KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Pertemuan


__ADS_3

Satu bulan setelah kejadian aku di pecat dari kantor, ada banyak hal kecil yang berubah secara signifikan, kini Faisal jadi sangat sulit di hubungi, dari semenjak telpon terahirnya, nomor telpon Faisal sudah tidak aktif lagi, aku tidak tau sekarang hubunganku dengan Faisal sebenarnya akan di bawa kemana? Aku tidak bisa menghubungi teman-temannya juga, karena sebelumnya aku tidak pernah tau nomor ponsel mereka. Aku bingung harus menghubungi siapa untuk tau kabar Faisal.


Para tetangga yang awalnya menunduk hormat ketika di hadapanku, kini mereka selalu berbisik-bisik tidak jelas ketika berpapasan denganku. Entah apa yang mereka bicarakan di belakangku. Uang, jabatan, memang masih segalanya bagi sebagian makhluk Allah ini. Sebagian dari mereka akan terus menundukkan kepalanya dengan penuh rasa hormat, kepada orang yang memiliki harta, jabatan, dan kekuasaan. Meskipun aku tau, tidak semua orang seperti demikian, segelintir dari mereka mungkin akan bisa berfikir lebih jernih dan bijaksana, dalam menilai manusia lainnya.


Pagi ini, setelah menunaikan shalat subuh, aku memutuskan untuk beres-beres rumah lanjut menyapu halaman, sementara Ibu sibuk memasak di dapur.


"Kakak, sudah tau kabar terbaru belum??" Teriak Indah menghampiriku.


"Kenapa Indah?? jangan teriak-teriak gitu dong" Aku mendengus kesal karena saking kagetnya aku oleh teriakan Indah, aku hampir saja melempar sapu lidi ke arah wajah Indah.


"Iya maaf Kakak, ini aku juga sama kagetnya kayak Kakak" Jawab Indah sambil ngos-ngosan.


"Iya ada apa sih dek??" Tanyaku, mulai bisa menguasai diriku.


"Kakak, Istri Ayah meninggal dunia baru aja," Jelas Indah.


Aku mengernyitkan dahiku, "Indah tau dari mana kalau mamah istrinya Ayah meninggal dunia??" Tanyaku yang di penuhi keheranan. Setauku selama ini, hubungan kami dengan Ayah sangatlah renggang, kami hanya bertemu Ayah jika ada acara-acara tertentu saja, seperti idul Fitri, atau idul Adha, selebihnya kami sangat jarang bertemu. Bukan karena aku tidak merindukan Ayah, tapi aku hanya ingin menghargai perasaan Ibu, mata Ibu seolah mau keluar jika mendengar kata "Ayah" dari mulut kami, ku pahami rasa sakit yang Ibu derita selama ini, akibat ulah Ayah di masa lalu.


"Indah tau dari anak bungsunya Ayah Kakak" Jawab Indah.

__ADS_1


"Loh?? sejak kapan kamu berhubungan dengan Kakak tiri kamu Indah??" Tanyaku masih dalam mode penasaran.


"Ah, udahlah gak penting pertanyaan Kakak sekarang, yang penting sekarang kita harus ta'ziyah ke rumahnya mamah dan Ayah, Kakak," Jawab Indah sambil menarik tanganku.


"Eh, ya udah ayo dek" aku mengikuti jejak kaki Indah.


Akhirnya kami pergi ke rumah Ayah untuk ta'ziyah, setelah sebelumnya kami berpamitan pada Ibu. Setibanya di sana selimut duka masih lekat di antara orang-orang yang berada di sana, aku melihat empat Kakak tiriku, dan satu adik tiriku, aku melihat raut sedih di antara wajah mereka. Mereka sama sekali tidak menyapa kami, aku faham mungkin mereka masih dalam mode berduka.


Mereka hanya terdiam sambil berlinang air mata. Aku faham, sulit memang ketika kita tiba-tiba harus kehilangan orang yang paling kita cintai, di sana juga banyak sanak saudaraku yang kebanyakan dari mereka tidak aku kenal sama sekali.


Aku ikut mengantarkan jenazah mamah ke tempat peristirahatan terakhirnya. Meski dulu kami bisa di bilang tidak terlalu dekat, tapi akupun ikut merasakan kesedihan mereka. Setelah pulang dari pemakaman aku berpamitan untuk pulang kepada Ayah dan saudara saudara yang lainnya, meski tangan mereka menyambut jabatan tanganku, tapi mereka kompak memalingkan wajahnya, aku tersenyum ketir, dan langsung undur diri. Ku langkahkan kakiku keluar rumah sambil bergandengan tangan dengan Indah.


"Iya, loh?? Ini kak Luqman kan??" Tanyaku seolah tak percaya, ternyata yang bertanya padaku adalah kak Luqman.


Kak Luqman itu adalah Kakaknya shita, dia salah satu teman SMA ku, waktu kami sekolah dulu kami sering satu kelompok dalam mengerjakan tugas sekolah, alhasil aku sering ke rumah Shita, dan bertemu kak Luqman. Keluarga mereka adalah keluarga baik-baik, mereka juga selalu memperlakukan aku, layaknya keluarga mereka sendiri.


"Iya, ini kak Luqman, Jani baru pulang ta'ziyah ya?? aku ikut berduka cita ya Jan ..." kata kak Luqman lembut.


"Iya Kakak, terimakasih, Kakak apa kabar?? Shita apa kabar kak??" Tanyaku.

__ADS_1


"Iya sama-sama Jan, kabar Kakak Alhamdulillah baik, kabar Shita juga Alhamdulillah baik, Shita sekarang udah nikah dan punya anak lho Jan, kamu gimana??" Jelas kak Luqman.


"Gimana apa nya kak??" Tanyaku sambil mengernyitkan dahi.


"Kamu udah nikah belum Jan??" Tanya kak Luqman yang berhasil membuatku tersenyum kaku.


"Belum Kakak, mungkin belum ada jodohnya" jawabku langsung pada intinya, takut di tanya-tanya lagi perkara jodoh, yang kini selalu kuhindari.


"Ya udah kak Luqman, kalau gitu Jani duluan pulang ya Kak, salam aja buat Shita dan keluarga ya Kak" Aku langsung pamitan pada kak Luqman setelah sebelumnya sempat memperkenalkan Indah pada kak Luqman.


"Eh sebentar Jan, aku boleh minta contact kamu gak?? siapa tau nanti perlu" Pinta Kak Luqman.


"..........................."


Bersambung......................


Kira kira Anjani ngasih nomor nya gak yaaaaa????


Jangan lupa tinggalkan jejak nya ya readers, Like, komen, Bintang lima dan VOTE sebanyak banyak nya....author tunggu ya readers yang author kasihi.....makasih.......

__ADS_1


__ADS_2