KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Bagas part 2


__ADS_3

Hari senin pun tiba, aku bertemu dengan perempuan yang akan menjadi istriku, dari kecil dia memang terlihat sangat manis, bahkan sekarang setelah dia dewasa semakin terlihat cantik di mataku, dia perempuan berhijab, terlihat shalehah, anggun, dan menawan.


Jika aku laki-laki normal, mungkin ini adalah anugrah terindah bagiku. Tapi tidak denganku saat ini, aku tidak membencinya, aku juga tidak ingin melukai hatinya dan tidak ingin mengorbankan masa depannya.


Entah apa yang harus kulakukan, keluargaku dan keluarganya terlihat sangat antusias dengan perjodohan ini, kecuali om Hanjaya, iya Ayahnya Anjani terlihat sangat tidak senang melihatku, mungkin karena dia tahu, aku belum bisa dan mustahil bisa mencintai putrinya.


Aku sungguh tidak ingin pernikahan ini terjadi, meskipun acara lamaran telah berlangsung, dan tanggal pernikahan sudah di tetapkan, tapi aku masih tetap bersikukuh untuk tidak menikahinya, dengan alasan aku tidak pernah mencintainya. Tapi keluargaku terus mendesakku untuk tetap menikahi gadis itu.


Hingga aku terpaksa menjalankan misi yang jelas akan menyakiti hati calon istriku, aku tidak mungkin mengatakan “Aku membencimu! Aku tidak mencintaimu! Aku tidak ingin menikah denganmu! Pergilah Anjani!“ tidak, kata-kata itu akan sangat menyakitinya, tapi menghancurkan masa depannya, jelas akan lebih menyakitkan untuknya.


Aku ingin dia yang menyerah, dan memutuskan semua rencana keluarga. Lewat sikapku yang menggila. Tapi, dari dulu dia memang gadis yang baik, aku tahu diapun pasti tidak mencintaiku, aku tau diapun ingin lari dan pergi dari semua ini. Tapi aku juga tahu dia akan lebih memilih menderita, daripada harus menentang keinginan Ibunya.

__ADS_1


Bahkan aku tidak membantunya mempersiapkan semua kebutuhan pernikahan kami, aku juga mengatakan tidak ingin tahu dengan serangkaian acara pernikahan kami, ketika sesi foto prewedding, aku meninggalkannya sendiri, dan mengatakan kata yang tidak pantas aku lontarkan, tapi dia dengan sabar dan tegar menjalani semuanya hingga hari H tiba.


Di atas pelaminan, semua orang mengatakan, jika aku adalah pria beruntung yang bisa menikahi gadis sebaik istriku, mereka bilang istriku cantik, baik, ramah, dan yang pasti taat beribadah. Tapi anehnya aku sama sekali tidak bangga, aku hanya tersenyum kecut. Aku malah mengingat Agung kekasihku. Agung datang ke pernikahanku sebagai sahabatku, aku melihat Agung menangis. Hatiku sakit melihatnya. Aku merasa sangat bersalah.


Ketika malam tiba, harusnya malam pengantin adalah malam yang paling mendebarkan bagi setiap pasangan, tapi tidak denganku, masih dengan ekspresi datar, aku melihat istriku keluar dari kamar mandi, aku yakin untuk pria normal pasti mereka akan tergoda dengan penampilan istriku malam ini, dia terlihat sangat cantik setelah membuka hijabnya.


 Aku mengalihkan pandanganku pada ponsel, dan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah selesai mandi, aku melihat dia menungguku di tepi ranjang. Aku sadar aku tidak bisa menunaikan kewajibanku untuk menafkahi batinnya.


Aku menghela napas, kemudian ikut membaringkan diri di sampingnya. Sungguh aku tidak bisa memejamkan mata. Dan ku yakin diapun sama.


Setelah menikah aku memutuskan untuk memboyong istriku ke rumah Bapak, aku bukan orang yang mampu beradaptasi dengan cepat, aku adalah kebalikan dari sifat istriku. Jika istriku adalah seorang periang dan suka tersenyum, maka aku adalah manusia yang kaku dan dingin, jika istriku mudah menempatkan diri dimanapun dia berada, maka aku adalah orang yang cukup sulit beradaptasi. Aku tahu istriku sangat berat ketika harus meninggalkan keluarganya, tapi aku juga tidak ingin mertuaku tau atas sikapku pada putrinya.

__ADS_1


Tapi, lagi-lagi keputusanku salah. Aku kembali menyakiti hati istriku lewat keluargaku. Aku tahu jika aku tidak ada di rumah, istriku di tindas habis-habisan oleh keluargaku. Tapi istriku sangat tegar, dia mampu melewati semuanya dengan baik, tanpa mengadukan hal apapun padaku. Ah, sepertinya hatiku mulai luluh.


Aku berfikir keras, untuk minimal tidak membuatnya menderita, aku memutuskan untuk mengikuti keinginannya untuk ngontrak saja. Di tambah aku juga bisa kembali dekat dengan Agung, karena aku memilih kontrakan yang berdekatan dengan kontrakan Agung.  


Dia terlihat sangat senang dengan keputusanku. Entah kenapa, tapi aku bahagia bisa melihatnya bahagia. Bahkan dia memelukku erat. Aku sangat terkesima, hingga tidak bisa membalas pelukannya. Aku hanya mampu tersenyum di balik punggungnya.


“Anjani, entah kenapa? Tapi aku bahagia bisa melihatmu tersenyum“.


Bersambung.......................


Jangan lupa dukungannya readers sayang...................

__ADS_1


__ADS_2