
“Menikahlah dengaku Jan, Aku tidak akan menjanjikan kebahagiaan untukmu, tapi aku akan berusaha untuk membuat kamu tidak menangis lagi karena kesedihan“ Anwar memohon padaku. Aku bingung, entah jawaban apa yang harus ku berikan pada Anwar.
“Anwar, sekarang statusku berbeda dengan statusmu, kamu belum pernah menikah, dan aku sudah memiliki kisah kelam rumah tangga sebelumnya, yang mungkin kamu juga jadi saksi sebagian perjalanan rumah tanggaku“ jelasku, mengutarakan rasa cemasku.
“Jan, aku akan menerima segala kekuranganmu, begitupun kamu, aku harap kamupun bisa menerima segala kekuranganku“ kata-kata Anwar terhenti, dia tiba-tiba bersimpuh di hadapanku, seketika aku ternganga, bingung harus berbuat apa? Antara kaget, bahagia, sedih, haru dan segala perasaan lain komplit ada di hatiku kini.
“Anjani Hanjaya, bersediakah kamu menjadi pendamping hidupku hingga ajal menjemput?? Menjadi rumah untukku bisa pulang?? Menjadi istri?? Dan menjadi Ibu dari anak-anakku kelak??” Anwar menatapku lekat dalam simpuhnya.
“Anwar ... Aku ... Aku ... “ Aku terbata-bata, pipiku memanas seketika, sementara Anwar masih menatapku, berharap jawaban yang sangat di nantinya.
Aku menatap ke kejauhan, ku lihat Indah bersandar di bahu Andre, Ibu dan Ayah bersedekap sambil tersenyum padaku, mereka kompak menganggukkan kepalanya ke arahku, kode jika aku boleh menerima lamaran Anwar.
“Baiklah Anwar, Aku bersedia menikah denganmu“ jawabku sambil menunduk malu.
Anwar memejamkan matanya sambil tersenyum, “Terimakasih Jan, kamu tahu?? Aku bahkan menantikan hal ini dari semenjak kita bertemu“ Anwar begitu sumringah.
“Iya, sama-sama Anwar, aku harap kamu bisa jadi imamku, bisa jadi Ayah yang baik bagi anak-anakku kelak, aku harap kita bisa membangun sebuah rumah tangga yang tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat kelak“ Aku menatap sendu pada Anwar, menaruh harapan yang sangat besar pada pria yang baru saja melamarku.
__ADS_1
“Insya Allah, selama niat kita baik Allah pasti merestui, mari kita berjalan beriringan Jan,“ jawab Anwar mantap. Aku memalingkan wajahku yang sudah memerah.
“Jan ...” panggil Anwar lembut.
“Iya ...” jawabku.
“Bisakah kamu tidak memanggilku hanya nama saja?” tanyanya yang membuatku menjadi terkekeh.
“Hah ... iya, aku lupa, kira-kira aku harus memanggilmu apa ya??” tanyaku sambil mesem, kenapa Anwar selalu ingin di panggil dengan nama sapaan, padahal aku begitu nyaman hanya menyebut namanya.
“Baiklah, bagaimana kalau Mas?? Mas Anwar, hhiii“ Aku tertawa, lucu sekali melihat ekspresinya, Anwar menggeleng.
“Emmmhhh tidak mau ya?? Karena kamu keturunan Sunda asli, Bagaimana kalau AA??Aa Anwar?? Hahaha“ Aku semakin tergelak , dan Anwar tambah manyun, dan menggeleng.
“Apa dong??? Kalau gitu Uda aja?? Biar kayak orang padang?? Uda Anwar hheeee”
“Tau ah Jan, gimana kamu aja“ Anwar manyun dan berlalu meninggalkanku sendiri.
__ADS_1
“Yah, Anwar, baru juga di terima udah ninggalin aja, katanya mari kita berjalan beriringan, buktinya ninggalin“ kataku sambil menirukan gaya bicara Anwar, seketika Anwar menghentikan langkahnya, dan menatapku sambil tersenyum.
“Ya udah, ayo sini, jalan di samping aku“ Anwar merentangkan tangan kanannya.
“Huh, baru aja janji udah lupa,“ Aku mengebikkan bibirku sambil berlalu mendahului Anwar, kemudian berlari.
“Anjaniiiiiii ... kamuuuuu ...” Anwar berusaha mengejarku.
“Hahahaha ...” Aku tertawa.
Ah, ya Allah kau telah melimpahmpahkan seluruh kebahagiaan di hari ini, hingga aku sulit menggambarkannya dengan kata-kata, rasanya baru saja kemarin, aku menangis, terluka, merana, dan menderita, tapi hanya dengan sekejap mata Allah menggantikan laraku dengan sejuta bahagia.
Terimakasih ya Allah ... kau maha adil, kau maha bijaksana, aku semakin mencintaimu, aku semakin meyakinimu ya Allah ...
Bersambung........
Kakak readers terimakasih banyak sudah mendoakan aku untuk bahagia yaaaa....dukung terus kisah aku, agar aku menjadi semakin bahagia. @ Anjani.
__ADS_1