
Pagi nan cerah, mentari pagi tersenyum, memancarkan pesonanya yang indah, bulir-bulir cairan jatuh menapak di atas dedaunan, mengalir lurus, menyisakan sebaris air sejuk yang disebut embun.
Di sebelah jendela ruang keluarga, terdapat sebuah taman kecil dengan atap di biarkan terbuka. Di tepi tembok taman, dihiasi beberapa jenis tanaman hias, bunga-bunga yang tengah mekar merona dengan berbagai jenis dan warna, terlihat merekah.
Kupu-kupu beterbangan, hinggap pada batang bunga bergantian, kehadiran makhluk itu menambah kecantikan dan keasrian taman. Seekor kumbang jantan datang menghampiri, lalu hinggap diatas mahkota bunga-bunga tersebut, lalu menghisap putik bunga yang segar itu.
“Selamat pagi sayang ...” tiba-tiba sepasang tangan melingkar erat di perutku.
Aku terhenyak, sedikit kaget dengan kebiasaannya yang selalu menyapaku dengan sapaan manis di setiap paginya, “ Pagi... “ jawabku sambil mengelus tangannya lembut.
“Kamu lagi apa??” tanyanya sambil menciumi tengkukku.
“Liatin bunga-bunga“ jawabku singkat, sementara pandanganku masih terpaku pada kupu-kupu yang terus menghisap sari bunga. Kejam mereka, setelah puas menghisapnya, mereka akan langsung pergi begitu saja, meninggalkan bunga cantik yang sudah tak bersari. Kupu-kupu memang indah jika dilihat, beterbangan warna-warni, tapi yah ... itulah kekurangannya, tapi biarlah, mereka melakukan tugasnya sesuai dengan kodratnya.
“Jangan liatin bunga terus, sini liat aku“ rajuknya, masih dengan posisi yang sama.
Aku menoleh pada pria manja, yang kini berstatus suamiku.
“Kamu belum siap-siap pergi kekantor??” tanyaku lembut, sambil membalikkan badan menghadap ke wajahnya.
“Belum, sebentar lagi“ jawabnya tampak lesu.
“Pagi-pagi udah lesu aja, kenapa??” tanyaku menatapnya lekat.
“Aku males berangkat ke kantor, aku maunya dirumah aja sama kamu“ lagi, dia bersikap manja.
“Kalau kamu gak berangkat kerja, gimana sama tugas dan tanggung jawab kamu di perusahaan??” tanyaku sambil mengalungkan lengan di pundaknya.
“Banyak karyawan kok yang ngurusin semuanya“ masih, dengan manjanya malah menciumi tanganku.
“Karyawan tanpa pimpinan, pasti limbung,“ Aku masih tetap merayunya, agar drama ini segera berakhir, drama yang terjadi setiap pagi, kala dia akan berangkat bekerja.
“Sama kayak aku, kalau gak ada kamu, limbung juga“ ampuuun dah.
“Iya, sama aku juga“ Aku menirukan suaranya.
__ADS_1
“Sama apa?” tanyanya, masih tak mau beranjak dari pelukanku.
“Kalau kamu gak kerja, aku laper, hhee“ Aku terkekeh, yang membuatnya langsung melepaskan tubuhnya dari pelukanku.
“Mana mungkin aku bisa membiarkanmu kelaparan?” eh, cemberut dia.
“Ya udah Pak Anwar, sekarang mandi dulu yah, terus siap-siap, aku mau nyiapin sarapan buat kamu“ Aku beranjak dari hadapannya, tapi tanganku di tahan, lagi dia memelukku.
“Mau mandi bareng gak??” tanyanya sambil menaik turunkan alisnya.
“Enggak, aku udah mandi tadi sebelum shalat shubuh,“ jawabku mendelik.
“Huh ... sombong“ Dia mengebikkan bibirnya sambil berlalu mengambil handuk yang sudah kusiapkan, lalu langsung masuk ke dalam kamar mandi, dan melakukan ritualnya.
Aku tersenyum sambil geleng-geleng kepala, dia memang sudah banyak berubah. Aku berlalu meninggalkan taman bunga yang telah puas kupandangi, kemudian memasuki wilayah pavoriteku akhir-akhir ini.
Dapur, tempatku bereksperimen, yah sekarang aku lebih banyak menghabiskan waktu di tempat ini, suamiku telah menyulap ruangan ini dengan sedemikian rupa indahnya, katanya agar aku lebih nyaman aja tinggal di rumah, segala pretelan yang aku butuhkan, sudah terpampang nyata disini, dengan segala merek branded yang khusus dia pesan. Ah ... suamiku memang segalanya, segala-galanya sama suami, hhee.
