
Setelah beberapa jam bergelut dengan rasa sakit, akhirnya Bapak mertuaku datang, kulihat di matanya ada raut ketidak ikhlasan.
“Kenapa kamu Anjani?” tanya Bapak mertua dengan nada datar.
“Tidak tau Bapak, perut Jani terasa sakit,“ Aku menjelaskan sambil menggigit bibir bawahku, menahan setiap inci rasa sakit yang terus menggerogoti bagian perutku.
“Alah, manja amat, minum air anget aja ntar juga sembuh,” jawab Bapak mertua sambil memalingkan wajahnya.
Entah kata apa yang harus ku katakan, dulu bapak mertuaku ini orang yang paling ngotot untuk menikahkan kami, tapi sekarang sikapnya berubah 180 derajat, aku tau manusia memang makhluk yang sangat mudah berubah-ubah, tapi perubahan sikap bapak mertuaku terlalu signifikan.
“Kamu, sakit gitu aja di rasain, kamu itu kena karma karena tidak pernah bersikap hormat sama suami kamu, selalu semena-mena terhadapa anak saya, sekarang giliran udah sakit ngerengek-rengek minta tolong sama sayah”
Deg,
Penjelasan Bapak mertua membuat aku ternganga, tidak percaya atas apa yang baru saja di ucapkan beliau.
“Ya Allah Bapak, kapan saya bersikap tidak baik pada Mas Bagas?” tanyaku yang semakin erat mencengkram perutku, kenapa Bapak mertua tidak bisa menunda kemarahannya padaku barang sebentar, bahkan di saat aku sedang menahan rasa sakit.
“Anak saya sudah menceritakan semuanya Jani, kamu bukan istri yang baik bagi anak saya, nyesel saya sudah menikah kan kalian” Ucapan bapak mertua semakin menyakitiku saja.
Jadi, selama ini Mas Bagas fitnah aku pada keluarganya, aku yang berusaha memperbaiki hubungan dengannya, tapi kenapa dia malah sebaliknya? Memperkeruh semuanya.
Tiba-tiba aku membenci semua ke adaanku, aku membenci takdirku, betapa Allah dari aku mulai mengingat dunia ini hingga detik ini telah menguji cintaku terhadapNYA.
Tiba-tiba pandanganku kabur, lalu mulai menggelap, aku tidak ingat apapun lagi.
***
Ku lewati masa-masa tersulitku, ah, rasanya tak ada masa sulit yang belum ku lewati, kadang tak jarang aku mengeluh, aku menyerah, aku putus asa. Sering aku ingin berlari dari setiap masalah yang ku lalui, tapi entah kenapa, lagi, lagi, lagi, dan lagi aku bertahan.
Entah apa yang membuatku bertahan, sementara tak ada alasan juga untukku bisa tetap bertahan melewati hidup. Aku fikir mungkin karena Allah masih percaya saja padaku. Mungkin karena aku bisa saja melewati masa tersulitku. Makanya aku masih tetap bertahan, iya mungkin karena itu saja.
***
Aku mulai tersadar, tapi pandangan dan pendengaranku mulai tak karuan, hidungku di tutup masker oksigen, impusan di tanganku terpasang, aku mencoba ingin bergerak,tapi kurasakan sakit yang teramat di sekitar area perut bagian bawahku, kudengar sayup-sayup tangisan Ibu yang berpelukan dengan Indah, Mas Andre pun ada di samping mereka, aku juga melihat Mas Bagas duduk paling dekat denganku, juga Bapak mertuaku yang tadi sebelum aku tak sadarkan diri sempat memaki aku.
Mas Bagas mencoba memegang tanganku, tapi aku berusaha untuk melepaskannya,
“Ibu ...” Aku menatap Ibu, meski kerongkonganku terasa perih dan kering.
__ADS_1
“Iya, Nak, kamu tidak apa-apa 'kan??” tanya Ibu dengan air mata yang berurai.
“Aku sakit apa Ibu??” tanyaku berusaha meraih tangan Ibu.
Seketika Ibu memelukku, dan menangis sejadi-jadinya. Aku bingung dengan ke adaan sekitarku, mereka semua memandangku dengan tatapan iba.
“Ibu, Jani sakit apa??” tanyaku lagi dengan wajah penuh dengan rasa penasaran.
“Kamu sehat Nak, kamu tidak apa-apa” jawab Ibu yang membuatku semakin bingung.
“Ibu, Ibu tau kan?? Jani bukan perempuan yang lemah, Jani akan kuat menerima kabar apapun dari Ibu.“ Aku terus mendesak Ibu untuk jujur.
“Kamu harus sabar ya Nak, kamu baru saja menjalani kuretasi, karena kamu keguguran” jawab Ibu masih dengan ke adaan terisak.
Aku terhenyak, kaget, bagaimana mungkin aku hamil tanpa aku mengetahuinya, atau pun merasakannya, ah kenapa ini? Kenapa dadaku terasa sakit sekali, aku mencoba ingin bicara, tapi kenapa mulutku seolah berat, jujur saja entah mengapa aku ingin memaki semua orang yang ada di hadapanku sekarang, tapi kenapa tak bisa? Kenapa aku tak pernah bisa bahagia walau sedetik? Meski aku telah berusaha untuk menggapai bahagiaku sendiri, tapi kenapa? Bahagia itu semakin sulit ku raih? Untuk pertama kalinya, setelah sekian lama, air mataku meleleh di ujung pelupuk mataku, seolah ingin mewakili setiap beban, derita, dan rasa sakit yang aku alami selama ini, seketika badanku terasa panas, dadaku sesak dan aku hanya bisa menahan semua yang ku rasa, tanpa bisa mengatakannya kepada siapapun.
