
Anwar POV.
Tidak mudah melupakan, tidak mudah kehilangan, perasaan sedih ini seperti mengendap, entah mengapa tapi kesedihan ini sudah berkepanjangan. Jangan bilang ini berlebihan, karena ini yang kurasa, kehilangan ini begitu menyesakkan dada, aku pernah merasakan kehilangan ini sebelumnya, dan sekarang kisah ini kembali terulang, kau tau?? Kehilanganmu hanya akan menambah rasa cintaku padamu. Kehilanganmu membuatku kehilangan akal sehatku, ini seperti kiamat bagiku, aku masih belum rela kehilangan cintamu.
Kini karena kesalahan di masa lalu yang kulakukan aku kehilangan apa yang telah kuperjuangkan mati-matian selama ini, rasanya aku ingin lenyap dari muka bumi ini, kala kulihat bajumu masih menggantung di lemari kita, kala kulihat selimut yang terlipat dengan rapi, yang biasa kita gunakan untuk membungkus diri kita untuk menghindari rasa dingin, dan rasa malu.
Berada di rumah ini tanpamu, seperti kuburan bagiku, ketika berjalan kearah dapur, tempat pavoritemu, panci, kuali, teplon, bahkan komporpun seperti menangis karena kehilangan pemiliknya, tidak kah kamu juga merindukan aku???.
Sepuluh hari sudah, kamu hilang dari pandanganku, kamu tau apa yang kulakukan selama kamu tidak ada disampingku???.
Menangis dan berteriak, hanya itu yang bisa kulakukan, kamu pasti tertawa terbahak-bahak, ketika melihat betapa cengengnya aku, tapi, aku lebih suka ditertawakanmu, daripada harus kehilanganmu.
Aku yakin, kamu masih hidup, meski aku tidak tahu, entah ada dimana dirimu, tapi aku yakin, kini kamu tengah mempertimbangkan untuk kembali padaku bukan??.
“Anjaniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!!!!!” itu adalah teriakanku, ketika berada di tepi jurang, tempat yang membuat kita harus berpisah, suaraku terus menggema kedasar jurang itu, tidakkah kamu mendengarnya?? Tidakkah gema menyampaikan pesan pesanku padamu???.
Ck, kamu bilang kamu adalah orang bijak, nyatanya kamu adalah orang paling egois yang pernah aku kenal, mana mungkin orang bijak bisa meninggalkan suami yang sangat mencintainya tanpa pamit.
Salah, iya, jutaan kali aku sudah meneriakkan kesalahanku, di tempat kau pergi, tapi kenapa kamu tak kunjung kembali.
Sujud??? Baik aku akan bersujud di kakimu, tapi jangan tinggalkan aku.
Sebenarnya kamu ada dimana?? Kenapa?? Bahkan polisi tidak bisa menemukan keberadaanmu??.
Apa Allah menyembunyikanmu??? Agar kamu tidak bertemu denganku??.
Mengertilah akan kesedihanku, dan pulanglah.
“Anwar???” Bu Anita menghampiri anaknya yang masih frustasi, Anwar menoleh tanpa menyahuti pertanyaan Ibunya.
“Anwar, makan dulu ya, Mamah udah masakin kamu“ tawar bu Anita.
“Tidak Mamah, Anjani belum pulang“ jawab Anwar sambil kembali menangis.
__ADS_1
“Sampai kapan kamu akan menyiksa dirimu seperti ini Anwar??” tanya bu Anita, terlihat gurat khawatir begitu terlihat di wajah cantiknya.
“Sampai Anjani memaafkanku Mamah“ jawab Anwar, tubuhnya sudah kembali bergetar.
“Mamah tahu, kamu begitu mencintai istrimu, tapi tidakkah kamu juga menyayangi mamah?? Tidakkah kamu ingin makan hanya demi Mamah?” tanya Bu Anita mulai frustasi.
“Aku juga sangat mencintai Mamah, tapi Anjani belum memaafkanku mah“ Air mata Anwar kembali luruh di pipinya.
“Anjani akan memaafkanmu nak“.
“Tapi, buktinya dia belum kembali Mamah“.
“Dia akan kembali jika sudah waktunya, sekarang makan dulu ya, lihatlah, tubuhmu sudah kurus sekali nak“.
“Bagaimana mungkin aku bisa makan?? Sementara aku tidak tau bagaimana kabar istriku?? Apakah dia masih hidup?? Apakah dia kesakitan?? Aku sama sekali tidak tahu Mamah, semuanya salahku Mamah“ Anwar terus terisak dalam dekapan Ibunya.
