KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Indah part 2


__ADS_3

Indah POV.


Kehidupan rumah tangga yang kujalani selama beberapa tahun terakhir ini cukup sulit kurasakan, semuanya terasa tidak mudah, aku yakin tidak semua orang mampu menghadapi lika liku bahtera rumah tangga, akan tetapi, Andre adalah pilihanku, dia suamiku sekarang, seberapa aku tau cintanya kini telah memudar padaku, tidak seperti dulu, ketika dia melamar lalu memutuskan untuk menikahiku, cintanya terlihat begitu nyala, menggebu, dan sulit dijelaskan.


Tapi kini, justru lamanya kebersamaan kami, bukannya memupuk cinta kami, tapi sebaliknya, cinta itu kian memudar, dan mungkin saja akan hilang seiring berjalannya waktu. Sungguh menyebalkan, di saat aku butuh dukungan mental, dia justru sedang menjauh dariku.


“Indah, gimana kamu udah memeriksakan kandungan kamu ke Dokter??” Ibu mertua, yang notabenenya adalah sahabat Ibuku, justru kini setiap ucapan selalu jadi beban bagiku, tak apa ketika para tetangga banyak yang nyinyir dan ucapannya menusuk hati, kala bertanya padaku “Kapan punya anak?? belum ngisi juga?? Jangan pake alat kontrasepsi dong, mumpung masih muda, punya anak aja dari sekarang“ Astagfirullah, kata-kata itu terdengar sederhana, tapi sungguh, kata-kata itu menyakitkan nuraniku. Mereka tidak tahu, betapa di setiap sujudku aku meminta keturunan pada yang maha kuasa, mereka tidak tahu entah sudah berapa banyak obat yang kuminum, hanya agar aku memiliki keturunan, mereka juga tidak tahu seperti apa hubunganku dengan suamiku saat ini, yang mulai merenggang hanya karena desakan dan dorongan kata dari mereka.


“Sudah bu,“ jawabku dengan tubuh gemetar, aku sangat takut mengatakan kebenaran, disini akulah yang bermasalah.


“Lalu, bagaimana hasilnya??” tanyanya semakin tegas.


“Eemmmhh ...” suaraku tercekat, entah apa yang harus kukatakan pada Ibu mertua, yang sangat berharap memiliki cucu dari anaknya.


“Kenapa?? Apa kata Dokter??” lagi, suara Ibu seperti suara dosen yang tengah bertanya ketika sidang, menakutkan.


“Ibu, maafkan Indah, tapi ...” Ah ... bagaimana caraku memulai kata??.


“Tapi apa?? Ayo jawab!“ Ibu terus mendesakku.


“Maaf Ibu, tapi masalahnya ada pada Indah,“ Aku 'ku jujur, aku tidak ingin menyimpan rahasia apapun lagi, aku hanya ingin terbuka, masalah apa yang akan ku terima saat mereka mengetahui kebenarannya, itu urusan nanti.


“Maksudnya apa?? Masalah apa??” Ibu mertua mengerutkan keningnya.


“I ibu, ada masalah pada rahim Indah, dan Dokter menyarankan agar Indah di oprasi, untuk mengobatinya“ jawabku kian bergetar, sungguh ini adalah ujian terberat bagiku, aku membayangkan rasa sakit fisikku ketika harus dioprasi, dan membayangkan bagaimana gunjingan orang, belum lagi sikap kak Andre yang sangat dingin belakangan ini.


“Apaaa???? Jadi kamu gak bisa punya anak?” Ibu mertua berteriak.


“Bisa Ibu, jika sudah diobati,“ jawabku.

__ADS_1


“Oh, begitu, baiklah, untuk menyembuhkan sakitmu, dan agar kalian segera punya anak, sebaiknya kamu segera menjadwalkan oprasimu secepatnya“ perintah Ibu mertua sambil berlalu.


“Ba baik bu“ jawabku merunduk, tak terasa buliran bening, terjun begitu saja melewati pipiku.


Ah ... semuanya terasa berat, ingin rasanya aku menceritakan semua keluh kesahku, pada kak Jani, hanya dia yang selalu mengerti aku selama ini, kuputuskan untuk menelponnya.


“Hallo Assalamu’alaikum kakak“ sapaku pada Kak Jani, setelah telponnya di angkat.


“Wa’alaikumsalam dek, kenapa??” tanya Kak Jani diseberang sana.