Aku melihat Bagas yang sedang tertunduk dalam, seolah ada penyesalan yang teramat sangat di jiwanya.
Tiba-tiba dokter masuk ke dalam ruangan, untuk mengganti cairan infuseku yang sudah habis. Dokter tersenyum padaku,
“Ibu Anjani, gimana ke adaannya sekarang??sudah baikan 'kan??” tanya Dokter tersenyum ramah.
“Ibu Anjani, sekarang banyakin istirahat aja ya, biar kondisinya cepat pulih, Ibu mengalami keguguran karena janin Ibu kurang nutrisi, apa sebelum nya Ibu sering berpuasa??” tanya Dokter.
“Iya dokter, sebelumnya saya sering berpuasa senin kamis, karena saya tidak tau jika saya sedang hamil“ jawabku.
“Iya, memang di usia kandungan lima minggu itu jarang bisa di rasakan oleh Ibu hamil, kasus ini sering sekali terjadi, tapi Ibu jangan patah semangat ya, Ibu kan masih muda, masih banyak kesempatan buat ibu bisa hamil lagi“ jelas Dokter panjang lebar.
“Iya Dokter, terimakasih“ jawabku lirih.
“Baik kalau begitu, sekarang Ibu Anjani istirahat dulu ya, saya tinggal dulu, jika ada keluhan, Ibu bisa langsung panggil saya“ pamit Dokter.
“Iya Dokter, sekali lagi terimakasih ya Dok “ jawabku lemah.
“Iya Ibu, sama-sama, permisi“ jawab Dokter sambil melangkahkan kakinya keluar ruanganku.
Semua orang yang ada di dalam ruanganku terdiam, mereka seolah hanyut dengan fikiran mereka masing-masing setelah mendengar penjelasan dari Dokter.
“Ibu ...” Aku memanggil Ibu dengan suara serak.
__ADS_1
“Iya Nak, kamu mau apa??” tanya Ibu lembut, sementara Bagas hanya mampu menatapku.
“Ibu, Jani ingin sendirian, Ibu dan yang lainnya boleh keluar dulu??” pintaku.
“Kamu sudah tidak apa-apa Jan??” tanya Ibu cemas.
“Ibu, Jani perempuan yang kuat, bagaimana mungkin Jani kenapa-kenapa? Jani hanya butuh waktu sendiri Ibu“ Aku tersenyum pada Ibu.
“Baiklah kami semua akan keluar, jika butuh apa-apa, Jani langsung panggil Ibu ya, Ibu akan nunggu kamu di luar“ jawab Ibu sambil beranjak pergi, termasuk Bapak mertua dan adikku juga mengikuti langkah Ibu keluar dari ruangan yang ku tempati. Kecuali Bagas, Bagas masih berusaha mendekatiku.
“Jan, aku mohon, maafkan kesalahanku“ pinta Bagas sambil menundukkan kepalanya.
“Kamu juga boleh keluar Mas, Aku ingin sendiri“ Aku sudah kehilangan selera lagi untuk melihat wajah Bagas.
“Jangan seperti ini Jan, aku sangat bersedih karena tidak bisa menjaga kalian, lalu aku harus kehilangan salah satu di antara kalian, aku mohon maafkan aku“ Bagas masih kukuh berdiri di sampingku.
“Kamu pernah memecahkan kaca mas??Pernah melihat serpihannya kan?? Itulah hatiku saat ini mas, hancur. Meski kamu berusaha menyusun kembali pecahan kaca tersebut, tapi hasilnya masih akan tetap berbekas. Hatiku pun begitu Mas, meski kamu berusaha memperbaikinya, tapi akan tetap ada goresan luka di sana“ jawabku sambil tetap melihat ke arah jendela. Tanpa mempedulikan wajah Bagas.
“Aku mohon maafkan aku Jani“ mohon Bagas, masih tetap memelas.
“Aku sudah memaafkanmu Mas, bahkan jauh sebelum kamu memintanya“ jawabku yakin.
“Jangan seperti ini Jan, aku mohon lihat wajahku“ Bagas mulai berkaca-kaca, entah apa yang ada di fikiran pria ini. Sungguh aku tak dapat menyelami hatinya.
“Kamu boleh keluar Mas, aku ingin sendiri“ pintaku yang membuat Bagas mematung, dan perlahan mulai melangkahkan kakinya keluar ruangan.
Sepeninggalnya Bagas, Aku mulai meneteskan air mata, aku mulai menangis dan menjerit sekuat tenaga, Selama ini aku sudah menahan segala deritaku sendiri.
Sungguh ini ujian terberatku selama ini. Aku kehilangan anakku tanpa aku sadari kehadirannya, hal yang paling menyakitkan bagi seorang Ibu, adapah ketika harus melihat anaknya meninggal duluan.
Aku berteriak histeris, dan melemparkan semua benda yang bisa ku raih, aku bahkan tak merasa sakit lagi ketika jarum infuseku terlepas dari tanganku. Hatiku sungguh sangat hancur. Aku sungguh tidak ikhlas ketika harus kehilangan darah dagingku sendiri.
Aku terus saja berteriak, hingga beberapa suster mendatangiku, dan menyuntikkan beberapa obat ke tubuhku, Aku mulai lemas tak berdaya, hingga lama-lama aku merasa mengantuk dan aku tertidur dalam ke adaan kacau.
“Maafkan Ibu nak, Ibu tak bisa menjagamu dengan baik. Bahagialah di syurga. Tunggu dan jemput Ibu jika waktunya sudah tiba.“
Bersambung .........
Jangan lupa dukungan nya ya readers, like, koment, bintang lima dan juga vote sebanyak banyak nya.....author tunggu ya readers....makasihh...
__ADS_1