“Masak apa pagi ini??” lagi, dia melingkarkan tangannya diperutku.
“Iya, kamu selalu tau apa yang aku mau“ kembali dia menciumi tengkukku, ampuuunnn drama ini entah kapan akan berakhir.
“Kamu duduk dulu di kursi ya, aku siapin supnya buat kamu“ perintahku, yang sudah tidak nyaman karena geli.
“Hmmhhtt ... dengan satu syarat“ Dia merajuk.
“Apa??” Aku membalikkan tubuhku dan mematikan kompor.
“Cium disini sepuluh kali“ Dia mengetuk-ngetuk pipinya dengan telunjuk.
“lima kali aja gimana?” tawarku.
“Dua kali deal“ jawabnya sambil terkekeh, kemudian langsung duduk di kursi tanpa kuperintah lagi, sementara aku memutar kedua bola mataku, dasar, udah capek-capek nawar, malah gak jadi. Ingin rasanya aku memeluknya seratus kali, eh.
Aku menyajikan sup yang baru saja aku masak, dengan sepenuh hati, “Makan yang banyak yaaa”
__ADS_1
“Iya, masakan istriku selalu enak, itulah sebabnya kenapa aku selalu ingin pulang cepat dari tempat kerja" jawabnya, pagi-pagi udah gombal ni orang.
“Gombal“ jawabku sambil mengebikkan bibir.
“Bukan gombal sayang, tapi romantis“ Dia berdalih.
“Apapun yang kamu inginkan, terserah saja“ jawabku sambil duduk di kursi di sampingnya, menemaninya sarapan.
“Hari ini, aku ada meeting, sepertinya aku tidak akan sempat makan siang di luar, kamu maukan mengantarkan makan siang untukku?” tanyanya sambil terus meniup-niup sup yang masih mengepul.
“Emh, begitu ya?? Baiklah“ jawabku sambil menyuapkan makananku.
“Makasih sayang“ Dia tersenyum padaku sambil mengusap kepalaku.
“Sama-sama,“ Aku kembali mengunyah makananku hingga habis.
Selesai sarapan, aku mengantar suamiku hingga dia memasuki mobil, tak lupa aku mencium tangannya, dan dia membalasnya dengan mencium keningku, lalu aku melambaikan tanganku yang langsung di balas oleh lambaian tangannya, aku menatap kepergiannya, hingga mobilnya hilang di telan tikungan.
Ah ... begitulah kehidupan rumah tanggaku sekarang, indah, nyaman, aman damai sentosa. Maha suci Allah, yang telah menganugrahkan padaku suami yang baik, dan mertua yang sangat menyayangiku.
Aku beranjak kembali memasuki rumah, aku mulai membereskan rumah, hingga saat ini, kami belum memutuskan untuk menyewa jasa ART. Selain aku lebih suka membereskan rumah sendiri, suamiku bilang tidak ingin ada yang mengganggu kebersamaan kami, dengan adanya ART. Ah ... dia memang selalu modus, he ... modus yang juga kusukai.
Selesai menyelesaikan pekerjaan rumah, aku kembali berkutat di dapur, kembali memasak untuk di antarkan nanti siang kekantor Anwar suamiku.
Hari ini, aku memutuskan untuk memasak rendang, dan mendoan, gak nyambung sih, tapi apa daya suamiku penikmat makanan khas nusantara, hingga mau tidak mau akupun harus belajar memasak, masakan nusantara, demi menyenangkan hati suamiku. Modus sih, pengen tambah dimanja suami, hahay.
Bukankah menyenangkan hati suami ibadah juga?? Ayolah, apapun bentuknya bahagiakan suami dengan berbagai cara, jika sudah menikah, ridha Allah, ada pada ridha suami bukan?? Baiklah akan ku usahakan itu, demi mengejar jannahnya.
Selesai memasak, aku langsung mandi, dandan secantik mungkin dengan hijab syar’i yang menghiasi kepalaku, ah ... iya, jika dulu aku hanya menggunakan hijab yang hanya menutupi kepala hingga leher, kini aku berusaha menggunakan hijab yang lebih menutupi dada dan bokongku, bukankah syarat berhijab seperti itu?? Aku hanya sedang berusaha untuk belajar saja.
Setelah semuanya dirasa cukup rapi, aku kemudian menata makanan kedalam rantang, dan siap berangkat menuju kantor kesayangan.
Bismillahi tawakaltu A’lallah ... berangkaaattt.
Bersambung...............
__ADS_1
Hay readers, jangan lupa dukungannya buat author yaaaa....