KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Program


__ADS_3

“Apa kabar Jani?!!“ seru Rani ketika kami memutuskan untuk saling bertemu.


“Aku baik, kamu apa kabar??” tanyaku sambil memeluk Rani sahabatku.


“Aku juga baik, kita udah lama banget gak ketemu yah, semenjak kita menikah“


“Iya Ran, gimana kabar suami kamu?” tanyaku.


“Suamiku baik, hanya saja rumah tangga kami yang tidak baik“ jawab Rani yang mebuatku terhenyak, bukankah selama ini rumah tangga mereka terlihat sangat baik-baik saja??. Mereka selalu memamerkan setiap kemesraan dan kebersamaan mereka di medsos.


“Loh?? bukannya rumah tangga kalian baik-baik saja ya??” tanyaku tak bisa menyembunyikan keherananku.


“Kadang apa yang kamu lihat itu belum tentu adalah sebuah kebenaran Jani“ kata Rani sambil menerawang.


“Iya juga, tapi bukankah kalian menikah karena saling mencintai?? bukankah suami kamu sekarang adalah pilihanmu??” tanyaku.


“Iya, betul, tapi sekarang aku sadar, Cinta saja tidak cukup bagiku untuk menjalani sebuah rumah tangga, cinta sih cinta tapi kalau tiap mau makan harus minta sama mertua atau orangtua aku, kan malu juga Jan, gini-gini aku juga masih punya harga diri“ jawab Rani yang membuatku shock, seketika aku ingat Bagas, meskipun dia pria yang dingin, tapi dia pria yang bertanggung jawab, meski dalam kesederhanaan.


“Yang sabar ya Ran“ Aku mencoba menguatkan Rani.


“Aku bingung banget Jan, sekarang aku hamil,“ aku Rani, yang membuatku membelalakan mata.


“O ya?? selamat ya Ran“ seruku histeris, aku begitu bahagia ketika mendengar Rani hamil.


“Iya Jan, tapi aku belum siap jadi Ibu, awalnya aku mau pisah aja sama suamiku, tapi karena aku hamil, aku jadi tidak bisa melakukannya“ jawab Rani yang membuatku terbelalak.


Kenapa dengan manusia ini?? belum setahun menikah tapi sudah ingin menyerah dengan ujiannya, manusia memang serakah. Ternyata orang yang Rani cintai, Rani pilih sendiri, untuk Rani nikahi pun belum setahun


sudah tidak kuat dengan segala ujian yang mereka hadapi, apalagi aku?? di jodohkan??dan tidak saling mencintai, di tambah suamiku yang tidak ingin membantuku untuk memperjuangkan semuanya. Aku tertegun, apa selama ini ada yang tau bagaimana perasaanku???.


“Ran, anak itu 'kan anugrah, mungkin dia adalah penguat cinta Ayah dan Ibunya, kamu jangan nyerah gitu dong, kasian anak kamu, nanti dia sedih“ Aku sangat sedih ketika Rani mengatakan ingin berpisah dari suaminya.


“Gak tahulah Jan, aku pusing“ kata Rani sambil meminum minumannya yang baru di sajikan pelayan.


“Kamu gimana?? udah isi belum??” tanya Rani kemudian.


“Hah?? belum“ jawabku, Iya juga kalau aku punya anak mungkin Bagas tidak akan terlalu acuh padaku, lagi pula selama ini Ibu dan mertuaku seolah terus mendesakku untuk segera punya anak, apa aku ikut program kehamilan saja ya?? kira-kira mas Bagas setuju gak ya??.

__ADS_1


“Jan, Jani!!! Kok malah bengong sih??” tanpa ku sadari karena asyik melamun, tubuhku telah di guncang-guncangkan oleh Rani.


“Eh iya Ran, aku gak ngelamun kok“ jawabku gelagapan.


Akhirnya karena waktu sudah mau sore, aku memutuskan untuk pulang, begitupun Rani, sepanjang perjalanan, aku memikirkan tentang anak, iya enam bulan menikah, ada baiknya aku bicara dengan Mas Bagas, mungkin dengan hadirnya anak rumah tangga kami akan menghangat.


“Mas, aku mau ngomong sama kamu!“ seruku pada Bagas setelah dia makan.


“Apa?” tanyanya masih dengan tatapan yang sama.


“Mungkin ada baiknya jika kita memikirkan untuk memiliki anak, aku mau kita punya anak“ Aku mengutarakan maksudku.


Bagas mengernyitkan dahinya “Iya“ jawaban yang sangat ambigu terdengar di telingaku.


