KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Fadli Sakit 2


__ADS_3

“Huaaaaa!!!“ Fadli kembali menangis, aku mengerjap, segera aku bangkit, dan menghampiri Box tidur Fadli.


“Kenapa nak? Jangan rewel terus, Ibu gak bisa lihat Fadli begini hum???” Aku meraba keningnya.


“Fadli?? Kenapa kamu nak?? Kamu panas??” seketika aku panik, Fadli tiba-tiba saja demam tinggi.


“Pak Anto!” Aku berteriak panik, berniat memanggil Bi Lastri, tapi Bi Lastri sudah pergi tadi sore.


“I iya bu? Kenapa?“ Pak Anto datang ngos-ngosan, sambil menggisik matanya. Mungkin dia tersentak karena sedang tidur.


“Pak Anto, siapkan mobil, Fadli demam, kita kerumah sakit!!” Aku berteriak sambil menggendong Fadli.


“ Fadli kenapa?” Anwar tiba-tiba datang, mungkin karena mendengar kegaduhan yang di sebabkan olehku.


Aku diam, “Fadli kenapa!!!???“ Anwar ikut panik, melihatku yang sudah menangis.


Anwar berusaha meraih dahi Fadli, tapi aku menepisnya.


“Anjani!!! Dia putraku!!! “ Anwar kembali berteriak. Setelah kejadian hari itu, sudah tidak ada lagi kedamaian di rumah ini. Hanya ada teriakan dan tangisan yang terjadi.


“Bu maaf, mobilnya sudah siap“ Pak Anto datang tergesa-gesa.


“Iya pak, kita berangkat sekarang, tolong pak tas saya“ Aku menggendong Fadli yang terus menangis, sementara Pak Anto menenteng tas yang kutunjuk. Anwar mengikutiku dari belakang.


Sepanjang perjalanan, Fadli terus menangis “Bu bu bu“ Dia terus menjeritkan namaku, aku semakin terisak, akhirnya kami menangis bersama, dalam sebuah dekapan.


“Maafin Ayah, Ayah yang salah, hum??” Anwar terus mengelus punggung Fadli, berusaha menenangkannya.


Tiba di rumah sakit, aku turun dari mobil, berlari tergesa menuju ruang IGD, dengan Fadli masih di dalam gendonganku.


“Dokter!!! Tolong anak saya!!” Aku melambaikan tangan pada Dokter yang melintas di hadapanku.


“Ibu tenang ya, silahkan bapak daftar dulu, putranya biar segera saya periksa“ Dokter segera mengarahkan aku untuk mengikuti ruangan IGD.


“Ibu, Putranya biasa di periksa oleh siapa??” tanya Dokter pria yang tidak ku ketahui namanya.


“Dokter Puspita Dok“ jawabku gemetar.


“Yah, kebetulan Dokter Puspita hari ini sedang tidak tugas".


“Tidak apa-apa, yang penting putra saya bisa sembuh“.


“Baik, ibu silahkan dekap putranya seperti ini“ Dokter memperagakan agar aku mendekap Fadli, lalu aku terbaring di ranjang, dengan Fadli yang meronta di dadaku.


Dokter memeriksa Fadli, setelah beberapa saat dokter memanggutkan kepalanya.

__ADS_1


“Anak saya kenapa Dok??” tanyaku.


“Tidak apa-apa, hanya demam biasa, sebelumnya pernah terjadi bukan??”.


“Ah, iya, Dokter Puspita bilang, anak saya memang rentan sakit, karena dia terlahir prematur".


“Yah, benar, anak Ibu memang rentan sakit, jadi pola hidupnya harus benar-benar di jaga ya bu, asupan nutrisinya juga harus benar benar di jaga“ jelas Dokter.


“Baik Dok, apa sekarang anak saya harus di rawat?” tanyaku masih cemas.


“Iya bu, hanya sampai besok pagi saja, besok pagi sudah boleh pulang ya“.


“Baik Dok“


Tak lama kemudian, beberapa perawat datang, kemudian memasangkan infuse an pada tangan Fadli, seketika Fadli kembali menjerit, aku memeluknya sambil terus menangis juga.


“Buuuu ... Buuuu ... Buuu ... “ Fadli kembali meneriakkan namaku.


“Iya sayang, gak apa-apa, Fadli anak kuat, Fadli anak hebat yah, besok kita pulang“ Aku terus mendekapnya erat.


“Buuuu ... laaaaannngggg!!“ Fadli kembali berteriak.


