KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Kekacauan part 2


__ADS_3

Satu minggu berlalu, tapi pak Pras masih belum datang kerumah bu Maya, tak ayal bu Maya jadi uring-uringan sendiri, selama seminggu ini yang dia lakukan hanya mengomel, merutuki kebodohannya, yang sudah mempercayakan uang senilai lima ratus juta pada suami barunya.


“Assalamu’alaikum Ibu,“ tiba-tiba suara merdu seorang perempuan memecah lamunan bu Maya.


“Anjani, kamu kesini nak?? Sama siapa?” tanya bu Maya kaget, sambil celingukan.


“Sendiri bu, kebetulan Indah lagi pergi ke Jogja, Indah ngabarin Ibu gak??” tanya Anjani sambil mencium tangan Ibunya.


“Iya, dia bilang mau pergi bulan madu“ jawab bu Maya seadanya.


“Ibu kenapa?? Kok kelihatan sedang khawatir?? Bapak mana??” tanya Anjani, mulai mencium ketidak beresan pada tingkah sang Ibu.


“Eh, i iya, Bapakmu sedang tidak dirumah“ jawab bu Maya gelagapan.


“Ibu? Ibu sedang tidak menyembunyikan apapun dari Jani kan bu??” tanya Anjani sambil terus memperhatikan mimik wajah sang Ibunda.


“E enggak nak“ jawab bu Maya masih gagap.


“Bu, Anjani tidak bisa Ibu bohongi, pasti ada sesuatu yang Ibu sembunyikan, iya kan??” tanyanya lagi.


“Eeeemmhh ... sebetulnya ... “ suara bu Maya tiba-tiba tercekat.


“Sebetulnya apa bu??” tanya Anjani lagi, terus mendesak pengakuan dari Ibunya.


“Sebetulnya bapak tirimu sudah satu minggu ini sudah tidak pulang ke rumah Jan“ jelas bu Maya akhirnya.


“Loh?? Kenapa??” tanya Anjani semakin penasaran.


“Entahlah, tapi ...” suara bu Maya kembali terhenti.


“Tapi apa bu??” lagi Anjani terus bertanya,


“Bapakmu membawa uang lima ratus juta rupiah milik Ibu“ jelas bu Maya akhirnya, yang dia sendiripun tidak menyangka jika pengakuan itu, akan lolos begitu saja mulutnya.


“Appaaa??? Innalillahi ... kenapa bisa bu?” tanya Anjani, mulutnya tampak menganga karena shock.


“Pras bilang, dia mengalami kerugian, karena mobil yang dipakai untuk menarik sayuran milik warga, jatuh kejurang“ jelas bu Maya sambil muali terisak, terlihat gurat penyesalan di wajah layunya.


“Lalu?” Anjani terus mengintimidasi.


“Lalu dia meminjam uang mahar yang pernah dia berikan dulu, senilai empat ratus juta rupiah, dan dia juga meminjam uang tabungan Ibu senilai seratus juta rupiah, yang akan digunakan untuk membayar ganti rugi, dan biaya pengobatan sopirnya yang harus dioprasi“ jelas Bu Maya panjang lebar.


“Astagfirullah“ Anjani menutup mulutnya tidak percaya.

__ADS_1


“Maafin Ibu ya Jan, sekarang Ibu tidak tau harus bagaimana, karena di telpon pun nomor ponsel Pras sudah tidak aktif lagi“ Bu Maya mulai menangis.


“Sudah bu, Istighfar, mungkin uang itu bukan rizky kita“ Anjani memeluk Ibunya erat.


“Ibu tidak ikhlas Jan,“ Bu Maya sesenggukan.


“Ibu sudah mencoba mencari tahu ke rumah Bapak yang dulu?” tanya Anjani memberi solusi.


“Sudah, tapi ternyata itu bukan rumah Pras, tapi itu rumah kontrakan, dan dulu Pras sempat ngontrak disana selama satu bulan“ jelas bu Maya.


“Apa?? Ya Allah ...” Anjani terdiam, lututnya seketika lemas tak berdaya.


“Kalau begitu kita harus mencoba mencari tahu, mungkin kita bisa mencari tahu pada sopirnya yang dirawat di rumah sakit itu“ lagi, Anjani memberikan usul.


“Ah, iya juga, sopirnya itu, katanya Rahmat, Ibu kenal dengannya, dia pernah kesini dulu Mata bu Maya berbinar, seolah mendapat celah kecil untuk masalahnya.


“Ya udah, sekarang kita berangkat kesana ya bu“ ajak Anjani seraya berdiri.


