
Tiba di depan rumah, ku hentikan langkahku, kuedarkan pandangan, taman kecil yang selama ini sangat aku rawat, terlihat kacau, bunga-bunga cantik yang selama ini sangat kusayangi menjadi layu, kering, dan hampir mati, kolam ikan kecil di tengah taman juga tak kalah kacau, ikannya mati mengambang.
“Ck, apa selama ini kamu tidak menjaga benda-benda kesayanganku An?” gumamku.
“Sayang, sebentar lagi, kamu akan bertemu ayahmu, apa kamu bahagia??” tanyaku sambil mengelus perutku yang masih rata.
Tok ... tok ... tok ...
Aku mengetuk pintu, terlihat tak ada tanda tanda kehidupan disana, apa Anwar sedang berangkat ke kantor???.
Tok ... tok ... tok ...
Kembali aku mengetuk pintu,
Krriiieetttt ... Pintu terbuka
“Anjani!! inikah kamu?? Sungguh??” seorang perempuan tiba-tiba menghambur kedalam pelukanku.
“Ma mah“ Aku terbata, kala melihat Mamah Anita menangis terharu dalam pelukanku.
“Kamu kemana aja Jan?? Kamu tau semua orang sangat cemas, dan khawatir, kami mencarimu kemana-mana“ Mamah Anita terus bertanya padaku, sementara aku hanya tersenyum menatapnya, ada rasa bersalah di hatiku, karena aku tidak segera pulang, aku sudah membuat Ibu mertuaku sangat khawatir.
“Maaf Mamah, aku ...” Aku terdiam, entah aku harus mulai menjelaskan keadaanku dari mana.
“Tidak apa-apa, ayo masuk“ seolah memahami maksudku, mamah Anita menarik tanganku untuk memasuki rumah.
Kembali kuedarkan pandangan, vas bunga kesayanganku, soffa yang aku beli bersama Anwar, lukisan, dan segala benda yang ada dirumah ini, kenapa terlihat begitu kacau, semua sudah tidak pada tempatnya lagi. Aku berjalan mengikuti langkah Ibu mertuaku.
“Mamah,“ Aku terdiam.
“Iya, kenapa Jan?? Kamu mau sesuatu??” tanyanya.
“Anwar??” tanyaku.
“Anwar, ada dikamar, kamu mau menemui suamimu lagi kan Jan??” tanya Mamah ragu, yah ... mungkin Mamah sudah tahu duduk permasalahanku.
“Tentu Mamah“ jawabku sambil tersenyum.
“Terimakasih sayang, karena masih mau menemui suamimu yang sudah mengecewakanmu, apapun keputusanmu Mamah akan dukung“ Mamah Anita meneteskan air matanya, aku tahu, kecemasan sedang menyelimuti hatinya.
“Tentu Mamah, Anwar masih suamiku, aku harus menemuinya“ jawabku, sambil mengelus bahu mamah, mencoba untuk menguatkan hatinya.
Mamah mengangguk, kemudian mempersilahkan aku masuk kedalam kamar, tempat Anwar berada.
Kkrrriiieettt ...
Pelan, aku membuka pintu, kulihat keadaan kamarku ini, tak jauh beda dengan keadaan diluar, semuanya kacau.
“Ck, ternyata kamu sama sekali tidak berguna, apa gunanya uangmu itu, jika untuk membereskan rumah saja kamu tidak bisa“ gumamku, tak terasa air mata jatuh di pipiku, kala kulihat seorang pria tengah berbaring di atas ranjang, dengan di tutupi selimut hingga ke dada, “Apa kamu sakit???” hatiku bertanya.
Perlahan, aku mendekatinya “An...” aku memanggilnya, tapi suaraku tercekat, entah apa yang harus kukatakan, dia masih belum bangun, apa dia tidak menyadari kehadiranku??.
“Anwar,” Aku menyentuh wajahnya, wajah yang selama ini selalu dihiasi senyuman, kemana perginya wajah itu??.
Kulihat, perlahan dia membuka matanya, kemudian mengerjapkannya, seolah tak percaya dengan pemandangan yang dilihatnya.
__ADS_1
“A anjani?? Sungguh?? Inikah dirimu?? Apa aku berhalusianasi lagi??” tanyanya sambil menyentuh pipiku, tangannya terasa hangat.
“Ini aku“ aku menyentuh tangannya yang di balut perban.
‘Apa kamu terluka?? Kenapa tanganmu di perban??’ hatiku bertanya lagi.
“A anjani??? Ini sungguh dirimu???” tanyanya lagi memastikan.
“Hmht“ jawabku sambil mengangguk, air mataku luruh dipipi, semakin deras. Segala rasa berkecamuk dihatiku.
“Tidak, ini pasti salah“ Dia menggelengkan kepalanya berkali-kali.
‘Apa selama ini, kamu selalu berhalusinasi bertemu denganku??’
“Kamu kenapa pergi???” air matanya sudah tumpah, aku mecoba menyekanya dengan jariku.
