KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Bagas part 5


__ADS_3

Aku tidak ingin menyerah begitu saja, aku ingin bisa mempertahankan rumah tanggaku, bersama perempuan yang bisa mengubah hidupku.


Tapi aku tidak tahu, entah cara yang mana lagi yang harus kulakukan, setelah bersujud meminta ampunan cukup lama, aku memutuskan untuk kembali ke ruangan di mana istriku di rawat, aku membuka pintu dan melihat orang-orang yang berada di ruangan itu menatapku dengan tatapan yang membunuh. Aku menundukkan kepala, dan mendekati istriku. Tiba-tiba istriku bangun dia menatapku dalam, seolah ada kebencian di manik mata indahnya.


“Ibu ... ” panggilnya dengan suara serak, hatiku sangat sakit melihat kondisinya kini. Dia tidak memanggilku, tapi memanggil Ibunya, hatiku sakit, karena aku bukanlah orang yang ingin dilihatnya setelah dia tersadar dari perjuangan hidup dan matinya.


Wanitaku yang sangat kuat itu, berkali-kali meminta penjelasan atas kondisinya. Hingga akhirnya Ibu mertua menjelaskan semuanya. Terlihat mimik wajahnya berubah, tapi dia berusaha menyembunyikan kesedihannya. Hingga dia menyuruh kami semua untuk keluar dari ruangannya. Tapi, aku tidak ingin mengikuti inginnya, aku ingin bisa berada di sampingnya, tapi dia tetap menolakku, dan mengusirku dari ruangannya.


Aku terpaksa keluar ruangan, Ibu mertua sudah menungguiku di depan pintu, dan langsung menarik tanganku hingga aku terkaget-kaget.


“Ibu, ada apa??” tanyaku heran.


“Ceraikan putriku“ lagi-lagi kata kata itu yang keluar dari mulut mertuaku.


“Maksud Ibu apa??” tanyaku kaget, seolah petir sedang menyambarku, setelah permintaan Bapak mertua, kini Ibu mertuapun memiliki keinginan yang sama.


“CERAIKAN Anjani!!” Ibu mertua berteriak, membuat adik iparku yang dari tadi hanya terdiam, seketika memeluk Ibunya.


“Ibu, sudah, Ibu jangan terus marah-marah, nanti darah tinggi Ibu kambuh lagi“ Indah mencoba menenangkan Ibunya.


“Diam kamu!!!” bentak Ibu, yang membuat Indah langsung terdiam.


“Ibu saya mohon, saya janji akan berubah“ pintaku kembali memohon, setelah tadi aku memohon pada Ayah mertua.


“Jangan pernah temui putriku lagi, pergi jauh jauh dari hidupnya!“ pinta Ibu mertua yang membuatku semakin terpojok.


“AAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!” seketika terdengar suara teriakan dari dalam kamar, yang membuat kami kaget.


“Apa itu, Indah Kakak kamu kenapa??? Cepat panggil suster!!“ Ibu panik, dan menyuruh putrinya untuk memanggil Suster, yang tak lama Susterpun datang, dan langsung mengecek keadaan istriku.


“Jangan berani-beraninya kamu menemui putriku kembali!!“ seru Ibu sambil mencengkram tanganku erat.


“Ibu saya mohon, jangan seperti ini“ pintaku, sambil menghempaskan tangan Ibu, dan langsung menerobos masuk ruangan di mana istriku terbaring.

__ADS_1


Aku melihat istriku terbaring lemah setelah mendapat suntikan dari suster.


Hatiku terenyuh, aku tidak tahan melihat deritanya, ya Tuhaaaannn ... aku harus apa???.


Dalam kebingunganku aku keluar dari ruangan ini, aku berjalan begitu saja, sudah tidak peduli lagi dengan decihan Ibu mertua, hatiku kacau sangat kacau. Aku mendengar Ibu mertua terus berteriak agar aku tidak lagi menemui putrinya.


Aku tiba di rumah, hari ini setelah semua yang terjadi, aku memutuskan untuk pulang kerumah orangtuaku. Setibanya di rumah ternyata aku sudah di tunggu oleh kedua orangtuaku.


“Bagas, bagaimana keadaan Anjani??” Ibu bertanya padaku, dengan terbata-bata tidak jelas, karena stroke yang beliau derita.


