
Satu bulan kemudian setelah acara pernikahanku, aku pindah untuk tinggal di rumah mertuaku, betapa sedihnya hatiku, kini kejadian itu terulang kembali, aku harus berpisah dengan orang-orang yang paling ku cintai, Ibu, dan Indah, jika dulu aku pindah ke kosan untuk berjuang mencari sesuap nasi, kini aku pindah ke rumah mertuaku untuk mengabdikan diri pada suami dan mertuaku.
Hari pertama hidup bersama orang lain yang sama sekali tidak kita cintai dan tidak kita kenal sebelumnya, menjadi penyiksaan tersendiri bagiku, aku sungguh kaku dan bingung, harus berbuat apa??.
Aku hanya bisa melakukan apa yang aku bisa, di rumah suamiku, juga ada adik iparku yang sudah berumah tangga, dan juga dua adik iparku yang lainnya yang hanya pengangguran.
Rumah menjadi gegap gempita, rasanya pengap oleh suara suara banyak orang, aku yang suka menyendiri dan suka akan suasana tenang dan sepi, menjadi sangat tidak betah tinggal bersama mereka, di tambah jika Bagas sedang berangkat kerja, semuanya terasa sangat canggung.
Belum lagi ke tiga adik iparku yang sangat menguji kesabaranku, adik bungsu yang laki-laki kerjaannya hanya tidur, adik yang perempuan kerjaannya hanya dandan dan teriak-teriak nyanyi, dan adik yang sudah menikah kerjaannya hanya menggendong anaknya ke sana kemari, ibu mertua yang terkena penyakit stroke hanya bisa marah-marah dan teriak-teriak di kursi roda. Rumah berantakan bagaikan kapal pecah, hingga aku bingung harus mulai membereskannya dari mana??.
Kenapa sebelum menikah, ucapan Bapak mertua sangat jauh beda dengan kenyataannya, mungkin ini gunanya kita harus mengenali pasangan kita dan keluarganya sebelum menikah, Agar setelah menikah kita tidak terlalu shock menghadapi kenyataan.
Sekarang, aku harus beradaptasi dengan lingkungan baruku, aku bangun pukul empat di setiap paginya, aku memasak, mencuci piring, mencuci baju, beres-beres rumah dan lainnya, semua pekerjaan rumah tangga aku kerjakan sendiri, tapi ada yang lebih menjengkelkan dari itu semua, semua beban rumah tangga juga di limpahkan kepadaku dan Bagas.
Setiap hari Bapak mertua selalu mengabsen kebutuhan rumah, hingga aku merasa tidak nyaman, belum lagi adik-adik iparku yang selalu membanding-bandingkan perlakuan Kakaknya di sebelum menikah dan setelah menikah, di tambah biaya berobat Ibu mertua yang harus check up seminggu dua kali.
Kepalaku rasanya mau pecah, aku tidak sanggup menanggung semua beban rumah ini apalagi dengan gaji Bagas yang tidak sebesar yang mereka kira. Aku fikir aku harus membantu ke uangan suamiku, akan lebih baik jika aku kembali bekerja. Orang bilang satu tahun pertama ujian pernikahan itu amatlah dahsyat, mungkin sekarang aku sedang merasakannya.
“Mas Bagas, Jani mau minta izin, Jani sebaiknya bekerja lagi saja“ pintaku pada Bagas di suatu hari.
“Kenapa?? gajiku kurang buat kamu??” tanya Bagas.
Aku mengernyitkan dahiku, kenapa Bagas bertanya jika gajinya cukup atau tidak?? apa dia tidak berhitung jumlah pengeluaran dan pendapatan di rumah ini??.
__ADS_1
“Tidak, Jani hanya jenuh saja tinggal di rumah, Jani ingin ada kegiatan“ jawabku masih menyembunyikan kenyataan.
“Tidak, kamu tidak aku izinkan untuk bekerja“ jawabnya,
“Tapi mas ...”
