KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Om Pras


__ADS_3

Trek ... trek ... trek ...


Terdengar suara berisik dari arah dapur, “Mungkin itu Indah,”  gumamku dalam hati, rasanya sangat malas harus keluar dari selimut yang menggulungku, berbeda dengan orang disampingku, dia dengan sigap membuka selimut, lalu keluar dari kamar, mungkin dia mau menuju dapur, melihat apa yang terjadi, tak lama kemudian terdengar suara berisik, yang mau tidak mau mengundang rasa penasaranku untuk bangun dan melihat apa yang terjadi.


“Indah, lagi apa kamu?” tanya Anwar.


“Eh, lagi masak mie Kak“ jawab Indah, sambil tetap fokus pada panci mie dihadapannya.


“Oh, iya lanjutin aja ya, hati-hati pake pancinya, itu panci kesayangan Anjani“ lagi, Anwar mengingatkan Indah.


“Iya Kak,“ Indah menjawabnya malas, kemudian beranjak mencuci tangan di air kran.


“Eh, awas itu, nanti wastafelnya basah semua, Anjani marah kalau tempat kesayangannya jadi basah dan becek,“ lagi-lagi Anwar menyerukan kekhawatirannya.


“Ya amppuuuuunnnnn, iya, aku tahu, panci, wajan penggorengan, wastafel, bahkan upil kak Anwar juga milik Kak Jani!” teriak Indah yang sudah mulai jengkel.


Sementara Anwar hanya terkekeh “Iya, aku gak mau Anjani kecewa karena barang-barangnya rusak“ Anwar menggaruk tengkuknya yang kurasa, tidak terasa gatal.


Aku yang dari tadi menonton drama Adik, dan Kakak iparnya ini segera menhampiri,


“Eh, kalian kenapa sih?? Kok pada berantem, ini udah malem, bahkan mau subuh,“ leraiku.


“Kakak, masa iya, aku mau pinjem panci teruuusss aja di ingetin, kalau ini panci milik Kakak, gak di ingetin juga semua orang udah tahu, kalau rumah ini beserta isinya, termasuk Kakak ganteng ini nih, semuanya milik Kakak,“ Indah mengadu padaku.


“Udah, kalian kenapa sih?? Ribuuuttt terus!“ Kataku sambil mengucek mata, menahan kantuk.


“Ya udah sayang, kita kekamar lagi aja yuk,“ ajak Anwar.


“Iya, kita shalat tahajud aja, lagian tanggung mau tidur lagi juga,“ Ajakku sambil berlalu, mendahului Anwar masuk kamar.


***


“Dek, mungkin ada baiknya kita berkunjung kerumah Ibu, ya kita pastikan sekali lagi tentang keputusan Ibu“ Ajakku pada Indah, saat kita sarapan bersama.


“Iya juga ya Kak, lagian Indah penasaran Kak, pria yang akan menjadi Ayah Indah nanti“ jawab Indah antusias.

__ADS_1


“Ya sudah, An aku bolehkan berkunjung kerumah Ibu lagi?” izinku pada sang Suami.


“Iya, boleh, nanti aku jemput kamu ya, kalau aku pulang kerja“ suamiku kemudian manggut-manggut.


“Makasih ya An“ Aku menatap suamiku lekat, ah ... dia begitu baik dan pengertian, hampir setiap keinginanku selalu dipenuhinya, tanpa harus menunggu lama, tanpa harus berdebat, tanpa harus merajuk.


“Iya, sama-sama sayang,“ jawabnya sambil mengelus pipiku dengan tangannya.


“Eekkhheeemmmm ... gombal teruuusss“ Indah yang dari tadi melihat keromantisan kita mulai protes.


“Eh, sayang, kamu denger ada yang berdehem gak sih??” tanya Anwar sambil menahan tawanya.


“Udah, jangan ribut terus, ayo lanjutin makannya“ Aku melerai mereka lagi.


“Eh, Kak, kemaren aku lihat ada tas bagus banget lho,“ Indah membuka suaranya lagi.


“Oya?? Dimana?” tanyaku basa-basi.


“Itu di mall“ jawab Indah, sambil terus mengunyah.


“Aku mau banget Kak, cuman uangnya belum cukup“ lanjut Indah.


“Ya udah nabung dulu aja, lagian kamu kenapa sih?? Selalu aja mau barang-barang mahal begitu, kalau gak penting banget gak usah dibelilah“ Aku mencoba menasihati Indah.


