
Anjani POV
Dalam hidup selalu ada kata perbaikan, entah menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk. Hobiku adalah membaca novel dan menonton drama, jika di dalam drama atau novel yang ku baca, ketika tokoh utama di dalam cerita tersebut pada awalnya selalu mendapatkan kekecewaan dan penderitaan, tapi pada akhirnya mereka akan bertemu dengan bahagia.
Sering aku menonton drama yang ketika salah satu tokohnya di tinggalkan oleh pria yang buruk, maka di akhir cerita mereka akan bertemu dengan seorang pria yang lebih baik lagi, terlepas dari seperti apa prosesnya. Setidaknya di setiap cerita, akan selalu ada orang yang peduli pada si tokoh utamanya, entah dia berwujud sahabat, orangtua, saudara, ataupun kekasih.
Tapi kenapa tidak dengan hidupku, aku tidak memiliki siapapun di dunia ini, aku hanya memiliki Allah di hatiku. Aku sering mengatakan kata “SABAR” pada orang lain, orang-orang yang sedang di landa masalah, orang-orang yang sedang mengalami frustasi akan hidupnya sendiri, tapi pada kenyataannya “Sabar itu seperti semut hitam di atas batu hitam, di malam yang amat kelam,“ sabar itu adalah praktek yang sulit, bahkan aku kini seolah kehabisan stock kesabaranku, sekarang aku faham kenapa Sabar itu imbalannya syurga. Ternyata sesulit inilah praktek dari kata SABAR.
Sering aku berkata pada orang lain, Jika Allah itu maha Adil, maha Bijaksana, tapi kenapa saat ini hatiku berbisik, bahwa Allah kini sedang bersikap tidak adil padaku?? kenapa ujian ini terasa berat sekali?? kenapa Allah terus mengujiku lewat orang-orang yang ku sayangi?? kini menurutmu lebih tidak adil mana antara hidupku dengan hidup indah adik ku yang ngakunya selalu di perlakukan dengan cara tidak adil? kenapa semua orang menorehkan kecewa besar di hatiku.
Jika aku di suruh memilih, maka aku akan lebih memilih menjadi salah satu tokoh di novel atau drama saja, sungguh aku sudah lelah dengan setiap ujian yang telah Allah gariskan kepadaku, aku ingin istirahat sejenak.
__ADS_1
Aku mengerjapkan kedua mataku, aku melihat sekelilingku, ku edarkan pandanganku, kulihat ada ibu yang sedang menggenggam tanganku, sambil mengoleskan minyak angin di dahiku, Ibu duduk tertunduk di tepi ranjang yang tengah aku tiduri kini. Dan aku juga melihat Indah yang sedang memegang gelas minum, di belakang Ibu. Perlahan aku mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya, ah iya tadi aku pingsan. Setelah menerima kabar
bahwa Faisal dan Tiara akan menikah.
“Anjani, kamu tidak apa-apa nak??” tanya Ibu sambil mengusap pipiku lembut, terlihat gurat khawatir di wajah Ibu.
“Jani tidak apa-apa ibu, Jani baik-baik saja“ jawabku pelan sambil tersenyum pada Ibu.
“Percayalah Ibu, Jani sangat baik-baik saja” jawabku, masih berusaha membuat suasana jadi tenang.
Anehnya kini aku tidak bisa mengeluarkan setetespun air mata, aku hanya bisa mengerutkan dahi, dan mengurut dadaku, hal yang sangat sia-sia ketika aku memutuskan untuk terus menunggu Faisal, 100 persen dia menghianatiku dengan temanku.
__ADS_1
Iya Faisal akan menikah dengan Tiara, seorang manusia yang dulu selalu aku bela, entah bagai mana caranya, aku pun tidak tahu, mungkin saja suatu hari nanti aku akan faham, bagaimana cara mereka bertemu, saling jatuh cinta, Tiara hamil duluan, hingga mereka memutuskan untuk menikah.
Apa pula alasan Tiara memfitnahku, hingga aku di pecat dari kantor, dan apa motif Tiara mengambil Faisal dariku.
Ah, seketika aku mengingat Sintia, mungkin ini adalah bagian dari teguran Allah untukku, aku dulu dekat dengan Faisal saat Faisal masih dekat dengan Sintia, lebih tepatnya Faisal terus mendekatiku saat dia masih memiliki hubungan dengan Sintia. Hingga aku terbuai dan memutuskan untuk menerima segala kekurangan Faisal, kejadian ini persis seperti kala itu, waktu di mana aku bertemu dengan Sintia di warung tenda, dan Sintia mengungkapkan kekecewaannya padaku, apa dulu Sintia merasa sesakit ini?? tapi bukan kah aku menerima Faisal jauh setelah mereka putus??.
Aku pernah membaca status seorang teman di facebook yang inti dari tulisan nya “kamu akan kehilang sesuatu yang kamu cintai sama seperti ketika kamu mendapatkannya“ iya ini sedang aku rasakan kini, Faisal menikah dengan orang yang pernah aku lindungi, aku merasa lebih kotor dari sampah, setelah berhubungan sekian lama, tak pernah ada keseriusan dari Faisal.
Tapi Tiara?? meski hanya kenal beberapa saat mereka langsung memutuskan untuk menikah. Ini sungguh tidak adil bagiku bukan??? Sungguh aku tidak ingin membenci ke adaan ini, tapi hatiku telah di penuhi oleh kebencian yang aku hindari .
Bersambung.................
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, kasih bintang lima dan vote sebanyak banyak nya yareaders....makasihh.....