“Iya apa??” tanyaku.


“Iya, sudah lama aku pun ingin punya anak“ jawabnya, yang membuatku tersenyum.


“Mungkin ada baiknya jika kita cek ke dokter, untuk mengikuti program kehamilan“ ajakku.


“Iya“ lagi-lagi jawaban yang sama.


“Iya, nanti kita ke dokter“ jawabnya, aku menarik napas, kenapa suamiku sangat hemat akan kata-kata??.


“Ya udah“ jawabku.


Ke esokan harinya aku mengajak Bagas untuk periksa ke dokter, tapi Bagas mengingkari kata-katanya, dia malah pergi ke kosan teman-temannya. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke dokter sendirian, setibanya di sebuah klinik Aku mengambil antrian di poli kandungan. Tidak lama namaku di panggil, aku masuk ke dalam ruangan dokter perempuan tersebut.


“Ibu Anjani?? Sendirian aja?? Atau di antar suami??” tanya Dokter.


“Iya dok, saya sendirian aja“ jawabku.


“Loh?? Kenapa sendirian?? Suaminya kemana ibu Anjani?” tanya Dokter yang membuatku bingung.


“Suami saya lagi kerja Dok“ jawabku bohong.


“Oh gituh, jadi apa keluhannya bu??” tanya Dokter mulai menganalisa.

__ADS_1


“Sebetulnya saat ini saya tidak ada keluhan untuk masalah kesehatan Dok, hanya saja saya ingin berkonsultasi, untuk program kehamilan“ jawabku, mengutarakan niatku.


“Oh begitu, baik, begini ya bu Anjani, saya sarankan untuk program kehamilan, sebaiknya Ibu datang bersama suami, agar saya mudah menjelaskannya, dan bisa langsung mengecek kondisi ibu dan suami“ jelas Dokter yang membuatku tersenyum kecut,


“Jadi saran saya sebaiknya Ibu datang lagi beberapa hari ke depan bersama suami ya bu“ lanjut Dokter.


“Iya baik Dok, kalau begitu saya permisi dulu“ pamitku.


“Iya baik bu Anjani, sampai bertemu lagi ya“ jawab Dokter begitu ramah.


Akhirnya aku pulang dengan penuh kekecewaan, aku menggerutu sepanjang jalan, kenapa Bagas selalu lebih mementingkan teman-temannya di banding aku? Apa tidak cukup di setiap pulang kerja, hingga larut tengah malam dia baru pulang, kenapa tidak sedikitpun dia mau meluangkan waktunya untukku.


Aku jadi penasaran, sebenarnya apa saja yang mereka lakukan?? Selama ini Bagas selalu melarangku untuk ikut dengannya ke rumah teman-temannya. Apa aku intip saja ya kegiatan mereka di kosan itu? Ah iya, kali ini aku ingin keppo.


Di perjalanan pulang menuju rumah aku belok ke kosan teman suamiku yang biasa di datanginya, aku berjalan perlahan mengamati ke adaan, kosan ini begitu sepi, tapi kenapa suamiku senang sekali berada di tempat ini, untuk memastikan, aku berjalan mengendap-endap, seperti maling.


Ternyata pintu rumahnya tidak di kunci, aku langsung masuk, menyelinap, terus mengendap-endap, ku edarkan pandanganku, tidak ada yang spesial di rumah ini, semuanya normal dan biasa untuk seukuran kosan cowok singgle. Jadi apa istimewanya tempat ini hingga suamiku tak mau berpaling kepada tempat lain.


Akhirnya aku memutuskan untuk pulang lagi saja, toh rumahnya sepi, lagi pula kenapa dengan diriku ini?? Gara-gara cemburu aku sudah tidak sopan masuk kerumah orang tanpa izin. Bisa-bisa aku di sangka maling di siang bolong, tapi belum langkahku tiba di pintu terdengar suara decakan dari kamar, di susul oleh suara rintihan pria, yang membuat bulu kudukku merinding seketika.


Aku bingung, aku sangat penasaran ingin melihatnya, perlahan aku melangkahkan kakiku menuju suara-suara itu berasal.


Satu langkah,


Dua langkah,


Aku sedikit mendorong pintu dengan sangat pelan tanpa penghuninya sadari.


Seketika aku menutup mulutku tak percaya


“Mas Bagas ...”


Bersambung ...........


Kira kira Anjani lihat apa ya ???


Jangan lupa dukungan nya ya readers.....Like, komen, star five dan Vote sebanyak banyak nya....author tunggu

__ADS_1


yaaaaa....makasiiiihhhhh................


__ADS_2