
“Ibu, Jani masih belum siap jika harus membangun rumah tangga lagi untuk waktu dekat dekat ini” jawabku selembut mungkin, tak ingin mengecewakan Bu Anita yang berharap padaku.
“Saya mengerti Jan, fikirkan baik-baik permintaan saya, Anwar sangat mencintaimu dari dulu semenjak kalian bertemu“ Bu Anita tersenyum penuh arti padaku. Aku hanya menunduk diam.
“Baik ibu, insya Allah pasti Jani fikirkan“ jawabku tersenyum.
“Saya harap, keputusan kamu adalah keputusan terbaik untuk kita semua Jan, jujur sayapun sudah sangat menyayangi kamu, seperti pada anak saya sendiri, saya tahu kamu perempuan yang bijak Jan,“ ucapan Bu Anita rasanya semakin memojokkanku.
“Baik Ibu, nanti akan Jani usahakan, untuk memberi jawaban yang paling baik untuk kita semua“ jawabku sambil mengangguk.
“Baiklah Jan, saya tunggu kabar baiknya, kalau gitu saya pamit duluan ya Jan“ pamit Bu Anita.
“Iya bu, hati-hati di jalan ya bu“ izinku sambil meraih tangannya, kemudian aku menyaliminya, Bu Anita sekali lagi memelukku erat, entah kenapa, tapi aku merasa sangat canggung sekali.
“Saya duluan Jan, Assalamu’alaikum“ Bu Anita melangkahkan kakinya menuju luar kaffe, aku menatap punggung seorang Ibu, yang baru saja menaruh harapan untuk putranya kepadaku.
Ah, sekarang apa yang harus ku lakukan?? Aku sungguh bingung, jujur aku belum siap menerima siapapun lagi di hidupku, luka itu masih menganga, dan sulit tertutup.
Bissmillah, beri aku yang terbaik ya Allah ...
Di perjalanan pulang aku mampir ke minimarket yang kulewati, aku baru ingat jika sabun mandiku habis, aku menarik pintu minimarket dan berjalan menuju rak sabun , aku mengambil sabun yang biasa ku gunakan, aku menatap sekeliling, mengingat-ngingat, kira-kira apalagi stock yang habis dirumah, di tengah kesibukanku berfikir aku mendengar suara yang tidak asing sedang berceloteh, aku berjinjit mengintip dari balik rak susu yang berjejer rapi, susu formula khusus balita dengan berbagai merek.
“Mas, kira-kira susu ini cocok gak ya buat adek?” tanya si perempuan.
__ADS_1
“Yang mana aja terserah kamu“ jawab si pria dengan nada malas.
“Kalau yang ini aja gimana??” tanya si perempuan lagi.
“Gimana kamu aja terserah, jangan nanya aku lagi“ jawab si pria sambil berlalu dengan trolynya.
Aku semakin menajamkan pandanganku, ah, Faisal, Tiara. Dunia begitu sempit sekali, kenapa Allah mempertemukan aku kembali dengan mereka, melihat mereka bersama seperti mengungkit luka lama yang sulit sembuh, aku segera beranjak dan menuju kasir, secepat kilat aku membayar barangku dan segera melangkahkan kaki menuju pintu luar.
“Anjani!!” seru seorang perempuan, yang entah bagaimana tiba-tiba sudah mencengkram tanganku.
“Tiara?? Lepasin!” Aku berusaha menghempaskan tangan Tiara.
“Kamu, kenapa selalu muncul di hidup kami?” pertanyaan Tiara sungguh tidak masuk akal, kapan aku berusaha menemui mereka??.
“Kenapa bayangan kamu selalu muncul di hidup Faisal??” tanya Tiara dengan suara yang mulai berapi-api.
“Kenapa kamu bertanya padaku??, tanyakan saja pada suamimu“ jawabku tegas.
“Kamu sudah membuat hidup kami kacau Anjani“ Tiara meracau tidak jelas, membuatku semakin bingung.
“Suatu ketika iblis datang menghampiri manusia, mereka bilang ‘datanglah ketempatku, ikutlah bersamaku, tinggallah di dasar neraka bersamaku’ dan kamu tau Tiara?? Orang-orang yang tidak memiliki iman, akan dengan mudahnya mengikuti jejak kaki iblis, tapi maaf Tiara, itu tidak akan terjadi padaku, aku tidak akan pernah mengikuti jejak kaki iblis seperti kamu!!!” entah keberanian darimana?? Tapi aku mampu mengatakan kata-kata yang sangat tegas pada Tiara.
“Harusnya akulah orang yang marah, atas keadaan ini, kamu memfitnahku, kamu merebut seseorang yang harusnya menjadi milikku, kamu mendapatkan semua yang kamu inginkan bukan?? Lalu kenapa kamu merasa tidak bahagia??” tanyaku dengan tatapan sinis, kali ini aku tidak akan bersabar lagi, di permainkan oleh mereka.
__ADS_1
“Siapa bilang aku tidak bahagia?? Aku sangat bahagia, menjalani hariku bersama anak dan suamiku“ jawab Tiara sambil menengadahkan wajahnya.
“Oya?? Ini yang kamu bilang bahagia??” jawabku sambil menunjuk tubuh Tiara yang sangat kacaw, kini Tiara tidak seseksi, dan secantik dulu lagi, badannya agak sedikit melar, dengan celana kulot, dan kaus sederhana, makeupnya yang mulai luntur karena sengatan matahari, dan maskaranya yang luntur karena air mata, hingga meninggalkan bekas hitam di pipinya.
“Menangis, dan memarahi aku, untuk perbuatan yang tidak ku lakukan?” lanjutku.
“Istighfar kamu Tiara, Lihat diri kamu“ jawabku sambil hendak berlalu sementara Tiara hanya terdiam dan menunduk, mungkin tidak menyangka jika Anjani yang lembut dan selalu mengalah, kini bisa melawannya. Aku hanya tidak ingin di sakiti berulang-ulang oleh orang yang sama, pengalaman telah mengajariku banyak hal, termasuk tentang ketegasan.
Ku langkahkan kakiku menuju parkiran, berniat memesan taksi online.
“Anjani!!!” seru seorang pria yang suaranya sangat tidak asing di telingaku.
Aku menoleh kebelakang, dan melihat sosok Faisal yang hendak mendekatiku, namun di tahan oleh Tiara, aku hanya bisa melengos dan berlalu.
“Selamat tinggal masa lalu“ gumamku lirih.
Ternyata setelah semua yang mereka lakukan terhadapku, mereka terlihat sangat tidak bahagia, dulu aku menangis, dan menyalahkan takdir, tapi hari ini aku sangat bersyukur sekali, beruntung Allah menunjukkan sifat asli mereka dari dulu, jika tidak? Entah apa yang akan terjadi padaku.
Begitupun dengan takdirku hari ini, kemarin mungkin Allah telah mengujiku dengan penderitaan. Tapi tidak mustahil jika besok Allah akan memberiku bahagia yang seutuhnya. Allah itu maha baik, tidak ada yang tidak mungkin, ‘kun fayakun’ ( jadi, maka jadilah ). Aku tahu, ke depannya akan sangat banyak ujian lainnya, tapi aku selalu berdoa semoga aku di beri kesabaran, ketabahan, dan ke ikhlasan dalam menghadapinya.
Bersambung....................
Hay readers yang budiman, kesayangannya author, jangan lupa terus dukung author yaaa,,,,,like, koment, bintang lima, dan vote sebanyak banyaknya....author tunggu selalu yaaa....makasih.
__ADS_1