“Yah, Kakak gimana dong?? Aku udah suka banget“ jawab Indah, dari dulu sifat keras kepalanya sulit sekali di hilangkan.


“Ya udah beli aja,“ tiba-tiba Anwar menimpali.


“Hah?? Maksudnya gimana Kakak Ipar??” dih, dasar pada carmuk mereka.


“Iya, beli aja tas yang kamu mau, nanti uangnya minta sama Kakak kamu“ Ah ... Suamiku tidak hanya baik padaku, tapi juga pada keluargaku, aku nyium sepuluh kali aja boleh gak sih?? Sekarang?? Hhee.


“Horreeeee ... makasih ya Kakak Ipar, Kakak Ipar memang yang terbaik!“ Indah berteriak kegirangan, lupa dia jika tadi malam mereka baru berdebat masalah panci, he.


Sementara aku hanya geleng-geleng kepala, melihat tingkah mereka.

__ADS_1


Selesai sarapan, dan mengantar Anwar berangkat kerja hingga ke depan pintu, aku dan Indah langsung bersiap-siap untuk mengunjungi rumah Ibu, kemudian kami berangkat dengan menggunakan taksi online yang kupesan.


Setibanya dirumah Ibu ...


“Assalamu’alaikum Ibu,!“ teriakku, saat kami tiba dirumah Ibu, begitupun Indah, dia langsung menerobos masuk kedalam rumah.


“Wa’alaikumsalam, eh kalian kenapa bisa barengan??” tanya Ibu, sambil menatap kami bergantian.


“Iya bu, semalam Indah nginep di rumah Jani“ jawabku sambil mencium tangan Ibu.


“Eh, lagi ada tamu“ Aku menoleh keruang tamu, kembali kulihat pria yang sama, dengan pria yang kulihat kemarin.


“Iya, itu Om Pras, ayo sini kita kenalan dulu“ ajak Ibu sambil menuntun kami, sementara Indah sudah cemberut semenjak melihat kehadiran pria tersebut.


Aku menatap pria itu dengan seksama, wajahnya terlihat lebih muda dari wajah Ayah, aku kira usianya 'pun lebih muda dari Ayah, penampilannya sangat modis untuk seukuran bapak-bapak, dan yah satu hal yang paling tidak kusukai dari orang ini, dia terus memperhatikan ponselnya, bahkan disaat aku bertanya padanya.


Fiks aku menyimpulkan jika dia bukan orang baik, bisa di bayangkan, seorang bapak-bapak yang hampir kepala lima, tapi masih senyam-senyum sendiri nonton di youtube dkk, update status di fb, bolak balik cek WA. Bagaimana mungkin dia bisa menjadi imam yang baik untuk Ibu, dan bisa menjadi panutan bagi kami?.


Dan satu lagi, kenapa dia terkesan mengada-ngada dengan segala harta yang dia miliki, ah rasanya hati ini tidak sreg sama sekali pada pria ini, tapi sebisa mungkin aku tutupi segala kecemasanku.


“Ibu, Ibu yakin mau menikah dengan pak Pras?” tanyaku pada Ibu, kala Pak Pras sudah pulang dari rumah.


“Iya, Ibu yakin, kenapa?? Kalian tidak setuju??” tanya Ibu.


“Bukan begitu bu, aku akan setuju Ibu melakukan apapun, selama itu membuat Ibu bahagia, tapi bu ... “ suaraku tercekat, aku ragu mengatakan apa yang kami lihat kemarin, kala pulang dari rumah Ibu.


“Tapi apa??” Ibu mendelik.


“Kemarin, waktu pulang dari sini, Jani liat Pak Pras, sedang di kelilingi wanita cantik bu,“ jelasku, akhirnya kuputuskan untuk jujur, ini lebih baik, daripada Ibu menyesal nantinya.


“Ah masa sih?? Ah paling itu pelanggannya, bisalah perempuan kalau sama pria yang banyak uangnya suka pada nempel“ Aku sedikit tertegun dengan jawaban Ibu, ada yang aneh, ada yang berubah, biasanya Ibu akan selalu waspada, teliti, hati-hati, dan bijaksana dalam menilai sesuatu, tapi kali ini Ibu terkesan buru-buru, dan tak mau mendengar ucapanku. Ada apa dengan Ibu sebenarnya???.


Bersambung..........


Hay readers, jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaaa......

__ADS_1


__ADS_2