KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Rewel


__ADS_3

“Ayah, aku mau main kerumah Ibu nati siang, katanya nenek Fadli kangen sama cucunya“ Aku izin pada suamiku, untuk pergi kerumah Ibu.


“Nanti malem aja, pas aku pulang dari kantor“ Anwar selalu begitu, ancamannya kala itu, dia sungguh tidak main main, dia tidak mengizinkan aku pergi dari rumah jika tanpa dirinya.


“Malem, Fadli pasti udah tidur Ayah, kasiankan Fadli?” Aku mencoba bernegosiasi.


“Baiklah, jangan menatapku dengan tatapan seperti itu, aku tidak suka, kalian boleh pergi, tapi ajak Bi Lastri dan pak Anto“ jawabnya.


“Baiklah, terimakasih“ Aku tersenyum, mendekatinya, lalu memasangkan dasi di kerah bajunya.


“Ini, Handphone baru, yang kemaren masih matikan?” Anwar memberikan bungkusan berisi handphone baru dengan merek dan type yang sama.


“Terimaksih“ Aku mengembangkan senyumanku.


“Sama-sama“ Anwar mengecup keningku lama, kemudian tersenyum.


“Ayo makan dulu“ Ajakku, kemudian berjalan menggandeng tangannya, menuju ruang makan.


“Hay Tiwi“ Aku menyapa Tiwi, kala kulihat Tiwi sudah duduk rapi, lengkap dengan menggunakan baju kerja, seperti biasa dengan menggunakan makeup yang berat.


“I iya bu“ Tiwi menganggukkan kepalanya.


Aku menarik kursi, lalu duduk disamping Anwar, mengambil piring, mengisinya dengan nasi dan lauk-pauk, lalu menyodorkannya pada suamiku dengan senyuman yang menggoda. Ck, he.


“I ibu, maaf“ ragu Tiwi memanggilku.


“Iya, kenapa wi??” tanyaku menatapnya.


“Bo boleh gak?? Kalau saya ikut pak Anwar berangkat kerja?? Kita kan searah“ pintanya, aku mengernyitkan dahi, bingung mau jawab apa.


“Emangnya kenapa mau bareng sama suami saya?” tanyaku akhirnya.


“Gak apa-apa bu, mau hemat aja“ jawabnya menunduk.


Aku terdiam, menimang, keputusan apa yang pantas untuk permintaan Tiwi, jika aku mengiyakan maka aku tak akan sanggup melihat suamiku bersama perempuan lain, ya meskipun Anwar aku yakin dia adalah laki-laki setia, tapi jika aku melarang, maka jiwa tidak enakan ini akan meronta-ronta.


“Iya, boleh“ jawabku sambil melirik Anwar, tapi yang dilirik malah memutar kedua bola matanya.


“Aku sibuk, dan buru-buru“ jawab Anwar.


“Ayah, jangan begitu, kaliankan satu arah“ Aku mencoba membujuk.


“Hmht“ jawabnya, tanpa melanjutkan kata.


Aku tersenyum pada Tiwi, dia mungkin sudah mengerti, jika dia boleh pergi berangkat kerja dengan Anwar suamiku.


“Makasih bu, pak“ jawabnya sambil memanggutkan kepala.


“Iya, sama-sama“ jawabku.

__ADS_1


Selesai sarapan, aku mengantarkan Anwar hingga kedepan pintu, ku lambaikan tangan kananku, sementara tangan kiri, erat menggendong putraku, tak lupa Tiwi juga ikut bersama Anwar. Aku tersenyum kearah mereka, mengantarkan keberangkatan mereka dengan senyumanku.


“Sekarang kita main kerumah nenek yaaa“ Aku menggendong Fadli yang baru saja aku mandikan, lalu kudandani, putraku begitu tampan, dan wangi khas bayi.


Dia tersenyum, lalu memegang wajahku dengan kedua tangannya.


“Bi!!!” teriakku.


“Iya Bu" Bi Lastri datang dengan sudah bersiap.


“Udah siap?? Suruh pak Anto siap-siap juga ya“ titahku pada bi Lastri.


“Iya, baik bu“ Bi Lastri memundurkan langkahnya.


Aku menggendong putraku, lalu bersiap menaiki mobil yang sudah di siapkan pak Anto.


“Hhuuuaaaaaa ...!!!” tiba-tiba saja Fadli menangis sangat kencang, tidak biasanya putraku begini.


“Loh?? Fadli kenapa nak??” Aku berusaha menenangkannya.


“Hhuuuaaaa ...” Fadli terus meronta memegang pintu kamar, seolah dia tak ingin pergi.


