KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Ulang Tahun Fadli


__ADS_3

Hari terus berlalu, tak terasa hari ini, adalah hari ulang tahun putraku yang pertama, sungguh tak terasa, aku sungguh menikmati peranku sebagai seorang Ibu, sebagai seorang istri.


Hubunganku dan suamiku seperti biasa, kami bisa di bilang pasangan yang harmonis, dengan bumbu ujian yang kadang tak bisa di duga.


Hubunganku dengan keluargaku yang lainnyapun terasa adem, ayem.


Tiwi masih betah tinggal di rumahku, meski kadang aku harus menahan diri, dengan segala tingkah anehnya, tingkah khas remaja, yang kadang begitu sulit aku jangkau.


“Selamat ulang tahun cucu nenek“ Mamah Anita memberikan bingkisan berisi buku gambar, crayon, dan tas bergambar spiderman, yah ... sekarang putraku sudah bisa mulai berjalan, meski kadang masih tertatih-tatih, dan juga hobinya adalah mencoret-coret tembok, pernah suatu ketika aku sangat kaget, ketika melihat kamarnya yang di cat dengan serapih dan seindah mungkin, tiba-tiba di penuhi oleh coretan tangan Fadli, dengan menggunakan spidol permanen milik ayahnya. Fadliku, tumbuh menjadi anak yang pandai, dan super aktif.


“Selamat ulang tahun juga cucuk nenek“ tak mau kalah Ibu memberikan bingkisan besar, berisi baju, sepatu, dan topi yang juga bergambar spiderman.


Aku tersenyum, terharu akan kasih sayang para Nenek ini.


“Dan ini dari Tante“ Indah menyodorkan bingkisan yang di bungkus kertas kado, berisi mainan yang juga berkaratkter spiderman, “Selamat ulang tahun ya ... ponakan ateu“ Indah mencium pipi Fadli dalam gendonganku.


Fadli tersenyum, “Sih, sih, sih“ hanya itu yang terdengar jelas di pendengaranku, mungkin dia ingin mengucapkan terimakasih.


Semua tergelak, karena kelucuannya.


“Dan ini dari Bibi, untuk Aden Kecil“ Bi Lastri memberikan sebuah bungkusan kecil.


“Bibi kenapa repot-repot?“ tanyaku, begitu terharu dengan semua kasih sayang yang melimpah, yang di berikan semua orang untuk Fadli.


“Tidak repot kok bu, hanya hadiah sederhana yang tak seberapa, semoga Ibu mau menerimanya“ Bi Lastri tersenyum, aku tahu ada ketulusan di matanya.


“Tentu saja Fadli akan suka, terimakasih ya Bi“ Aku menerima bingkisan dari bi Lastri, yang entah isinya apa. Lalu menyatukannya dengan hadiah yang lain.


“Dan ini, dariiiii ayaaaahhhh!!!“ tiba-tiba Anwar muncul dari belakang, dengan mendorong sebuah sepeda mini.


“Ya ampuuunnnn!!“ Aku tepuk jidat, Fadli mana bisa menaiki sepeda?? Ini ulang tahunnya yang pertama, bukan yang kelima.


“Hhhheee ...” Ayahnya tersenyum, di iringi oleh gelak tawa putranya, yang seolah mengerti. Lalu di iringi lagi, dengan senyuman semua orang.


“Dan ini dari Om“ Andre menyodorkan sebuah bungkusan kecil, yang entah berisi apa.


“Selamat ulang tahun ya ganteng“ Andre mengusap kepala Fadli.


“Terimakasih Om“ jawabku sambil tersenyum.


“Sama-sama“ jawab Andre.

__ADS_1


Sementara Tiwi hanya terdiam, dia tidak memberikan apapun, dan tanpa reaksi apapun. Dia hanya menyimak setiap ucapan kami. Pandangannya tak beralih dari suamiku.


Aku tidak suka itu. Wajarkah itu???


“Sekarang, Fadlinya potong kuenya yaaa ...” Mamah Anita mencoba meraih pisau plastik, yang sengaja aku siapkan.


Aku tersenyum, sementara Fadli hanya terus berceloteh, mungkin dia sangat bahagia, yah ... meskipun aku tidak mengadakan pesta yang meriah, pesta yang besar-besaran. Aku hanya ingin putraku hidup sederhana, aku ingin putraku bisa menghargai hasil jerih payah orangtuanya, dengan tidak menghamburkan uang orangtuanya. Meskipun sebetulnya kami mampu, mengadakan pesta yang megah, mengundang banyak tamu, tapi tidak. Aku tidak ingin putraku tumbuh menjadi anak yang berlebihan.


