
“Aku bingung, bagaimana caraku menyampaikan semuanya padamu, sementara kamu terlalu baik Jan, kamu tidak akan mempercayai ucapanku“ Anwar melanjutkan kata-katanya, dan aku hanya diam menyimak.
“Lalu?? Kenapa bisa terjadi keadaan yang kemarin aku lihat??” Aku menatap Anwar, pria yang masih menjadi suamiku, suami yang
memberiku banyak kebahagiaan, memberiku seorang putra, hampir satu minggu kami
berada dalam situasi pelik ini. Dia sudah sangat tak terawat, wajahnya pucat, rambutnya acak-acakan, bahkan dia juga tidak berangkat bekerja.
“Waktu itu, aku memutuskan untuk tidak berangkat bekerja, aku hanya akan menunggumu pulang saja, tapi setelah sore tiba Tiwi pulang kerumah, dia memasuki kamar ini, dengan wajah yang sangat kacau,
penampilannya memang sudah seperti itu dari saat dia memasuki kamar ini, dan
tiba-tiba dia mengamuk, dia menarik kerah bajuku, dan melepaskan kancingnya,
aku kaget Jan. Tiba-tiba saja dia berusaha menciumku, meski aku menghalanginya“ Anwar bercerita sambil menerawang, mengingat kembali kejadian kala itu.
“Lalu tiba-tiba kamu datang, dalam kondisi itu, Jan ... “ Anwar bersimpuh, “Aku sangat mencintaimu, jadi bagaimana mungkin aku
bisa menyakitimu? Mengkhianatimu??” Dia menengadahkan wajahnya padaku.
“Jan, percayalah padaku hum?” Air mata Anwar luruh di pipinya, aku tau Anwar tulus, tapi aku tak ingin mempercayainya dulu.
“Aku tahu itu An, sementara aku akan mempercayai ucapanmu, tapi aku juga harus mendengarkan pengakuan dari Tiwi, apa memang seperti itu kejadiannya??” Aku menatap Anwar lekat.
“Kamu boleh bertanya padanya Jan, demi apapun, aku tidak pernah membohongimu“
“Jan, aku sangat merindukanmu, merindukan putraku, kamu boleh menghukumku dengan cara apapun, tapi tidak dengan menjauhkanku dari kalian, kamu tahu Jan, aku bisa gila“ Anwar terisak, Ah ... ya, dia memang pria
__ADS_1
yang cengeng. Semoga sifat cengengnya tidak menurun pada putraku.
“Baiklah, bagaimanapun keadaanmu, kamu tetap Ayah dari putraku, Fadli butuh kasih sayangmu juga sebagai Ayahnya“.
“Aku boleh menggendong Fadliku?” Anwar menatapku, meyakinkan dirinya sendiri.
“Hmht“ Aku memanggutkan kepala, tanda setuju.
“Terimakasih sayang“ Anwar berdiri, lalu memelukku.
“Jangan begini An, aku masih belum mendengar penjelasan dari Tiwi“ Aku melepaskan pelukan Anwar, terlihat dia begitu kecewa.
“Baiklah, selama aku bisa mendekap putraku“ Anwar berlari menuju kamar Fadli.
Aku menatap kepergian Anwar dengan perasaan yang entahlah ... aku sungguh bingung, apa aku harus mempercayai perkataannya atau tidak.
“Hallo Assalamu’alaikum Bi Lastri??” sapaku.
“Wa’alaikumsalam Bu Jani, apa kabar??” balas Bi Lastri di ujung sana, suaranya terdengar begitu riang.
“Alhamdulillah, saya dan semuanya disini baik-baik saja" jawabku.
“Bi, apa saya boleh main ke rumah Bibi?? Saya ingin bicara dengan Tiwi“ tanyaku.
Hening, tak terdengar jawaban apapun dari Bi Lastri.
“Hallo Bi?? Apa Bibi tidak keberatan??” tanyaku.
__ADS_1
“Ah, iya Bu Jani, boleh, saya akan senang jika ibu mau main kerumah saya“ jawabnya, terdengar suaranya agak parau.
“Tiwinya ada kan Bi??” tanyaku lagi, tujuanku
datang ke rumah Bi Lastri adalah untuk menemui Tiwi.
“A ada bu“ jawabnya agak gugup.
“Baik, nanti sore saya datang ke rumah Bibi ya“
“Ba baik Bu, saya tunggu“
Truth ... telpon di matikan, setelah sebelumnya aku mengucapkan salam yang di balas oleh Bi Lastri.
Aku menarik napas panjang, semoga aku bisa
mendapatkan kebenaran dari jawaban Tiwi, aku berdiri, kemudian berjalan menuju kamar Fadli.
Aku menangkap sebuah pemandangan yang menyejukkan mata, terlihat Anwar sedang memangku Fadli, mereka bermain dan tertawa bersama.
Seketika, rasa bersalah menyeruak kedalam hatiku, aku telah memisahkan anak dan Ayah itu, selama satu minggu.
“Maafkan aku ya Allah ... maafkan segala kebodohan, dan kelalaianku selama ini“ lirih aku mengunggumam, sambil menyeka air mataku, yang lolos tanpa permisi.
bersambung ........
jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers,
__ADS_1