“Loh?? Fadli gak mau berangkat?? Kita kan mau ketemu nenek“ jelasku.


“Nek nek“ jawabnya, tiba-tiba tangisnya berhenti.


“Huh ... huh ... “ jawabnya sambil manggut-manggut.


“Anak baik, jangan nangis lagi ya“ Aku menggendong putraku keluar, dan menaiki mobil, begitupun bi Lastri, dia ikut naik mobil juga.


Mobil berjalan pelan, aku menikmati perjalananku dengan di temani celotehan dari putraku, sesekali dia terkikik, karena Bi Lastri mengajaknya bermain.


Setibanya di rumah Ibu, aku segera turun, dengan Fadli yang tak lepas dari gendongan.


“Hay cucu nenek“ Ibu histeris menyambut kedatangan Fadli.


“Nek nek“ Fadli mengacungkan tangannya.


“Iya Nenek, sini sayang“ Ibu mengambil alih gendongan Fadli dariku, aku mengikuti Ibu masuk kedalam rumah, sementara Bi Lastri dan Pak Anto menurunkan barang bawaanku, dan Fadli.


“Men bu men“ Fadli merajuk.


“Apa nak? Mau permen??” tanya Ibu.


Aku tersenyum “Spidermen Nenek, ini mainannya Fadli“ Aku menyodorkan mainan favoritenya Fadli.


Fadli tersenyum riang, lalu dia asyik bermain sendiri, sementara aku dan Ibu duduk memperhatikannya.


“Nak, mana Anwar suamimu??” tanya Ibu.

__ADS_1


“Dia kerja bu“ jawabku.


“Emh, rumah tangga kalian baik-baik saja bukan??” tanya Ibu, Ibu seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi seperti tercekat kala Bi Lastri ikut bergabung bersama kami.


“Iya bu baik“ jawabku, lalu kami mulai terhanyut pada obrolan kami yang kesana kemari, hingga tak terasa waktu berlalu dan hampir sore.


Aku mencoba menelpon Anwar, tapi nomornya tidak aktif dari tadi siang, semenjak aku mengabari jika aku sudah tiba di rumah Ibu.


“Anwar kemana ya?? Tidak biasanya dia mematikan ponselnya, biasanya dikit-dikit langsung video call dengan putranya“ Aku berjalan mondar-mandir.


“Kenapa nak??” tanya Ibu.


“Gak apa-apa Ibu“ Aku menggeleng, menepis rasa khawatirku.


“Bi Lastri, kita pulang yuk, udah sore, belum masak buat Anwar“ ajakku.


“Iya bu“ Bi Lastri segera beranjak, lalu membereskan semua mainan Fadli, dan memasukkannya kedalam mobil.


Setelah berpamitan pada Ibu, aku kembali pulang kerumah, sepanjang perjalanan aku hanya terdiam.


“Hhhuuuaaaaa ...!!“ tiba-tiba Fadli menangis dengan kencangnya.


“Loh?? Kamu kenapa nak??” Aku mengelus pundak putraku, yang berada dalam gendonganku.


“Hhuuaaaa ...!!“ Fadli masih histeris, aku memeriksa popoknya, tapi Fadli tidak pipis, aku juga berusaha memberinya ASI, tapi Fadli menolak.


“Nak?? Kamu kenapa rewel sekali hari ini?? Tidak biasanya??” Aku menimang-nimang putraku, dengan perasaan kacau, aku paling tidak bisa jika melihat putraku menangis.


Sepanjang perjalanan, putraku terus menangis, entah apa yang di inginkannya, hingga pak Anto dan Bi Lastripun ikutan cemas.


Barulah, jarak tinggal beberapa meter lagi menuju rumah, Fadli bisa tenang, lalu mulai sayup tertidur.


Aku menghela napas panjang, setibanya di depan rumah, aku segera turun dari mobil lalu menuju pintu utama.


Ttrreekkk ...


Ku tarik gagang pintu “Loh?? Kok gak di kunci?? Apa Anwar udah pulang ya?? Ah, iya itu mobil Ayah nak“ Aku tersenyum, ternyata Anwar sudah di rumah.


Aku berjalan perlahan, menuju kamarku, berniat melihat Anwar terlebih dahulu, pasti dia ada di kamar.


Perlahan ku buka pintu kamarku, tak ingin membangunkan putraku, yang baru saja ingin tertidur.


Krrriiieetttt ....


“Anwar!!!! apa-apaan kamu???!!!”


Bersambung...................


Hay readers jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaa.....

__ADS_1


__ADS_2