
Kini setelah aku lama terdiam, kemudian mencoba bersuara kembali.
“Ibu, Jani hanya tidak ingin, kedepannya Ibu menyesal,“ Aku masih berusaha meyakinkan Ibu.
“Apa tidak sebaiknya Ibu lebih lama lagi mengenal Pak Pras?” tanyaku lagi, aku tidak akan menyerah mengingatkan Ibu.
“Tidak Jan, pilihan Ibu sudah yang terbaik kok, pasti Ibu akan bahagia hidup bersama Pras, tidak seperti ketika bersama Ayah kamu“ jawab Ibu yang membuatku semakin khawatir.
“Baiklah, terserah Ibu saja, semua keputusan ada ditangan Ibu, Jani harap, dan Jani berdo'a, semoga Ibu bisa hidup bahagia dengan pilihan Ibu“ akhirnya aku mengalah.
“Iya, pernikahannya akan segera dilaksanakan dalam dua minggu ini Jan“ jelas Ibu, yang membuat hatiku semakin tak karuan, entah kenapa.
“Kok cepet banget bu?” kali ini Indah yang bersuara.
“Iya, lebih cepat lebih baikkan?” Ibu menatap kami.
“Iya, baiklah, Indah ikut Ibu saja“ jawab Indah sambil merunduk.
Aku menarik napas dalam, entah apalagi yang harus kulakukan, untuk mengingatkan Ibu. Tapi apapun itu kenyataannya semoga semuanya baik-baik saja. Hanya itu pintaku dalam doaku kini.
***
Hingga pada akhirnya hari pernikahan itupun tiba, hari ini aku dan Anwar, Indah dan Andre berkumpul bersama dirumah Ibu, semua kerabat dekat dan para tetangga juga turut di undang, untuk merayakan pesta kecil-kecilan, sebagai tanda bersyukur, karena Ibu telah menemukan jodohnya kembali. Ada raut sedih di wajah Indah, yang jelas aku fahami, karena akupun mengalami hal yang sama, hanya saja bedanya aku bisa lebih menyembunyikan setiap perasaanku.
Sementara para suami kami, hanya berusaha menenangkan, dan mengusap punggung kami dengan penuh kasih sayang. Aku tahu hari ini akan terjadi, tapi kenapa rasanya sulit sekali menerima kehadiran orang baru di hidup kami, tapi apapun itu, aku harap ini adalah yang terbaik bagi kami semua.
Setelah mengucap ijab qabul, dengan mahar yang lumayan mencengangkan, acara dilanjutkan pada acara makan-makan bersama, tamu undangan di dominasi oleh krabat pak Pras, yang jelas sama sekali tidak aku kenal, banyak di antara mereka yang berbisik-bisik “Ih, beruntung banget ya, pria model kayak Pras, bisa dapetin bu Maya, yang sekarang dia 'kan udah hidup enak, karena di jamin anak-anaknya yang juga udah pada kaya," kemudian mereka berbisik lagi, entah apa, yang aku tidak bisa mendengarnya.
“Sabar ya“ Anwar menepuk bahuku.
“Iya,“ jawabku sambil tersenyum.
“Kamu juga, ayo kita makan“ ajak Anwar sambil menuntunku, menjauhkan aku dari Ibu-Ibu yang tengah berbisik-bisik menggosip.
“An, hatiku tidak enak“ Aku mengelus dadaku, merasakan tiap gemuruh yang bergejolak didalam dada.
__ADS_1
“Sabar ya, gak apa-apa kok“ jawabnya sambil terus mengelus kepalaku.
“Iya,“ lagi aku menyahutinya dengan singkat.
Setelah acara selesai, aku dan Anwar kembali pulang kerumah, Indah dan Andre pun pulang kerumahnya, di sepanjang perjalanan, aku hanya terdiam, tidak bisa mengatakan apapun, rasanya kerongkonganku terhalangi batu besar, Ibu menikah, bukan dengan pria yang menurutku baik, rasanya aku masih sulit percaya, kenapa Ibu bisa memutuskan untuk menikah lagi.
Truuutt ... ttrruuut ... trrruuutt ...
“Jan, ponsel kamu bunyi dari tadi“ tiba-tiba suara Anwar menyadarkanku.