“Anjani, ke adaannya sudah mulai membaik Ibu,“ jawabku lemah, dan langsung menghempaskan tubuhku di kursi.


“Bagas, apa keputusanmu kedepannya?” tanya Ibu, yang membuatku semakin bingung.


“Entahlah Ibu, aku sangat bingung sekali“ jawabku lemah.


“Bagas, kamu tahu, kamu anak pertamaku, dan kamu adalah saksi bagaimana kerasnya hidupku selama hidup bersama bapakmu“ kata Ibu, kulihat ada gurat kesedihan di matanya.


“Iya ibu, kenapa??” Aku menganggukkan kepala, sambil menerawang, aku menjadi saksi hidup atas perjalanan rumah tangga Ibu, aku sering melihat Ibu di siksa, Ibu di pukul, di caci maki oleh Ayah, dan Ibu hanya bisa menangis dan memohon agar tidak di siksa lagi. perempuan begitu lemah, mungkin itulah yang menyebabkan aku tidak menyukai perempuan.


“Ibu, aku harus apa sekarang?? Aku telah menyakiti perempuan sebaik Anjani, dan sekarang aku kehilangan calon anakku, di tambah kedua mertuaku meminta aku untuk menceraikannya, aku tidak tau harus berbuat apalagi??” Aku menangis sesenggukan di pangkuan Ibu, Ibu mengelus kepalaku dengan lembut.


“Istikhorohlah Nak, minta petunjuk Allah,“ Ibu berkata sambil terus mengelus kepalaku.


“Baiklah ibu,“ jawabku, kemudian beranjak memasuki kamarku, yang dulu pernah aku tinggali bersama Anjani. Aku menatap kamar ini dengan seksama.


“sayang maafkan aku".


Aku merebahkan tubuhku di atas kasur, dan mulai terpejam.


***


“Siapa kamu???” tanyaku pada seorang pria yang mencoba ingin mengambil baju yang kukenakan.

__ADS_1


“Aku?? Tentu saja aku pria yang lebih baik darimu“ jawab pria itu sinis.


“Tidak!! Kamu tidak bisa mengambil baju milikku, kembalikan!!!” Aku mencoba mengambil baju yang terus direbut paksa oleh pria kurus itu, tapi sialnya pria itu begitu kuat.


“Tau dirilah sedikit Bagas, kamu bukan siapa-siapa lagi sekarang,“ pria itu masih dengan senyuman sinisnya.


“Tidak, baju ini milikku, dan selamanya akan menjadi milikku, jadi aku mohon, jangan ambil apa yang sudah menjadi milikku“ Aku terus memohon.


“Pergilah Bagas, pria sepertimu tidak pantas menggunakan baju seindah ini!“ seru pria itu semakin tegas, Aku begitu ketakutan, dan langsung memeluk bajuku erat.


“Anjani tolong aku,“ tiba-tiba saja terlintas dibenakku pertolongan istriku.


“Cih ... setelah semua yang kamu lakukan, masih berani kamu memanggil namanya, tahukah kamu?? Akupun akan mengambil istrimu dari hidupmu“ kata-katanya semakin menyakiti hatiku.


“Tidak, Anjaniiiiiii!!!” ya Tuhan ... aku terbangun dari mimpi burukku.


Dengan napas tersenggal-senggal, aku mencoba mengatur napasku.


“Mimpi apa aku ini??” gumamku.


Tenggorokanku terasa kering, aku keluar dari kamarku, ketika melewati dapur, aku melihat Bapak sedang menonton tv.


“Bagas, belum tidur kamu??” tanya Bapak menghentikan langkahku.


“Sudah pak, aku hanya haus dan ingin minum“ jawabku sambil terus berjalan, mengambil air di atas meja makan.


“Bagas, bercerailah dari Anjani!!“ seru Bapak yang membuatku hampir tersedak.


“Kenapa Bapak??” Aku merasa sudah tidak ada lagi yang bisa mendukungku, kenapa semua orang kecuali Ibu menyuruhku bercerai dari istriku, aku tahu, aku memang seburuk itu, bahkan setelah istriku memberiku kesempatan kedua.


“..............................”


Bersambung..............

__ADS_1


Ayo, tinggalkan jejaknya readers...........


__ADS_2