
Setelah makan malam, aku menghabiskan waktuku di ruang keluarga, Fadli berbaring di soffa, menempelkan kepala di paha kiriku,
sibuk dengan mainan di tangannya.
“Bu bu Ibu“ Fadli menggumam.
“Subhanallah, kamu sudah lancar memanggilku nak??” Aku histeris, melihat perkembangan putraku, kata yang pertama kali ku dengar dari mulutnya adalah panggilan untukku “Ibu“.
Anwar berjalan menghampiri kami, “Kenapa putra Ayah belum memanggil nama Ayahnya?”.
“Yah, Ayah“ Fadli menggumam.
“Hah? Fadli juga bisa memanggilku dengan baik“ Anwar ikutan histeris.
Anwar duduk disampingku,
“Sudah jam delapan ayo tidur“ Ajaknya.
“Masih siang“ jawabku malas, sambil terus
berceloteh dengan putraku, memaksanya kembali untuk memanggilku “Ibu“.
Anwar terlihat sangat kecewa, dia mengambil remot tv, kemudian menyalakannya. Dengan kesal dia terus mengganti chanel tv secara
acak.
“Matikan saja tv nya, nanti rusak!!“ seruku, aku merasa sangat terganggu oleh kegiatan suamiku.
__ADS_1
“Tidak ada siaran yang bagus“ jawabnya, kemudian dia ikut menidurkan kepalanya di paha kananku, menggenggam tanganku erat, seolah takut kehilangan. Tak lama berselang, aku mendengar suara dengkuran halus dari
kedua pria ini. Situasi ini, aku sangat suka. Keluarga yang penuh dengan kehangatan.
Keesokan harinya, Anwar membawa Fadli kerumah Mamah Anita, awalnya Fadli tidak ingin turun dari mobil, dia masih tetap ingin berada dalam gendonganku.
Tapi, karena Mamah Anita terus membujuknya, akhirnya Fadli mau di pangku oleh neneknya.
Setelah Fadli di gendong Mamah Anita, dan masuk kedalam rumah Anwar menahan tanganku, untuk masuk kembali kedalam mobil, lalu dia menjalankan mobil dengan kecepatan sedang.
“Kenapa kamu meninggalkan Fadli di rumah Mamah??” protesku, aku sedetikpun tidak rela jika harus berpisah dengan putraku.
Anwar hanya membalas pertanyaanku dengan sebuah senyuman singkat, entah apa artinya.
Kemudian aku menyadari, jalan yang di pilih Anwar, bukan jalan untuk pulang kerumah, atau jalan yang aku kenal.
“Ikut saja“ jawabnya dengan seulas senyuman di bibirnya.
Ada debar aneh saat mobil Anwar berhenti di sebuah hotel bintang lima, aku ingin bertanya, tapi aku tahu tujuan Anwar mengajakku kesini. Mungkin akan terdengar lucu, jika aku bertanya sesuatu yang aku sendiri sudah tau jawabannya.
Kamarnya luas, diisi satu ranjang, satu set soffa, sebuah nakas dan lemari. Ruangan ini di dominasi oleh dua warna, yaitu warna coklat dan putih.
Anwar tersenyum melihat kebingunganku “Mau mandi dulu?” tanyanya.
Aku diam, lalu berjalan menuju jendela besar,
kusibakkan gordennya. Kulihat pemandangan indah di luar sana.
__ADS_1
Greeppp ...
Anwar memelukku dari belakang,
menempelkan dagunya di pundakku.
“Maaf, untuk semua hal yang terjadi selama ini, aku tahu, ada banyak rasa sakit yang telah kamu lalui ketika bersamaku“ pelan Anwar
berkata.
“Hmht“ jawabku, entah apa yang harus kukatakan.
“Selama ini, kamu hanya sibuk menata hati, untuk bangkit dari rasa sakit yang sudah ku goreskan, kamu hanya sibuk dengan segala
urusanku, dan Fadliku. Maaf, aku bahkan tak sempat memanjakanmu dengan banyak
hal, aku bahkan tak pernah membawamu berlibur, atau bulan madu, selama kita
menikah“ Anwar mengerlingkan mata kirinya.
Aku tersenyum, menerawang, terlalu banyak hal yang terjadi selama kita berumah tangga, bukan hanya rasa sakit, tapi bahagia yang
di impikan orang lain, ternyata bisa jadi ujian tersendiri bagiku.
Bersambung ...............
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers,
__ADS_1