KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Pertengkaran


__ADS_3

“Indah, gimana sekarang Andre??” tanyaku sambil menyodorkan teh hangat pada adikku satu-satunya itu.


“Kak Andre?? Yah begitulah kak, masih tetap sama“ jawabnya sambil tersenyum, mendongakkan kepalanya memandangku yang tengah berdiri di sampingnya.


Aku ikut tersenyum “Ya udah, gak apa-apa“ ku rundukkan kepalaku, aku tahu persis keadaan rumah tangga mereka, entahlah, sesuatu yang di awali dengan hal yang tidak baik, ujung-ujungnya selalu aja tidak baik.


“Oh iya, aku lupa ini buat Fadli“ Indah mengacungkan tas berisi dus.


“Apa ini?” tanyaku sambil menerima tas yang Indah berikan padaku.


“Itu kak, mainan buat Fadli, kemaren aku maen ke mall sama clara, gak sengaja aku nemuin itu, ya udah aku beli aja“ jelas Indah, sambil menyeruput tehnya.


“Aduh, makasih ya dek, Fadli pasti suka ini“ Aku tersenyum berbinar, kala melihat boneka spiderman, tokoh pavoritenya Fadli, ya meskipun dia belum mengerti, tapi dia sering menunjukkan karakter spiderman, jadi ku anggap saja Fadli menyukainya.


“Iya, sama-sama kak“ jawab Indah.


“Assalamu’alaikum“ tiba-tiba terdengar suara pintu di buka, aku terperanjat.


“Waduh, itu Kakak ipar kamu udah pulang dek,“ Aku berdiri, lalu berjalan untuk menghampirinya.


“Loh Ayah udah pulang?? Tumben masih siang?” tanyaku sambil meraih tangannya, menciumnya, lalu mengambil alih tas yang di jinjingnya.


“Iya, pengen pulang cepet aja, udah kangen sama Fadli,” jawabnya sambil mencium keningku.


“Oh gituh, cuman sama Fadli aja kangennya?” Aku merajuk.


“Sama Ibunya juga“ Anwar terkekeh.


“Loh?? Kamu pulang barengan sama Tiwi?” tanyaku, bingung kala baru menyadari, ternyata Tiwi sudah ada di belakang Anwar.


“Iya, tadi ketemu di jalan, Tiwi lagi nungguin angkot, kebetulan aku lewat, ya udah kita bareng aja“ jelas Anwar.


Ada desiran aneh di hatiku, aku merasa tidak suka suamiku, bisa semobil dengan perempuan lain, apalagi masih ABG.


“Hay Kakak ipar“ Indah keluar dari kamar Fadli, dan menyapa Anwar.


“Hah? Ada In In, berarti ada Clara juga ya??” Anwar tersenyum jahil pada Indah.


“Hish Kakak, lihat kelakuan Kakak ipar“ Indah mendengus, dia tidak suka jika di panggil In In.


“Ya udah, aku mau nemuin anak-anak aku dulu“ Anwar berlalu, kemudian masuk ke dalam kamar Fadli.


“Sa saya juga mau ke kamar dulu bu“ pamit Tiwi, kemudian beranjak, masuk kedalam kamarnya.


“kak, siapa dia??” Indah menyenggol bahuku dengan bahunya.


“Itu Tiwi“ jawabku, fikiran burukku kembali melayang-layang, menghantuiku.

__ADS_1


“Iya, Tiwi siapa?” Indah mulai kepo.


“Tiwi, anaknya Bi Lastri“ jelasku.


“Serius kak ?? Kakak gak khawatir suami Kakak barengan sama ABG yang modelannya kayak begitu?” tanyanya.


“Maksud kamu?” tanyaku makin bingung.


“Ish, Kakak emang gak tahu?? Sekarang lagi musim lho Kak, Om-Om yang sukanya sama daun muda“ jelas Indah.


“Anwar gak mungkin kayak gitulah Dek“ Aku menepis semua ucapan Indah, tak ingin berspekulasi sendiri, hingga menjadi fitnah.


“Gak ada jaminannya kan Kak?? Kak Anwar kan punya segalanya, kak Anwar tampan, masih muda juga, udah sukses, banyak uang, segala kemungkinan itu bisa terjadi Kak“ Indah panjang lebar menjelaskan pemikirannya padaku.


“Ah, masa iya sih?? Aku lebih percaya Anwar Dek“ Aku masih ngotot, meski hatiku mengatakan yang sebaliknya.


“Ih, Kakak gak bisa di bilangin, ya waspada itu lebih baik Kak, daripada nanti tau-tau udah kejadian kan?? Repot“ Indah masih ngotot dengan pendapatnya.


“Iya, nanti akan Kakak coba“ jawabku, sambil berlalu menuju kamar Fadli, di ikuti Indah dari belakangku.