Setelah acara potong kue selesai, kemudian kami beranjak untuk makan bersama, rasanya begitu nikmat, bisa berkumpul dengan seluruh keluarga, makan bersama, berbagi cerita, berbagi tawa. Tak ada yang lebih menyenangkan selain daripada hal ini.


“Fadli, tunggu disini sebentar ya nak, Ibu mau kedapur dulu“ Aku mendudukkan Fadli di karpet, tapi Fadli malah menarik ujung gamis yang ku gunakan.


“Kenapa?? Fadli gak mau di tinggal???” Aku berjongkok, mengelus kepalanya.


“Ini, Fadli pegangin ini ya“ Aku menyodorkan susu yang di kemas di dalam dotnya.


Fadli, masih meronta, seolah meminta sesuatu.


“Baiklah, sekarang Fadli nungguin Ibunya, sambil nonton ini ya“ Aku mengeluarkan ponsel baru berlogo apel di gigit, pemberian Anwar beberapa minggu yang lalu. Kemudian memutar video si kembar upin ipin, kesukaan Fadli.


Fadli langsung anteng, sambil tengkurep, dia tertawa menonton video yang kuputar.


Lima belas menit kemudian, aku kembali menemui putraku yang masih asyik menonton, sambil tertawa.


“Fadli mam dulu ya“ Aku berjongkok duduk.


“Bu, mam, nok, nok, mimi“ Fadli menunjukkan ponsel yang sudah tergeletak.


“Kenapa?? Ya ampuuunnn nak!!“ Aku terbelalak dengan perasaan yang entahlah ...


“Kenapa?” Anwar datang dari belakangku, sementara aku hanya terdiam, tak bisa bicara, handphonku, di kucuri oleh susu dari botol dot Fadli, hingga ponselku mati.


“Ini“ Aku menyodorkan ponsel pada Anwar.


“Mati??” tanyanya.


“Hmhht“ jawabku, hanya itu yang mampu kukatakan.


“Sayang, kenapa kamu siram ponsel Ibu??” Anwar duduk sambil bertanya pada putranya.


“Nok yah, nok“ jawabnya, berusaha menjelaskan.

__ADS_1


“Fadli, ini bukan sendok, ini ponsel“ jelas Anwar.


“Nok Yah, nok“ Fadli ngotot, sambil menunjuk ponsel yang sudah mati tak berdaya.


Aku menarik napas panjang, Fadli putraku, apapun kesalahannya, akan ku maafkan, apalagi kini Fadli hanyalah seorang balita, yang belum mengerti apapun. Tapi yah ... masih nyesek aja, liat ponsel baru itu, harus sudah wafat.


“Nanti aku beliin lagi yang baru yaaa ... “ Anwar tersenyum padaku.


“Hhmmhhht“ jawabku lemah.


“Hhhhuuuaaaaaa ... “ tiba-tiba Fadli menangis dengan sangat kencangnya.


“Loh??? Kok nangis??? Ibu gak marah kok“ sontak aku merangkul tubuh Fadli.


“Cup cup cup, jangan nangis lagi yaaa“ Aku menepuk-nepuk punggungnya pelan.


Seolah merasa bersalah, Fadli terus menangis dalam gendonganku, membuat gaduh suasana rumah, hingga yang lain datang berkerumun.


“Kenapa cucu nenek?” tanya Mamah Anita khawatir.


“Gak apa-apa Nenek, Fadlinya lagi drama aja“ jawabku sambil terkikik.


“Itu mah, ponsel baru Ibunya, dia siram pake susu dari botolnya, sampe mati“ jelas Anwar.


“Oohhh ya ampuunn ...” semua tertawa.


“Maklum, mungkin dia merasa tidak enak hati, dia merasa bersalah“ jawab Ibu, sambil tertawa.


“Dia mewarisi sifat kamu Jan, yang suka gak enakan“ lanjut Ibu.


“Ah, dasar anak Ibu, udah ya jangan nangis lagi, kan sekarang punya banyak hadiah“ Aku menggendong Fadli ke kamarnya, dan menimang-nimangnya, berharap dia bisa tertidur.


Tapi Fadliku memang begitu, mungkin benar apa yang dibilang Ibu, dia selalu merasa tidak enakan dan amat sensitif, jika ada hal kecil terjadi padaku, maka sontak dia akan menagis sejadi-jadinya.


Fadli, masih terisak, hingga pada akhirnya dia terlelap dalam gendonganku, mungkin karena lelah, sudah terlalu lama menangis.


Aku menidurkannya, di dalam boxnya, putraku tertidur dengan tenang dan damai, menemui alam mimpinya.


Bersambung.......................


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers.............

__ADS_1


__ADS_2