“Astagfirullah, iya“ jawabku sambil meraih ponselku
"Dari Ayah“ Aku mengacungkan ponselku pada Anwar, Anwar hanya manggut
“Angkat aja" jawabnya.
“Hallo, Assalamu’alaikum Ayah“ sapaku.
“Wa’alaikumsalam Jan“ jawab Ayah.
“Ayah baik Jan, Jan, apa benar gosip yang tengah beredar?? Katanya Ibu kamu sudah menikah lagi ya?” tanya Ayah yang membuatku bingung,
“Iya Ayah, Ibu sudah menikah lagi tadi“ jawabku dengan lemah.
“Hah, Ibumu itu, bilang sama Ayah gak mau nikah lagi, tapi nyatanya apa?? Sekarang dia nikah lagikan??” kata Ayah berapi-api, apakah mungkin Ayah sedang dibakar api cemburu?.
“Iya Ayah, maafkan Ibu,“ kataku sambil mengurut keningku, rasanya kepalaku sakit sekali memikirkan semuanya.
“Ah, ya sudahlah, Ibu kamu memang begitu, keras kepala, ya sudah ya Jan, Ayah tutup dulu telponnya, Assalamu’alaikum“
Trut ...
Ayah mematikan telpon, tanpa mendengar kata-kataku selanjutnya, aku menghela napas berat, kemudian mengeluarkannya kasar.
Sementara Anwar, hanya memperhatikanku sambil terus fokus menyetir,
__ADS_1
“Sabar ya sayang, kamu pasti bisa melewati ini“ katanya sambil mengusap kepalaku penuh sayang, sementara aku hanya terdiam, kembali menatap jalanan dari balik jendela mobil.
“Ibu, jangan uji cintaku lagi padamu, dulu Ibu menguji cintaku lewat materi, dan kekukuhan Ibu, dalam bersikap padaku, menentukan hidupku semau Ibu, sekarang Ibu menguji cintaku dengan menjerumuskan diri Ibu sendiri, Ibu sekarang aku harus bersikap seperti apa?”
Aku hanya bisa terdiam kini, memikirkan tindakan apa yang harus kulakukan selanjutnya.
***
Pagi ini, setelah semua yang terjadi hari kemarin, rasanya aku malas sekali untuk bangun dari tempat tidurku, selesai shalat shubuh 'pun, tidak seperti biasanya, aku malah kembali membaringkan tubuhku di ranjang, entahlah, tapi rasanya aku sangat malas untuk beraktifitas.
Trruuutttt ... trrruuuttt ... trrruuutttt ...
Suara panggilan telpon dari ponselku terus berdering, aku yang malas sekali bangun, akhirnya memaksakan diri untuk meraih ponselku yang berada di tepi nakas.
“Ya, Hallo Assalamu’alaikum Indah, ada apa??” sahutku, setelah ku angkat telpon, yang ternyata dari Indah.
“Kakak, nanti siang bisa antar aku ke Dokter kandungan??” tanya Indah
“Emh, sebentar ya Dek, Kakak tanya kak Anwar dulu“ jawabku.
“Iya Kak, aku tunggu yah, Kakak minta izin dulu aja sama Kak bucin, entar jawabannya chat aja ya Kak,“ Indah terkikik di seberang sana.
“Hus, kamu itu, kalau maunya kamu di penuhi aja, manggilnya Kakak ipar, sekarang manggilnya gitu,“ Aku mengingatkan Indah.
“Oh iya dek, memangnya Andre gak bisa mengantar kamu cek kedokter kandungan??” tanyaku kemudian.
“Gak bisa Kak, Kak Andre sibuk sama kerjaannya, dan dia malah nyuruh Indah buat minta anter Kakak,“ jawab Indah, terdengar ada kesedihan dalam suaranya, aku faham itu, aku pernah berada di posisinya.
“Ya udah, nanti Kakak kabarin lagi ya“ jawabku lagi, tak ingin memperpanjang percakapan, takut Indah jadi tambah sedih.
“Iya Kak, makasih ya, aku tunggu“ jawab Indah, kemudian mematikan telponnya setelah mengucapkan salam.
Bersambung..............
readers jangan lupa dukung author terus yaaaa.....
__ADS_1