“Kakak, lagi dimana?” tanyaku sambil menahan tangisku.


“Kakak, lagi dirumah, ada apa?” tanyanya lembut, ah ... dia bagiku adalah malaikat tak bersayap, yang pernah aku sakiti.


“Kakak, boleh aku kerumah kakak??” tanyaku kemudian.


“Tentu saja boleh, kamu kesini aja ya ...” Izinnya, hampir tidak ada satupun keinginanku yang ditolak oleh Kakak, semuanya, segalanya, bahkan hidup Kakak pun dia persembahkan untukku, ketika aku dulu menyakitinya, bukan dia yang aku benci, tapi aku membenci diriku sendiri.


***


“Assalamu’alaikum Kak,“ sapaku setibanya di rumah Kak Jani, sambil mencium tangannya, lanjut cikipa-cikipi, rumah mewah, dengan design mewah dan kekinian ini, dirancang khusus oleh Kak Anwar untuk Kak Jani, setelah menerima banyak ujian, akhirnya kini Kakak menerima banyak keberkahan dihidupnya.


“Wa’alaikumsalam Dek, ayo masuk, Kak Anwar juga ada didalam rumah, yuk“ Kakak menuntun tanganku memasuki rumahnya.


“Kamu kenapa??” Kakak selalu tahu keadaanku, meski aku tidak menceritakan apapun, aku duduk di sebuah soffa, dengan di perhatikan oleh Kakak, dan Kakak iparku, aku merunduk dalam, rasanya dadaku yang bergemuruh enggan mengatakan apapun.


“Dek?? Kamu kenapa?? Hhuummm??” lagi kakak bertanya sambil menatap suaminya.


“Kakak,“ Aku tak mampu mengatakan apapun, aku hanya mampu menangis sambil memeluknya.

__ADS_1


Kakak, mengelus punggungku dengan sayang, hingga aku tenang dengan sendirinya, sementara Kaka ipar mengambilkanku minum, dan memberikannya padaku, sambil tersenyum.


“Ini minum, hati-hati gelasnya punya Kakakmu“ Kakak ipar menyodorkan gelas yang berisi minuman padaku, sambil mengeluarkan candaannya khas kami bertiga, yang mengklaim semua benda adalah milik Kakakku, ah ... beruntungnya Kakak, memiliki Kak Anwar.


“Hhee ... iya Kak, makasih“ mau tidak mau, aku jadi tersenyum.


“Kamu kenapa??” lagi Kakak bertanya, terlihat jelas gurat khawatir diwajah cantiknya.


“Kakak, Indah sudah mengambil hasil test kemarin“ jelasku.


“Loh?? Kok gak bilang Kakak? Terus hasilnya gimana??” tanyanya, wajahnya kian bertambah khawatir.


“Kakak, dokter menyarankan agar Indah melakukan oprasi untuk penyakit rahim yang Indah derita" jelasku, sambil terisak.


Sementara Kak Jani, dan Kak Anwar terlihat menganga atas pengakuanku.


“Istighfar Dek, terus gimana sekarang?” tanya Kakak agak panik.


“Ibu mertua menyuruhku agar segera melakukan operasi  Kak,“ Aku semakin terisak.


“Bagaimana dengan Andre??” tanyanya, bertanya tentang suamiku, suami yang belakangan ini selalu sibuk, dan tak lagi memiliki waktu untukku, hingga aku tidak sempat memberitahukan segalanya.


“Kak, Andre masih sibuk dengan pekerjaannya Kak, Indah belum sempat memberitahunya” jujurku.


“Keterlaluan Andre“ Kakak menggumam, aku tahu Kakak akan marah jika ada orang yang berani menyakitiku.


“Ya sudah, kamu istirahat dulu aja disini ya, nanti biar Kakak yang bicara dengan Andre“ tawar Kakak, yang langsung aku setujui, yah aku memang tidak akan pernah bisa dewasa, selama Kakak selalu bisa jadi tamengku, bahkan dulu ketika hubungan kami retak akibat ulahku, aku sama sekali tidak bisa berbuat apapun tanpa Kakak, dan nama besarnya. Apalagi sekarang, ditambah dengan Kakak memiliki suami yang berpamor tinggi, orang-orang sudah tidak ada lagi yang berani meremehkan Kakak, dan aku tentunya.


Bersambung................

__ADS_1


Hay readers, jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaa.....


__ADS_2