
Cahaya mulai membias masuk dari celah gorden yang menutup kaca besar di sisi kanan ranjang, sementara kedua lelaki itu, masih terbaring dengan napas-napas teratur. Pemandangan yang selalu kujadikan tontonan setiap pagi.
“Pagi istriku“ Anwar memelukku erat.
“Pagi“ jawabku tersenyum.
Lalu aku beranjak menuju dapur, aku memasak untuk mereka, menikah dengan Anwar tidak hanya menjadikan aku sebagai seorang istri tapi juga sebagai seorang Ibu.
“Masak apa hari ini??” Anwar memelukku dari belakang.
“Sop Ayam“ jawabku, dengan tangan terus menaduk sop.
“Aku suka itu“ jawabnya sambil berlalu memasuki kamar.
“Bangunkan Fadli!!!” teriakku.
“Iya“ jawabnya.
Pagi, aku terbangun, lalu menyiapkan sarapan, dan menyiapkan pakaian untuk mereka.
Ah, iya hari ini Fadli mulai masuk sekolah TK. Usianya sudah lima tahun, aku sangat bahagia bisa melihat tumbuh kembang Putraku dengan baik.
Dia anak yang lahir dari rahimku, dia anak yang luar biasa, karena mampu bertahan dari semua hal yang menderanya.
“Ibu ... “ putraku datang menghampiriku, sambil menggisik matanya, mungkin masih mengantuk, karena sudah di bangunkan Ayahnya.
__ADS_1
“Iya sayang?” Aku berjongkok, mencium kedua pipinya.
“Hari ini aku masuk sekolah“ jawabnya tersenyum penuh semangat, memperlihatkan deretan giginya, yang berbaris rapi.
“Iya sayang, hari ini Fadli sekolah“ Aku tersenyum, mematikan kompor, lalu menuntunnya masuk kedalam kamarnya, lalu memandikannya, dan menyiapkannya segala kebutuhannya.
“Ibu, apa nanti teman Fadli akan banyak?” tanyanya, sambil membenahi tas, dan buku-buku bergambar spiderman pemberian Neneknya.
“Iya, nanti Fadli akan bertemu banyak teman, dan Ibu guru juga“ jawabku semangat.
“Apa mereka baik??” tanyanya ragu.
“Tentu saja“ jawabku.
“Ibu??”
“Iya sayang?”
“Adik? Kenapa Putra Ibu bertanya seperti itu?”.
“Aku ingin seperti Clara Ibu, dia punya adik laki-laki“ jawabnya polos, mungkin yang dia maksud adalah adik dari anaknya Indah. Ah, iya Indah sudah melahirkan kembali seorang anak laki-laki.
“Yah, nanti Fadli juga akan memiliki adik“ jawab Anwar yang tiba tiba datang dari belakang kami.
“Sungguh Ayah??” tanyanya dengan mata berbinar.
__ADS_1
“Kenapa tidak?? Fadli ingin jadi Abang bukan?” tanya Anwar lagi.
“Iya Ayah“ jawab Putraku semangat.
“Ya Ampun, kalian“ Aku menepuk jidatku, kelakuan mereka sama saja.
Setelah kami sarapan, aku mengantar Fadli kesekolah barunya, dan Anwar berangkat ke kantor.
Begitu menyenangkan, bahagia?? Ya.
Dulu, aku sering bertanya kepada Allah, atas takdir yang menurutku sama sekali tidak adil. Seperti saat anak-anak lain tertawa bersama kedua orangtua mereka, tapi tidak denganku, aku berbeda. Kenapa Allah dengan teganya memisahkan Ayah dan Ibu?? Itu sungguh sangat menyesakkan bagiku.
Hikmahnya, kini aku akan berusaha menjadi Ibu yang baik bagi putraku, melimpahkannya kasih sayang, agar dia tidak merasa kekurangan dalam hal apapun, terutama kasih sayang, yang sangat dia butuhkan. Berjuang untuk bertahan, dan belajar arti sabar.
Kenapa aku harus dikhianati banyak orang?? Terutama orang-orang yang begitu aku cintai??.
Tapi, aku sadar, aku di khianati banyak orang, agar aku bertemu dengan orang yang lebih baik, Allah mengirimkan Anwar di kala aku terpuruk, Allah mengirimkan banyak orang baik lainnya ketika orang yang aku percaya mulai berkhianat dan berpaling.
Allah mengirimkan aku malaikat kecil yang sangat aku cintai.
Kini, aku menghabiskan waktuku dengan keluarga kecilku, yang diisi dengan obrolan-obrolan singkat, kadang kami merenung, kadang kami tertawa, menyesal, dan terdiam disaat yang bersamaan ketika membahas kenangan yang lalu.
Kemudian kami saling meminta maaf satu sama lainnya, ketika kami melakukan banyak kesalahan.
Jadi, semua hanya tentang waktu dan sebuah pilihan.
__ADS_1
Benar kata orang, selalu ada pelangi selepas badai. Aku tahu itu bukan hanya bualan, nyatanya badai yang kuanggap tidak akan pernah berlalu, kini berakhir.
TAMAT.