KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Petuah


__ADS_3

Ini bukan tentang betapa sulitnya aku bertahan, karena nyatanya selama ini aku bisa melewati semua kesulitan itu, namun kali ini tentang hati, ya hati yang memberontak, aku sudah tidak tahu lagi, bagaimana cara menenangkannya. Hatiku sudah tidak mau di suruh untuk bersabar lagi, Hingga rasanya terasa benar-benar ingin lenyap dari muka bumi ini, berharap kehidupan ini hanya mimpi buruk. Berharap aku tidak kembali bangun dari tidur panjangku.


Hidup bergelimang harta, jauh dari air mata, dan ketika bangun dari tidur, aku selalu dilimpahi cinta, tapi nyatanya lagi-lagi semua itu hanya bayangan semu, hatiku begitu sakit ketika kembali mengingat kenyataan bahwa orang yang aku cintai, ternyata tak lebih dari seorang ambisius, yang menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Kaget, kesel, benci, muak, bingung, semua rasa itu bercampur aduk jadi satu.


 “Astagfirullah“ berkali-kali aku mengucap istighfar, berharap Allah memberi ketenangan pada hatiku.


Aku segera bangkit, kemudian berdiri, melangkahkan kaki menuju kamar mandi, dirumah ini kebetulan kamar mandi terletak diluar kamar.


Ketika aku melangkahkan kaki, langkahku terhenti, samar aku mendengar suara orang tertawa, terdengar begitu hangat, begitu nyaman, rumah panggung yang sederhana ini, nyatanya terasa lebih nyaman, ketika aku tinggali, sepuluh hari sudah aku tinggal ditempat ini, suasana nyaman penuh dengan kedamaian, semakin menguatkan aku untuk tidak secepatnya pulang ke rumah.


Bu Retno, pak Giman, dan seorang pemuda, ku yakin, dia adalah Randi, putra mereka yang sempat mereka ceritakan padaku. Keluarga yang begitu hangat, sungguh aku iri ketika melihat pemandangan di hadapanku. Diam-diam aku mengintip mereka, memperhatikan setiap percakapan mereka.


“ Nak Randi, gimana tadi kerjaannya?? Lancar??” tanya pak Giman.


“Alhamdulillah lancar pak“ jawab Randi.


“Eee alah, si Bapak ini, nak Randi kan anak pintar, jadi pastilah lancar“ Bu Retno menimpali.


“Eee alah, gak ada hubungannya bu, pintar sama lancar kerjaannya“ Pak Giman menirukan suara bu Retno.


“Ish, si Bapak kayak Bapak dulu sekolahnya pinter aja“ Bu Retno mengerucutkan bibirnya.


“Ish, kalau Bapak gak pinter gimana Ibu bisa suka sama Bapak??” lagi pak Giman menirukan suara istrinya.


“Ya karena ibu khilaf itu pak“ jawab Bu Retno sambil mengebikkan bibirnya.

__ADS_1


“Ya ya ya, saking khilafnya Ibu, sampai kita berpuluh tahun mengarungi bahtera rumah tangga ini“ Pak Giman manggut-manggut.


“Ih ... Bapak, Ibu getok pake ulekan baru nyaho“ Bu Retno mengancam.


“Kalau Bapak di ulek, nanti Ibu yang patah hati“ Pak Giman merayu istrinya sambil menoel dagu istrinya.


“Ih, dasar Bapak, bisa aja“ Bu Retno tertunduk malu-malu, sambil menggeser duduknya, yang terus di pepet pak Giman.


“Ekkhhheeeemmm ...” Randi berdehem, sambil tersenyum.


“Eeehhh ... lupa, ada nak Randi, hhhiii“ Mereka tertawa bersama.


Menonton adegan ini, Segala bayangan keluargaku muncul dikepalaku, selama ini, aku hampir tidak pernah melihat Ayah dan Ibu akur, atau saling menyapa dengan baik, selalu ada pertengkaran di antara mereka.


“Ayah, Ibu, apa aku terlalu serakah??? Jika aku mengharapkan sesuatu yang dimiliki orang lain?? Aku juga ingin seperti mereka Ayah, Ibu“ lirih, hatiku bergumam.