“Iya, besok kita pulang, hiks ... “ Aku menangis sejadi-jadinya, tidak tega melihat putraku kesakitan.


“Jan, gak apa-apa“ Anwar memegang bahuku, kemudian memelukku erat, aku tak berdaya, hanya bisa terdiam. Merasakan setiap rasa sakit yang menusuk dadaku.


“Jan, kamu istirahat, tidur disana, aku yang akan jaga Fadli“ Anwar menepuk bahuku, kemudian menunjukkan soffa yang terletak tak jauh dari ranjang Fadli.


“Aku gak apa-apa“ jawabku, sambil terus memandangi putraku.


“Dari tadi, kamu hanya terus menangis dan terjaga, kamu lelah Jan, kamu juga bisa sakit“ Anwar mengingatkan aku.


“Aku gak apa-apa“ jawabku lagi.


“Jan, tolong jangan keras kepala“


“Aku tidak keras kepala, aku hanya ingin putraku selamat, aku hanya ingin putraku kembali sehat“.


“Aku tahu itu Jan, aku Ayahnya, aku juga ingin putraku kembali sehat"


“Anjani?” tiba-tiba suara itu, membuyarkan obrolan kami.


“Randi??” Aku terbelalak ketika Randi datang menghampiriku.


“Fadli gak apa-apa??” tanyanya, sambil menghampiri Fadli, kemudian mengecek suhu tubuhnya.

__ADS_1


“Dia tidak apa-apa, hanya saja dia semalam tiba-tiba badannya panas“ jawabku sekenanya.


“Tidak apa-apa, besok pagi, dia sudah bisa pulang“ Randi membenahi infuse an Fadli.


Fadli mengerjap, kemudian kembali tertidur.


“Terimakasih“ Aku memanggutkan kepalaku, sementara Anwar sudah menatap Randi dengan tatapan yang membunuh.


Randi menatap kami bergantian, seolah faham, apa yang sedang terjadi pada kami.


Kemudian dia tersenyum “Ya udah, aku pergi dulu ya Jan, mau meriksa pasien yang lain“ Randi undur diri.


“Iya Ran, makasih yaaa“ Aku memanggutkan kepala.


Randi memundurkan langkahnya, kemudian berlalu dari luar ruangan.


Aku kembali menatap putraku lekat, sakitnya putraku, adalah sakitnya aku. Aku jauh lebih sakit, jika putraku sakit.


Anwar keluar dari ruangan kamar Fadli, tanpa bicara lagi padaku, aku tidak peduli, entah mau kemana dia.


Tak lama Anwar datang kembali,


“Jan, minum ini“ Anwar menyodorkan segelas susu hangat, jadi dia tadi keluar untuk membelikanku minuman. Aku menerimanya, bukan karena mau, tapi karena aku tidak ingin berdebat lagi.


Aku tidak meminum susu yang di sodorkan Anwar, aku menyimpannya di atas nakas.


“Di minum Jan, kamu harus kuat, gak boleh sakit“ Anwar kembali mengingatkan.


“Hmmhh“ jawabku.


“Jan, jangan menyiksa dirimu sendiri“


“Bukan aku, tapi kamu Anwar, kamu yang sudah membuat semuanya hancur“ Aku kembali terisak, kala melihat adegan itu lagi.


Anwar menarik napas panjang, dia beranjak menuju soffa, kemudian mendudukkan tubuhnya disana, Anwar terdiam, begitupun aku. Kami sama-sama terdiam. Suasana hening dan sangat mencekam. Di tambah suasana rumah sakit, yang tidak bersahabat kali ini. Aku takut, sangat takut.


Kembali ku tatap wajah teduh putraku, dia pahlawanku, dia kebanggaanku, aku bisa lemah jika menghadapi siapapun, tapi aku akan berkali lipat menjadi kuat jika itu tentang putraku. Aku sangat mencintainya, aku sangat menyayanginya. Fadli putraku.


Bersambung..................


Hay readers, jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaa....tinggalkan koment positif, like, bintang lima, dan votenya juga.


Mulai sekarang, setelah author crazzy up selama satu bulan, author akan kembali slow up. Karena author crazzy up ataupun slow up, responnya tetap sama, hheee...


Oh, iya, awalnya author akan segera menyelesaikan buku ini, tapi author belum menemukan moment yang pas, untuk mengahiri kisah mereka.

__ADS_1


Tetap stay ya readers.....


__ADS_2