“Tidak!!!!!!” teriak Bagas yang membuatku langsung tertunduk dan mengikuti apa maunya.
Aku sungguh tidak kerasan tinggal di rumah mertua, semakin hari penyiksaannya semakin nyata, hingga suatu hari aku mendengar sebuah kebenaran, di mana ternyata adik ipar dan mertuaku selalu menjelek-jelekkan aku di hadapan Bagas. Hingga aku tak sanggup mengatakannya kepada oranglain, pernah suatu hari ketika aku pulang dari pengajian aku mendengar percakapan Bapak dan anak ini.
“Ayah, Anjani meminta izin dariku untuk bisa bekerja kembali“
“Bagus, kamu mengizinkannya??” tanya Ayah mertua.
“Kenapa tidak kamu izinkan saja?? 'kan lumayan, dulu Ayah menikahkanmu dengan Anjani, karena ayah fikir Ayahnya Anjani yang kaya-raya itu bisa memberikan modal usaha kepada kita, tapi kenyataannya tidak, lagi pula Anjani di rumah hanya nambah beban saja, tidak bisa ngapa-ngapain, beres-beres gak pernah bener, masakannya tidak enak, kalau kamu tidak ada di rumah kerjaannya cuman malas-malasan“ jelas sang Ayah yang membuatku berasa di sambar petir, jadi ini alasan Ayahku dulu tidak merestui hubungan kami? Aku di fitnah Ayah mertuaku sendiri, yang dulu dengan semangat empat limanya menjodohkan aku dengan putranya, tapi kini??? apa yang dia katakan???.
Aku tersenyum di balik pintu yang menghubungkan antara ruang tengah dan dapur ini, hatiku sangat sakit, tiba-tiba perutku sangat sakit dan kram, rasanya aku ingin muntah tapi tidak ada yang keluar, aku terseok-seok menuju kamarku. Aku segera membaringkan tubuhku di kasur, badanku terasa sangat panas. Aku memejamkan mataku yang mulai berair karena menahan sakit.
“Kamu kenapa?? Kapan pulang dari mesjid??” tanya Bagas sambil duduk di tepi ujung ranjang.
“Gak apa-apa” jawabku sambil terus memejamkan mataku.
Bagas menatapku, dan meraba keningku “Kamu sakit??” tanyanya, Aku hanya mampu menggelengkan kepala, menahan pusing.
__ADS_1
“Mas Bagas, kenapa kita tidak pindah dari rumah ini dan kita ngontrak saja?,” tanyaku.
“Kenapa?? Kamu tidak betah tinggal di sini?” tanya Bagas.
“Tidak, aku hanya tidak ingin membebani siapapun di rumah ini” jawabku lesu.
Bagas hanya diam, dia tidak mengatakan sepatah kata apapun, dia bangkit lalu keluar kamar, dia mengambil air dan sebutir obat penurun demam.
“Ini minum dulu, biar panas kamu turun“ pintanya sambil meletakkan gelas di tepi nakas.
“Iya makasih“ jawabku sambil meringis.
Bagas menatapku dalam, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
“Baiklah, kita akan pindah dari rumah ini, kita ngontrak saja, di tempat yang lebih dekat dengan kantorku.
Aku tersenyum, “Makasih ya mas Bagas, aku sayang kamu“ tanpa sadar aku memeluknya. Seolah akan di angkat dari neraka aku sangat bahagia, aku berfikir bahwa deritaku akan segera berahir.
Bagas seperti tersentak ketika aku memeluknya, dia terlihat sangat kaget, tapi hanya diam saja tanpa membalas pelukanku, Aku tersenyum padanya, kali ini aku berfikir, mungkin dia sudah bisa menerimaku sebagai istrinya. Buktinya untuk pertama kalinya dia mengikuti ke inginanku. Ah, aku bahagia.
Bersambung..................
Jangan lupa dukung author terus ya readers, like,komen, bintang lima dan vote sebanyak banyak nya....author tunggu yaaaa....makasiiiihhhhh.......
__ADS_1