KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Bahagia


__ADS_3

Hari berganti terlalu cepat, Aku masih menjalani rumah tangga tidak sehatku dengan Bagas, Hatiku hampa, jiwaku kosong, tapi aku masih menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri, tanpa mempedulikan Bagas.


Bagas masih belum tau jika aku sudah mengetahui penyakitnya. Aku masih dengan setianya menyiapkan segala keperluan suami GAY ku, aku menyiapkan makanan untuknya, menyiapkan pakaian, dan menyiapkan semua nya selayaknya seorang istri normal.


Semenjak pertengkaran kami, kini Bagas sudah mulai jarang menemui kekasih prianya, dan aku juga pernah melihat kekasih prianya menggandeng seorang perempuan cantik di kosannya. Tapi aku tidak peduli, aku sudah mati rasa terhadap Bagas, kini aku semakin menjadi pendiam, untuk mengusir rasa bosanku, setelah pekerjaan rumah beres, dan Bagas berangkat bekerja, aku lebih sering mengikuti acara sosial yang kadang di temani oleh para tetangga, atau aku lebih suka menghabiskan waktuku untuk pergi ke taman kota yang ada mesjid besarnya, jiwaku lebih damai di sana, aku membatasi jarakku dengan suamiku. Aku sungguh semakin tidak menyukainya. Jika aku mengingat kembali kenyataan yang pernah aku lihat.


“Hallo, Jani, kamu di mana??” tanya Bagas via telpon, dia tau aku tidak ada di rumah, karena meski aku sangat membencinya, aku masih meminta izin padanya via chat ketika aku mau keluar dari rumah.


“Aku di taman kota“ jawabku datar.


“ya udah kamu tunggu di sana, aku jemput kamu ya“ tawarnya.


“Gak usah, aku bisa pulang sendiri“ jawabku.


“Gak apa-apa, kamu tunggu ya, aku di jalan menuju ke sana!“ seru Bagas sambil mematikan ponselnya hingga aku tak bisa berkata lagi untuk menolaknya.


Aku menunggu Bagas di taman kota, aku duduk di sebuah kursi yang menghadap mesjid besar, di hadapanku ada banyak bunga-bunga cantik, aku menghirup udara dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. Aku mengedarkan pandanganku, aku melihat di tempat ini banyak sekali keluarga yang sedang bermain, untuk pertama kalinya aku merasa iri dengan mereka, sepasang orangtua sedang membimbing anak balitanya berjalan, kemudian aku melihat ke sebelah kanan, aku melihat lagi orangtua yang sedang mengajarkan anaknya main sepeda.


“Apa aku akan merasakan hangatnya menjadi orangtua?? Apa aku akan mengalami memiliki keluarga yang normal??” gumamku tanpa ku sadari.


“Jan, maaf aku lama“ tegur seseorang yang membuatku kaget, aku menoleh ke arah suara berasal, dan Bagas sudah berdiri tepat di sampingku.


“gak apa-apa,“ jawabku datar.


“Ayo kita pulang“ ajakku.


“Emmmhhh Jan, kamu mau gak shalat maghrib dulu bareng aku?? di mesjid itu” ajak Bagas yang jelas membuatku terbelalak, aku bahagia, tapi aku masih sangat membencinya.


“Iya,“ jawabku ketus, aku seperti tertular gaya bicara suamiku, ketus dan dingin, juga seperlunya.


Seperti mimpi, aku menjadi makmum untuk suamiku, di sujud terahirku, aku melapalkan do'a-do'a yang berisi seluruh ke inginan dan pintaku pada Allah, rasanya sungguh sangat aneh, apalagi ketika aku mengaminkan seluruh do'a-do'a Bagas, aku merasa sangat terharu.


Setelah selesai, Bagas memberikan tangannya padaku, aku sedikit tersenyum, aku meraih tangannya, dan menciumnya. Bagas tersenyum, lalu dia mengusap kepalaku. Dadaku kian berdebar, aku tidak menyangka hari ini akan tiba, aku tidak banyak berharap Bagas bisa mencintaiku, hanya saja kegiatan ini sudah lebih dari cukup bagiku.


“Ayo pulang“ ajakku setelah kami keluar dari mesjid.

__ADS_1


“Jan, kamu mau jalan-jalan dulu gak??” tanya Bagas yang membuatku sangat bahagia dan seketika melupakan semua kebencianku padanya.


“Mau“ jawabku sambil tersenyum dan menganggukkan kepala.


Bagas tersenyum lembut padaku, ah, sepertinya sedang terjadi sebuah mukjijat padaku, aku rasa ini mimpi.


“Ya udah yuk, kita jalan kaki aja ya, kita cari tempat bagus“ ajak Bagas sambil menggenggam jemariku, aku langsung saja mengikuti langkah kaki Bagas.


Untuk pertama kalinya selama kami menikah, kami berjalan-jalan bersama sambil bergandengan tangan, bahkan aku lupa jika aku sedang marah pada suamiku, di sepanjang jalan, ada banyak penjual bunga. Aku melirik bunga-bunga indah itu, tanpa sadar Bagas memperhatikan aku, kemudian Bagas berhenti di salah satu penjual bunga dan membeli setangkai bunga lili putih, lalu di berikan padaku.


“Ini buat kamu“ Bagas menyodorkan bunga yang baru saja di belinya kepadaku.


“Makasih“ Aku menerima bunganya dengan senyum sumringah.


“Iya, ayo jalan lagi“ ajaknya.


Aku terus berjalan, hingga beberapa menit kemudian kami tiba di sebuah kaffe yang cukup besar, Bagas mengajakku masuk ke dalamnya, aku tidak menolaknya, aku hanya terus mengikuti jejak kaki Bagas saja.


Bagas menuntunku untuk duduk di sebuah kursi, dan mempersilahkan aku duduk layak nya tuan putri, “Sebentar, ini pasti mimpi kan??” gumamku dalam hati.


“Pernah berfikir tuk pergi


Dan terlintas tinggalkan kau sendiri


Sempat ingin sudahi sampai di sini


Coba lari dari kenyataan


Tapi ku tak bisa ... jauh


Jauh ... darimu


Ku tak bisa ... jauh ...


Jauh darimu

__ADS_1


Lalu mau apalagi??


Kalau kita sudah nggak bisa saling mengerti


Sampai kapan bertahan seperti ini**??


Dua hati bercampur emosi


Back to reff


Sabar sabar, aku coba sabar


Sadar, sadar, seharusnya kita sadar


Kau dan aku tercipta, nggak boleh terpisah


Back to reff


“Jan, ayo makan dulu!“ seru Bagas mengagetkanku.


“Oh iya,“ jawabku gelagapan.


Akhirnya kami makan bersama, di sebuah kaffe romantis, di iringi oleh penyanyi yang bersuara merdu, hari ini aku teramat bahagia.


“Jan, aku boleh ngomong??” tanya Bagas setelah sesi makan kita selesai.


“Boleh, kamu mau ngomong apa??” tanyaku.


“Jan, aku ...........”


Bersambung.................


Kira kira Bagas mau ngomong apa ya???


Jangan lupa dukungannya ya readers............like, komen, star five dan vote sebanyak banyak nya. Makasiiihhhh................

__ADS_1


__ADS_2