“Iya, sebentar, Ibu ambil tas dulu“ Bu Maya memasuki kamarnya, tak lama kemudian bu Maya sudah bersiap untuk berangkat.


“Ayo nak“ ajak bu Maya pada Anjani.


Kemudian mereka berangkat menelusuri jalanan kampung, yang katanya menuju rumah Rahmat, setelah bertanya pada beberapa orang tadi. Setelah satu jam menempuh perjalanan, akhirnya ditemukanlah rumah Rahmat, rumah yang kecil dan sangat sederhana.


“Wa’alaikumsalam,“ seorang perempuan muda nan ayu keluar dari dalam rumah.


“Maaf nyari siapa yah??” tanyanya sopan.


“Maaf, saya mau nyari Rahmat, ada?” tanya Anjani tak kalah ramah.


“Oh, a Rahmat kebetulan lagi keluar bu“ jawabnya, sambil menunduk.


"Ibu silahkan tunggu di dalam" perempuan itu mempersilahkan mereka masuk kedalam rumahnya.


“Ah, tidak usah, Rahmat baru keluar dari rumah sakit, sudah bepergian, kenapa tidak istirahat dirumah?” tanya Anjani seolah memancing keadaan.


“Rumah sakit?? A Rahmat sakit apa ya bu??” tanya perempuan itu, menautkan kedua alisnya.


“Loh?? Bukannya Rahmat baru dioprasi ya??” kini Bu Maya yang bersuara.


“Oprasi?? A Rahmat tidak pernah di operasi apalagi sakit bu, beberapa hari terahir, A Rahmat ada dirumah“ jelas perempuan itu, yang membuat dua Ibu dan anak itu semakin menganga tak percaya.


“Apa?? Lalu apa Rahmat sekarang masih bekerja pada pak Pras??” Anjani kembali bertanya setelah bisa menguasai dirinya.

__ADS_1


“Tidak bu, sudah beberapa bulan ini, A rahmat tidak kerja dengan Pak Pras, karena gajinya tidak pernah di bayarkan“ jelas perempuan itu lagi.


“Apa?? Ya Allah,“ seketika tubuh bu Maya limbung, dan hampir terjatuh.


“Astagfirullah, Ibu, Ibu sadar, istighfar, ayo kita pulang aja bu“ Anjani membantu memapah Ibunya.


“Ya sudah, kalau begitu kami permisi dulu ya Mbak“ pamit Anjani kemudian.


“Oh, iya baik bu“ Si perempuan mengangguk dengan ramah.


Kemudian Anjani membawa Ibunya masuk kedalam taksi online yang sudah di pesannya,


“Ibu, yang sabar ya“ Anjani mengelus bahu Ibunya yang sudah menangis, tak bisa membendung air matanya.


Setelah tiba di depan rumah, merekapun turun dari taksi setelah membayarnya.


“Ibu, sini Anjani bantu,“ Anjani terus memapah Ibunya, kemudian mendudukkannya di kursi, di depan rumah, udara panas membuat keduanya merasa gerah.


“Jani ambilkan minum ya bu,“ Anjani masuk kedalam rumah setelah mendapat anggukan dari sang Ibu.


Tak lama kemudian, ketika bu Maya masih asyik dengan lamunannya, tiba-tiba dia dikagetkan oleh dua orang pria berbadan besar berkulit hitam, dengan kalung rantai, dan telinga yang memakai anting lebih dari lima, seketika bu Maya bergidik melihat penampilan mereka.


“Permisi, apa benar ini rumahnya pak Pras?” tanya salah satu pria yang berkepala plontos.


“Bukan, ini rumah saya, Pras itu suami saya“ jawab bu Maya sambil melongo.


“Nah, berarti sama saja,“ jawab pria berambut panjang.


“Sama aja?? Maksudnya apa ya pak??” tanya bu Maya semakin heran.


“Jadi, begini bu, kedatangan saya kesini untuk menarik kembali mobil, yang sudah tiga bulan ini tidak disetori oleh pak Pras“ jelas salah satu dari mereka.


“Maksud bapak apa??” tanya bu Maya yang semakin tidak mengerti.


“Aduh, Ibu jangan pura-pura gak ngerti, Ibukan istrinya masa tidak tau jika suami Ibu ngambil mobil di showroom kami“ jelas pria plontos.


“Saya sungguh tidak mengerti pak, maksud bapak apa??” tanya bu Maya lagi.


“.............”


Bersambung............


Readers, jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaa....

__ADS_1


__ADS_2