Ku gelar sajadahku, kutunaikan shalat empat rakaat, lalu ku tengadahkan kedua tanganku, meminta petunjuk, meminta kedamaian, dan meminta perlindungan dari Allah. Hanya ini yang aku bisa lakukan sekarang, berdo’a.


Selepas berdo’a, aku tidak ingin beranjak dari dudukku, aku hanya terdiam, masih duduk bersila di atas sajadah.


“Nak, sungguh kau ada di dalam sini?? Apa kau merindukan Ayah, nenek, dan tante mu???” tanpa sadar aku mengelus perutku, aku tidak mengerti, kenapa dia bisa bertahan setelah semua yang terjadi, kecelakaan itu cukup fatal, aku terlempar ke dasar jurang, aku koma hampir satu minggu, tapi kenapa anakku bisa tetap bertahan??? Ini sungguh keajaiban dari Allah, mungkin ini yang dinamakan ‘hablu minannas’. Mungkin anak ini juga yang membuatku tetap bertahan dan sadar dari koma, selama aku dirawat, aku hanya dirawat dengan perawatan alakadarnya, padahal katanya lukaku cukup parah.


“Nak Anjani rindu keluarganya ya??” tiba-tiba bu Retno masuk kedalam kamar, dan ikut bersimpuh di sampingku.


Aku menatapnya lekat, seorang Ibu paruh baya ini begitu baik dan lembut, aku tersenyum lembut “Ibu, adakah yang lebih menyiksa selain daripada rindu??” tanyaku.

__ADS_1


Bu Retno membalas senyumku “Ibu rasa tidak ada“ jawabnya.


“Ibu tau, nak Anjani pasti sedang ada masalah kan??” tanyanya.


“Kok ibu tau???” tanyaku.


“Biasanya, ketika seseorang baru bangun dari sakit, atau ketika baru pulang dari bepergian, orang pertama yang di tanyakannya adalah keluarganya, tapi nak Anjani sepertinya tidak ingin bertemu dengan keluarga nak Anjani“ Bu Retno bertanya padaku dengan wajah sendunya, seolah ikut merasakan apa yang kurasakan.


“Hmht, hanya saja saat ini saya sedang kecewa bu“ jawabku menunduk, air mataku hampir luruh.


“Setiap orang pasti pernah kecewa kan nak??? Hanya tinggal bagaimana cara kita mengatasinya, nak Anjani, bukan hanya nak Anjani yang pernah kecewa, tapi semua orang juga pernah kecewa, tapi, di antara mereka ada yang bisa bertahan, dan ada yang menyerah, nak Anjani mau memilih yang mana??? Memaafkan dengan hati damai?? Atau tetap menanam kecewa dan benci di hati nak Anjani??? Rasanya menanam kebencian itu tidak enak lho nak“ panjang lebar bu Retno menasihatiku, sedikit demi sedikit hatiku mulai terbuka, meski belum sepenuhnya bisa menerima wejangan bu Retno.


“Jika nak Anjani memilih untuk terus kecewa, itu pilihan nak Anjani, tapi setidaknya fikirkan anak yang ada didalam kandungan nak Anjani, dia tidak tau apa-apa nak“


Deg!


Mungkin aku adalah Ibu yang jahat, dulu aku mati-matian berdo’a, berharap agar segera di anugrahi keturunan, tapi kenapa sekarang aku malah menyia-nyiakannya? Aku sangat menyayangi janin yang ku kandung, tapi harus bertemu kembali dengan Ayah janin ini?? Siapkah aku??.


Ya Allah, sekali lagi rasa sakit ini menyelusup kedalam dadaku, entah apa yang harus kulakukan sekarang??.


Aku tidak ingin anak ini jauh dari Ayahnya, aku tidak ingin, apa yang aku alami, juga dialami anakku, aku ingin anakku hidupnya di penuhi cinta dan kasih sayang kedua orang tuanya, tapi bagaimana dengan rasa kecewaku??? Haruskah aku melupakannya?? Haruskah aku memaafkan Ayah anak ini???.


Lagi-lagi aku bingung, entah jalan mana yang harus kutuju sekarang??.


Ya Allah, beri aku petunjukmu.

__ADS_1


Bersambung...................


Hay guys....jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaaa......


__ADS_2