Kulihat, Anwar sedang bermain dengan kedua Balita itu, dia terlihat begitu asyik, dan sangat menikmati perannya sebagai seorang Ayah, aku menggelengkan kepala “Aku hanya cemburu, Anwar tidak mungkin melakukan hal yang diluar dugaanku“ Monologku dalam hati.


“Ayah, mandi dulu ya, makan dulu“ Aku menghampiri Anwar yang tengah asyik mengajak anaknya bermain Ci Luk Ba.


“Gak ah, nanti aja“ Anwar masih tetap dengan posisinya.


Anwar terdiam, kemudian berdiri “Sayang, kayaknya lucu yah kalau kita punya anak perempuan juga“ Anwar tersenyum mesum.


“Ekkkhheemmm“ Aku berdehem, sambil memangku putraku.


“Fadli maukan punya dedek perempuan?” Anwar menoel hidung Fadli.


Seperti biasa Fadli terkekeh, seperti sedang mendukung Ayahnya.


“Tuh Fadli aja setuju lho“ Anwar mengerlingkan matanya.


“Iya, karena Fadli tidak tau rasanya melahirkan“ jawabku sambil mendelik.


Fadli tertawa, kemudian menyentuh wajahku, dengan tangan kecilnya.


“Ya ampuunn sayang, kamu mau punya adik?? Ini ada Dedek Clara yah“ Aku kembali menidurkan Fadli, agar berdampingan dengan Clara.


“Ck, kamu“ Anwar manyun sambil berlalu, sementara aku terkekeh geli melihat tingkahnya.


“Indah, makan dulu dek“ Aku memanggil Indah, untuk makan malam bersama, setelah kulihat dua bocah terlelap tidur, dan asyik dalam mimpinya masing-masing.


“Iya kak“ jawabnya, sambil menghampiriku di meja makan, Indah mengedarkan pandangannya, mungkin merasa sungkan dengan posisi duduk kami, aku duduk di samping kanan Anwar, dan Tiwi duduk di samping kiri Anwar.

__ADS_1


“Waduh, istri baru Kak??” Indah mendaratkan bokongnya di kursi, di dekatku, kemudian meraih piring, dan mengambil nasi.


“Hus ... kamu kalau ngomong suka sembarangan!!” sentak Anwar.


“Ya terus?” Indah menatapTiwi dengan tatapan sinis.


“Tiwi ini anaknya Bi Lastri In In“ jelas Anwar.


“Ya terus?? Bi Lastrinya mana?? Kenapa cuman Tiwi aja yang makan bareng sama kalian??” tanya Indah berapi-api, Indah sungguh seperti itu, dari dulu dia adalah anak yang keras kepala, dan jika bicara seringnya tidak di sensor. Suka blak-blakan.


“I ibu saya lagi di belakang kak“ jawab Tiwi gugup, mungkin merasa kurang nyaman, dengan kata-kata Indah.


“Oh“ Indah mengambil lauk, lalu mengaduknya dengan nasi, dan memasukkannya kedalam mulutnya.


“Indah, kamu jangan begitu dek, gak baik“ Aku memperingatkan Indah.


“Gak baik gimana Kak??” Indah masih mengunyah.


“Kita semua yang tinggal disini itu keluarga sayang“ Aku menatap Indah, berniat memberi kode, agar tidak melanjutkan perdebatan, tapi yah ... bukan Indah namanya jika dia penurut.


“Keluarga? Semua aja Kakak anggap keluarga, tukang sampah, tukang sayur, gembel yang mau nyopet dompet Kakak, semua aja kesalahan orang Kakak maafin“ Indah terus meracau.


“Indah!!! Jaga bicara kamu!!!“ kali ini Anwar yang bicara.


“Kakak, kadang Kakak harus berfikir secara logika juga dong“ Indah membanting sendok yang di pegangnya.


“Aku tidak mungkin menghianati Kakakmu!!” teriak Anwar.


“Manusia?? Siapa yang tahu??” Indah mengedikkan bahunya.


Tiwi masih terdiam. Mungkin dia hanya menyimak apa yang menjadi perdebatan kita.


“Cukup Indah, kenapa sih?? Kamu selalu aja mencurigai semua orang?? Fikiran kamu itu ... ah ... ya ampuuunnn“ Anwar meremas rambutnya.


Aku menarik napas panjang “Indah, Ayah, udah dong, kenapa sih kalian selalu bertengkar?? Gak malu apa udah pada punya anak??” leraiku.


“Kak Anwar tuh kak“ Indah mengerucutkan bibirnya.


“Huh!!” Anwar meledek Indah.


“Udah-udah, ayo makan, Andre bentar lagi jemput kamu kan?” tanyaku.


“Iya kak“ Indah kembali melanjutkan makannya, Anwar juga. Sementara itu, sempat kulihat Tiwi dengan pandangan membunuh menatapku lekat. Entah apa yang sedang difikirkan wanita itu.


Bersambung........................


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers...............

__ADS_1


__ADS_2