“Iya!!! Semua ini salah kak Anwar!” tiba-tiba Indah datang, dan berteriak pada Anwar.
Anwar dan bu Anita terlonjak, lalu menatap Indah yang tiba-tiba saja muncul di balik pintu.
“Iya, semua ini gara-gara Kak Anwar, Kak Anwar yang sudah membuat Kakakku menderita“ Indah kembali menunjuk wajah Anwar.
“Menderita?? Bukankah anakku selama ini selalu membuat kakakmu bahagia??” Bu Anita berapi-api.
“Sekarang kenapa semuanya jadi salah anakku?”.
“Jika Kak Anwar bisa menjaga Kakak dengan baik, Kakak tidak akan kecelakaan dan menghilang, jika Kakak ada maka ibuku tidak akan sakit sakitan“ Indah tak kalah berapi-api.
“Kamu fikir hanya kamu dan ibumu saja yang kehilangan Anjani?? Kamu tidak lihat anakku hampir gila karena kehilangannya, kamu tidak melihat berapa banyak air mataku yang tumpah, hanya karena berharap dia kembali??” Bu Anita lepas control memaki Indah.
“Lalu kenapa kak Anwar membuat kakakku pergi?? Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain Kakak, hiks“ tubuh Indah luruh, kemudian dia menangis hingga terisak.
“A aku tidak pernah membuat Kakakmu pergi, aku sangat mencintainya, jadi bagaimana mungkin aku membuatnya pergi??” tubuh Anwar sudah bergetar hebat.
__ADS_1
“Semuanya salah kak Anwar!!” Indah berteriak, berdiri, lalu berlari keluar pintu.
“I ibu, semuanya salahku“ Anwar mulai menguliti kulit jarinya.
“Tidak nak, semuanya bukan salahmu, Indah hanya asal bicara, ayo kita istirahat dikamarmu“ Bu Anita membimbing anaknya untuk memasuki kamar.
Tiba di kamar, bu Anita mendudukkan tubuh putranya di tepi ranjang, “Anwar duduk dulu disini ya, mamah mau keluar dulu ngambil air minum“ Bu Anita berlalu keluar dari kamar Anwar.
“Lihat, semua orang menyalahkanku atas kepergianmu, apa kamu bahagia, hum??” Anwar berbicara pada bingkai foto yang menempel di dinding.
“Apa kamu sungguh tak akan kembali, ayo bicaralah, kita bahas semua masalah kita hingga selesai“ Anwar menatap foto istrinya yang tengah tersenyum.
“Apa kamu sungguh tak akan bicara???” tiba-tiba Anwar meraih vas bunga kecil yang berada di atas nakas, dan melemparkannya tepat pada tembok di samping foto istrinya, Anwar mengambil pecahan vas bunganya kemudian menyayatkannya pada tangannya sendiri, hingga darah terus mengucur dari tangannya.
“Anwar!! kamu kenapa nak??” Bu Anita langsung masuk kamar, saat mendengar ada keributan dari kamar putranya, bu Anita langsung memeluk putranya erat, sambil menangis.
“Anwar, sadar nak, istighfar, kamu jangan seperti ini“ Bu Anita terus menangis sambil mengelap luka anaknya dengan tissue, kemudian meraih kotak P3K, dan langsung mengobati luka anaknya, setelah selesai memperban luka Anwar, bu Anita mencoba membaringkan tubuh Anwar, dia menatap sendu putranya.
“Sungguh, hanya Anjanikah yang bisa membuatmu tenang???” lirih bu Anita bertanya pada dirinya sendiri.
“Bagaimana cara mamah membantumu nak?? Apa yang harus mamah lakukan selain terus mencarinya?” air mata Bu Anita terus mengalir, hingga membasahi lengan anaknya.
“Mamah, apa Anjani sungguh akan pergi untuk selamanya???” tiba-tiba Anwar bangun, dan menatap Ibunya dalam.
“Tidak, seperti yang kamu bilang, dia akan kembali, jadi bersabarlah, Anwar bisakan jika harus bersabar lagi??” tanya bu Anita sambil membelai wajah putranya.
“Jika aku bersabar apa Anjani akan kembali??” mata Anwar sendu.
“Iya, tentu saja“ jawab bu Anita kembali meyakinkan putranya.
“Baiklah, aku akan bersabar lagi menunggunya“ Anwar tersenyum penuh arti.
‘bahkan hanya karena mendengar namanya, kamu langsung sekuat ini nak, cintamu padanya sungguh luar biasa’.
__ADS_1
Bersambung................
Hay readers, jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaa....