
Hari ini, tepatnya hari pernikahanku dengan Anwar, setelah menentukan tanggal yang baik menurut kedua belah pihak keluarga, jangan tanya seberapa berdebarnya jantungku? Jika pernikahanku sebelumnya, aku sangat tidak bahagia, maka pernikahan kali ini aku sangat bahagia, aku menebar senyum bahagia dan tulus kepada semua orang. Mungkin karena kini, pasanganku juga sangat mencintaiku, dan sangat menginginkan pernikahan ini, Anwar dan aku begitu kompak mempersiapkan segala kebutuhan pernikahan kami. Bahkan Ayah, dan Ibu mertuakupun ikut andil dalam segala halnya.
Terlihat Ibu dan Ayah begitu sibuk mempersiapkan segalanya, meskipun Ayah dan Ibu tidak bisa bersama kembali, tapi mereka begitu kompak, tergambarkan dari pakaian couple yang mereka gunakan, pakaian khas Ibu suri dan Raja, aku terkekeh melihatnya, bahagia dan haru bercampur jadi satu.
Sementara Indah dan Andre, terus mendampingiku, mereka juga tak kalah sibuknya, merekapun bekerja keras untuk pernikahanku kali ini, Alya dan Rani juga sudah datang dari subuh, mereka menggandeng suami mereka dan menggendong anak-anak mereka.
Aku menatap diriku di cermin setelah di rias ala pengantin, dadaku bergetar hebat, meskipun aku sudah pernah menjalani prosesi pernikahan sebelumnya, tapi pernikahan kali ini sungguh berbeda, aku merasa lebih takut, lebih deg-degan, dan lebih cemas. Entah sudah berapa gelas minuman yang kuhabiskan untuk sekedar menghilangkan kecemasanku.
“Jan, kamu gak apa-apa??” tanya Rani yang melihatku kian gelisah.
“Aku gak apa-apa Ran,“ jawabku sambil tersenyum.
“Bener?? Mau minum lagi??” tawar Rani.
“Enggak usah ah ... aku takut beser kalau minum terus“ jawabku sambil terus memperhatikan cermin.
“Udah, jangan ngaca terus Kakak, Kakak terlihat sangat cantik sekali“ puji Indah sambil memeluk bahuku.
“Makasih Indah,“ Aku tersenyum pada Indah.
“Eh, pengantin prianya udah datang!!“ seru Alya yang dari tadi berdiri di depan pintu mengintip keluar.
__ADS_1
Hatiku semakin tak karuan, kali ini aku mengambil konsep pernikahan yang sangat islami, Anwar akan terlebih dahulu mengucapkan ijabnya, sementara aku akan menunggu di dalam kamar, nanti setelah Anwar dinyatakan sah dalam Ijabnya, baru aku akan keluar untuk menyambut suamiku, dan duduk di pelaminan.
Ayah kembali menjadi wali pernikahanku, dulu Ayah begitu menentang pernikahanku dengan Bagas, tapi kini, dengan penuh kerelaan Ayah kembali melepasku untuk di serahkan pada Anwar yang akan menjadi suamiku.
“Anwar Adipati bin Ardi Adipati, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya, yang bernama Anjani Hanjaya, dengan maskawin 100 gram emas dibayar tunai!“ terdengar suara Ayah begitu lantang dan tegas.
“Saya terima nikah dan kawinnya Anjani Hanjaya dengan mas kawin tersebut, di bayar tunai!“ terdengar suara Anwar juga tegas namun sedikit bergetar.
“Bagaimana para saksi sah??” tanya penghulu.
“SAAAAHHHHH!!“ terdengar teriakan dua orang saksi dan orang-orang yang melihat Anwar mengucapkan Ijab, suara gemuruh seketika memenuhi ruangan.
“Jan, selamat ya, semoga pernikahanmu kali ini menjadi pernikahan yang sakinah, mawaddah, warohmah!“ seru Rani dan Alya kompak, merekapun memelukku erat.
“Ayo sekarang kita ke depan, kita temui suami kamu ... “ ajak Rani dan Alya kemudian segera bersiap memapahku.
“Aku yang akan menjemputnya,“ tiba tiba seorang pria datang dan mengulurkan tangannya padaku.
“Anwar ...” Aku semakin terharu dengan kedatangan suamiku kini.
“Jan, mari kita berjalan beriringan“ pinta Anwar sambil tetap mengulurkan tangannya padaku.
__ADS_1
“Ciiieeeeeee ...” seru Alya, Rani, dan Indah kompak.
Aku merunduk malu, pipiku kian menghangat, aku segera menyambut tangan suamiku dan berjalan beriringan keluar ruangan.
Aku berdiri kembali di pelaminan, aku melakukan sungkem kepada kedua orangtuaku dan kepada kedua mertuaku.
“Ibu, Ayah, terimakasih banyak, selama ini Ayah dan Ibu sudah sangat berbesar hati untuk membesarkan, dan mendidik Jani dengan sangat baik, kebaikan Ayah dan Ibu tentu saja, sampai kapanpun tidak akan pernah bisa Jani balas, sekarang restui hubungan kami Ayah, Ibu, semoga pernikahanku kali ini, menjadi pernikahan terahirku di dunia ini“ Aku terisak kemudian tangisku pecah, tak kuasa menahan segala haruku.
“Tentu saja Nak, bahagiamu adalah bahagia kami, kami sangat merestui pernikahan kalian, semoga apapun yang kalian lakukan, berada dalam kebaikan dan selalui di ridhoi Allah“ Ibu pun meneteskan air mata, sementara Ayah hanya tersenyum tipis dengan mata yang sudah berkaca-kaca, Ayah memelukku dengan penuh kasih sayang.
Kemudian aku mencium tangan kedua mertuaku.
“Mamah, Papah, terimakasih banyak sudah mau menerima segala kekurangan Jani, Jani sangat bahagia bisa di persunting oleh Mas Anwar, dan bisa menjadi menantu Mamah dan Papah“ Aku kembali terisak di pelukan mertuaku.
“Kami yang sangat bahagia bisa memiliki menantu sebaik kamu Nak, terimakasih sudah mau menerima segala kekurangan putra kami“ Ibu mertuapun meneteskan air matanya.
Acara hari ini terasa sangat penuh dengan haru biru yang sangat membuatku bahagia, banyaknya tamu undangan yang memberikan selamat pada kami, sama sekali tidak terasa melelahkan bagi kami, mungkin karena kami sangat ikhlas menjalaninya, hingga waktu menuju malam, dan acara telah usai.
Bersambung................
Ayoooooooo dukungannya readers jangan di kurangin yaaaaa.....terus kencengin.....biar Anwar sama Jani seneng dapet kado pernikahan like, koment, dan vote sebanyak banyaknya dari kalian semua.....hheee
__ADS_1