiku terus bertanya.
Ku usap nisan, yang bertuliskan Bagas JR. Entah apa maksudnya, tapi mungkin ini hanya untuk menandai, jika darah yang bersemayam di dalam sana, adalah benih Bagas, tak terasa air mataku menetes kian deras, perasaan seorang Ibu yang kehilangan anak yang sangat di harapkannya, juga perasaan seorang Ibu, yang kini tengah berjuang antara hidup dan mati, untuk memperjuangkan nyawa baru. Bisa di bayangkan, bagaimana hatiku saat ini.
“Anjani“ suara itu, aku begitu mengenalnya, tapi siapa?? Ku putar tubuhku, untuk melihat sosok yang memanggilku.
“Mas Bagas??” Aku tersentak kaget, menatap wajah Bagas yang kini tengah berdiri tepat di hadapanku.
“Kamu mengunjungi makam anak kita?” tanyanya.
Deg!
Perasaan apa ini?? Kenapa akhir-akhir ini, aku selalu di pertemukan dengan masa laluku?? Apa dunia sungguh hanya selebar daun kelor?? Apa pribahasa itu benar adanya??.
“I iya“ jawabku, kemudian menundukkan pandangan.
“Apa kabar??” Bagas mengulurkan tangannya padaku.
“Baik“ jawabku sambil menelungkupkan tangan di dada.
Bagas menurunkan kembali tangannya, “Maaf“ katanya, kemudian dia mulai berjongkok di depan onggokan tanah berukuran kecil itu, lambat mungkin dia sedang berdo'a, lalu menyirami tanah dengan air, dan menabur bunga. Setelahnya dia berdiri, lalu kembali menatapku.
“Apa kamu sering kesini??” tanyanya.
“Tidak, baru kali ini“ jawabku, sambil memalingkan pandangan, ada rasa tidak nyaman karena Bagas terus memandangku.
“Kamu lagi hamil lagi sekarang??” tanyanya sambil menatap perutku, yang mulai terlihat.
“Iya“ jawabku singkat.
“Selamat ya Jan, aku turut bahagia“ Dia tersenyum padaku, senyuman tulus dari seorang mantan suami.
“Terimakasih“ jawabku, akupun kembali berjongkok, ku usap ujung nisan anakku, tetesan air mata ini tak bisa ku tahan, hingga
kembali terasa perutku begitu ngilu, perih, dan sakiittt ...
“Aaaawwww ...” Aku meringis, sambil mencengkram perutku.
“Jan, kamu kenapa??” tanya Bagas ikut berjongkok, mencoba mengecek keadaanku.
Bersambung.......................
Jangan lupa tinggalkan jejaknya readers.....
__ADS_1