
Selalu ada kisah dibalik perjalanan, ada banyak kata yang belum sempat terlisankan, dan kini luka mendominasi hatiku sekarang. Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, manusia bertemu hanya untuk saling memberi perkara atau saling memberi makna.
Jika hujan hanyalah sebatas air yang jatuh, maka kamu adalah raga yang tak bisa kusentuh, telah kulewati banyak jalan terjal, curam, berduri, hingga jika aku melewati jalanan itu, maka taruhannya bukan hanya darah, tapi juga nyawa, sempat aku berfikir untuk tetap menunggumu meski dalam rasa sakit, aku ingin bahkan hingga nanti kita masih tetap searah dan setujuan, tapi nyatanya ragamu tak pernah tercipta untukku, kamu hanya pernah singgah dihidupku, dan kini takdir mempertemukan kita dengan cara yang lain, ku tatap pria dihadapanku, kumal, lusuh, bentuk tubuhnya begitu tak teratur, gendut, tapi ah ... sulit kujelaskan.
Aku menatap manik matanya dalam, hingga kami sempat saling pandang untuk waktu yang lama, ada banyak jeritan hati yang mengandung pertanyaan, tapi suaraku tercekat, aku tak mampu mengatakan apapun, aku hanya mampu menatapnya, padahal dulu hatiku selalu mengumpat dan menyumpah nyerapahinya, tapi nyatanya ketika kesempatan untuk saling bertemu itu tiba, aku tidak mampu berkata-kata.
Duk ... duk ... duk ...
Mataku mengerjap, kala bis yang kutumpangi mulai melaju kembali, diapun mulai tersadar, dia menunduk dalam, entah karena malu atau karena membenciku, tapi dia bergegas pergi, menghentikan mobil kemudian turun dari bis yang sempat membawa kami, dia pergi lagi, meninggalkanku yang masih menganga tak percaya. Tak percaya pada takdir yang Allah sematkan padanya. Pria yang begitu angkuh karena jabatannya, pria yang begitu sombong dengan ketampanannya hingga terus bergonta ganti pasangan, pria yang tidak tahu diri dan tidak tau malu, kemana dia???. Tidak, aku tidak ingin mengumpatinya lagi, kini aku semakin percaya jika Allah itu maha adil, maha bijaksana.
Aku memegang pipiku yang sangat panas, dengan punggung tanganku, entah panas karena bertemu masa lalu, entah panas karena lelah menerima kenyataan pahit, entah panas karena udara yang menyerang, ah entahlah, rasa mual ini bahkan sudah semakin tak terbendung lagi, ku edarkan pandanganku, ku tatap jalanan dari dalam kaca jendela, aku tersadar ah iya, aku tidak tau tujuanku akan kemana, bahkan aku tidak tau bis yang kutumpangi ini jurusan mana.
Aku hanya bisa diam, menikmati pemandangan yang kala semakin jauh bis membawaku pergi, maka semakin indah pula pemandangan diluar sana, sebetulnya aku dibawa kemana?? Pertanyaan itu terus muncul dikepalaku.
Semakin lama, semakin jauh, kusandarkan kepalaku di kepala kursi, lumayan bisa mengurangi rasa mualku, hingga tampak sadar aku tertidur.
Duk ... duk ... duk ...
Terasa guncangan bis yang kutumpangi ini semakin kencang, hingga aku terbangun, kulihat orang orang disekelilingku, tengah berpegangan pada kursinya dengan wajah yang amat khawatir, kemudian kualihkan pandanganku pada jendela, “ah...gerimis“ aku menghela napas.
“Sebetulnya aku mau kemana??” Aku bergumam, seketika bayangan Anwar muncul dikepalaku.
“Anwar, kenapa kamu tega melakukan semua ini padaku??” air mataku luruh seketika.
Duk ... duk ... duk ...
__ADS_1
Guncangan ini kian terasa kencang, aku mendengar beberapa ibu-ibu yang ada dibelakangku, makin terdengar berbisik-bisik, beberapa anak balita yang mereka pangku mulai menangis, akupun jadi ikut khawatir, hujan semakin deras, jalanan yang kami lalui cukup terjal, dan juga licin, kupejamkan mataku, segala rasa khawatir dan takut bercampur aduk didalam dadaku.
Kudengar, kini bukan hanya ibu-ibu, tapi juga bapak-bapak yang ada didalam bus ini, ikut berkomentar, mereka tak bisa lagi menyembunyikan ketakutan mereka, sebagian dari mereka sudah memejamkan mata sambil berdzikir, akupun melakukan hal yang sama.