“Maaf“ jawabku.
“Aku mohon, jangan pergi lagi, aku akan berlutut di hadapanmu, aku minta maaf untuk semua kesalahan yang pernah aku lakukan, tapi jangan pergi lagi, aku mohon!!“ teriaknya, begitu mengiba.
“Kamu tidak perlu berlutut, Aku sudah memaafkanmu“ jawabku, sambil menggenggam tangannya, tangan yang selama ini selalu menolongku.
“Iya, kamu benar, ini Anjaniku, Anjaniku sudah kembali,“ Anwar memelukku erat, sambil menangis meraung-raung.
“Aku pasti kembali Ayah Anwar“ bisikku di telinganya, setelah tangisnya mereda.
Seketika Anwar mematung, dia terdiam, kemudian menatapku penuh dengan tanda tanya, mencoba mencerna bisikkanku tadi, aku faham dia mungkin tidak mengerti, kenapa aku memanggilnya ‘Ayah’. Aku tersenyum kemudian menggenggam tangannya, dan menempelkannya pada perutku.
“Aku sedang hamil, anak kamu“ bisikku.
“Hmmhh ... aku hamil Anwar“ Aku mempertegas pengakuanku.
“Sungguh?? Apa aku akan menjadi ayah??” tanyanya dengan mata berbinar.
“Iya, apa kamu bahagia??” tanyaku.
“Sangat, dan lebih dari itu, melihatmu kembali padaku, mengetahui kamu telah memaafkan semua kesalahanku saja aku sudah bahagia luar biasa, dan sekarang, kamu juga membawanya?? Ini sungguh keajaiban bagi hidupku“ seketika wajah sendunya berubah menjadi sangat ceria.
“Terimakasih untuk semuanya“ kembali dia memelukku erat.
“Sama-sama“ jawabku sambil membalas pelukannya, rindu ini, begitu keterlaluan.
“Ayah Anwar?” sapaku di tengah pelukan kami.
“Apa sayang??” Dia mendongakkan kepalanya menatapku lekat.
“Berapa hari kamu tidak mandi??” tanyaku tiba-tiba, yang baru menyadari ada bau yang menyengat dari tubuh Anwar.
“Emmhh“ Dia garuk-garuk kepala, mungkin bingung, entah sudah berapa lama dia tidak mandi.
“Apa selama aku tidak ada kamu tidak pernah mandi??” tanyaku tak percaya, berharap tebakanku tidak benar.
“Mungkin“ jawabnya sambil menutup mulut.
Aku menggelengkan kepalaku, “Apa kamu bersedih ketika aku tidak ada??” tanyaku.
__ADS_1
“Jangan tanyakan itu Jan, aku begitu menderita ketika kamu pergi“ jawabnya sambil menunduk, rona bahagia yang tadi terpancar kembali memudar.
“Lalu, kenapa kamu mebuatku pergi?” tanyaku.
“Aku mana mungkin, bisa membuatmu pergi, masa lalu itu, aku minta maaf Jan“ lagi-lagi Anwar mengucapkan hal yang sama.
“Aku sudah memaafkanmu, berjanjilah An, jangan pernah mengulangi masa lalu itu lagi, mulai sekarang, kita harus memperbaiki diri, karena kita sekarang sudah mau punya anak, kita harus menjadi figur yang baik untuk anak-anak kita nanti“ pintaku.
“Aku janji, aku akan jadi suami, dan Ayah yang baik untukmu, dan untuk anak kita nanti“ matanya kembali berbinar.
“Aku tahu, kamu suami yang baik An, aku harap hal ini tidak akan terjadi lagi“.
“Aku akan berusaha Jan“ Kami kembali berpelukan melepas rindu.
Setelahnya, kami kemudian mengobrol, menceritakan apa saja yang telah terjadi selama kami berpisah.
“Jan?”
“hhmmhh?”
“Ceritakan padaku, selama ini apa yang sudah terjadi padamu??”.
“Banyak hal yang sudah terjadi padaku“
“Apa saja??”
“Apa kamu ingin tau?? Perjuangan aku dan anakmu melawan maut??".
“Tentu saja, selama ini aku terus mencarimu, tapi kenapa kamu tidak bisa ditemukan?? Kamu bersembunyi dimana?? Pasca kecelakaan itu??”.
“Aku ada disuatu tempat yang damai, tentram, dan menyenangkan”.
“Jadi, selama ini kalian bersenang senang, sementara aku disini sangat menderita“.
“Ck, mana bisa orang baru siuman dari koma, di bilang bersenang senang?? Aku hanya senang tinggal di tempat itu".
“Sungguh??? Apa kita harus pindah kesana agar kamu bisa hidup senang di sana selamanya??”.
“Lebay“
“Tapi aku merindukanmu“
“Aku juga“
“Sungguh??”
“Hmhh, anakku juga rindu kamu“
“Anak kita“
“Iya, anak kita".
Bersambung..................
readers Jangan lupa tinggalkan jejaknya yes.....
__ADS_1