Sempat terbersit difikiranku, aku ingin menghubungi orang-orang yang masih kusayangi, Ayah, Ibu, Indah, ku aktifkan kembali ponselku, ah tapi signalnya menghilang, dan baterainya sebentar lagi akan lowbat, bagaimana ini?? Ada sedikit penyesalan, kenapa aku tadi tiba-tiba saja naik bis ini, tanpa fikir panjang, aku sekarang tidak tahu arah dan tujuanku, tapi kenyataan pahit yang tadi aku terima, juga tak bisa membuatku terus jadi orang yang sabar.
Duk ... duk ... duk ...
”Allahuakbar!!!” takbir menggema dari mulut sebagian orang, termasuk aku, kala kurasakan ada yang tidak beres dari laju mobil ini, hari semakin gelap, di tambah minimnya penerangan,membuat kami sulit meprediksi apa yang sebenarnya terjadi, kulihat dari kursi, pak sopir mulai mengelap dahinya, berusaha melakukan yang terbaik untuk bisa menolong banyak nyawa yang dia bawa.
Mobil kembali berjalan, setelah barusan sempat terhenti, aku kembali bernapas, tapi tiba tiba saja.
Duk...
”AAAAAAAAAAAA!!!!!” kudengar teriakan dari mulut semua orang menggema, kala kurasakan juga tubuhku mulai terseret kedepan, aku hanya bisa pasrah, sudah tak ada lagi yang bisa kulakukan, mungkin ajalku hanya akan sampai disini, aku harus pasrah, apapun yang terjadi, aku tahu Allah sangat menyayangiku. Ini adalah jalan terbaik dari Allah.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!” kali ini teriakan kami lebih panjang.
DDDDDUUUUUUUAAAARRRRRRRR!!!!!
Sempat kudengar suara benda jatuh yang ikut menghempaskan kami, sepersekian detik air mataku luruh dipipi, aku tidak takut dengan kematian, aku hanya takut tidak bisa mempertanggung jawabkan seluruh dosaku dihadapan Allah.
Sempat kudengar, suara rintihan orang-orang,
“Sakkiiiitttt ... ttoolllooonnngggg ... sssaaakkiittt....ttooollloonnnggg“ Mereka menjerit saling menyahuti.
__ADS_1
Kupejamkan mataku, seketika terasa ada yang menjalar dari pelipisku, kuusap perlahan dengan tanganku, dengan menggunakan sisa tenaga yang kumiliki, darah!!. Ini darah, kakiku terjepit kursi, sementara pinggangku tertimpa anak balita yang juga sudah bersimbah darah, aku mencoba meraihnya tapi tidak bisa, tenagaku habis, aku hanya mampu mengedipkan mata.
“Ibu ... tolong Jani,“ lirih hatiku berbicara.
Sayup, kudengar teriakan orang-orang, sekelebat ada banyak lampu yang menyoroti tubuh kami.
“Ttttooollloooonnngggg“ Kudengar suara itu dari balik kursi, tapi entah dari mana.
Perutku terasa sangat sakit, kupejamkan kembali mataku.
“Apa kalian akan bahagia jika aku tiada??” gumamku, sekelebat segala penderitaanku dimasa lalu datang silih berganti, kemudian bahagia yang pernah aku rengguk pun sesekali samar terlihat, bahagia yang pernah kujalani hanya ketika bersama Anwar, jika aku tidak datang ke kantor Anwar siang tadi, mungkin saja aku tidak akan mengetahui kebenaran apapun, dan aku masih tetap akan menjalani hariku yang bahagia bersama Anwar.
“Anwar, apa aku harus memaafkanmu??” lirih di antara kesadaran yang kumiliki aku masih bertanya-tanya.
"Faisal?? Apa kamu begitu membenciku?? Hingga di pertemuan kita yang tampa sengaja tadi, aku harus mengalami sakit lagi??".
“Bu??? Ibu masih sadar?” terdengar suara seorang pria bertanya padaku, dan menggenggam tanganku, tapi aku sudah tak memiliki tenaga lagi, bahkan untuk bicara.
“Bu?? Ibu bisa mendengar saya??” tanyanya lagi.
“Jangan selamatkan aku“ gumamku, yang entah didengar oleh mereka atau tidak.
“Bu ... Ibu???” samar kudengar mereka masih mengajakku berkomunikasi, tapi kesadaranku sudah tak kembali. Aku ingin istirahat barang sejenak, mungkin, inilah cara Allah mengistirahatkan aku, dari segala kepahitan hidup yang kuterima.
Bersambung.................
__ADS_1
Readers, jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaa....