
"Maksud ibu??" Aku mengerut kan dahiku, aku bingung dengan maksud perkataan ibu.
"Ibu akan menjodohkanmu dengan anak dari teman lama ibu" Ibu mengutarakan maksudnya,
"Tapi ibu, Jani kan sedang berhubungan dengan Faisal, bagaimana mungkin Ibu menjodohkan Jani dengan anak teman Ibu??" aku tidak mengerti dengan apa yang Ibu fikirkan, kenapa Ibu masih dengan pantang menyerahnya terus mencarikan aku jodoh sementara Ibu tau aku sudah berhubungan dengan Faisal, bahkan keluarganya pun sudah datang ke rumah untuk melamarku.
"Anjani, ibu tidak merestui hubungan kamu dengan si Faisal" Suara Ibu mulai meninggi,
"Iya Ibu, tapi kenapa?? Faisal baik Ibu, dia seorang direktur, masih muda dan tidak pernah macam - macam pada Jani" Aku mencoba bernegosiasi dengan Ibu, meski kini aku sedang memiliki masalah dengan Faisal, tapi aku tidak bisa menerima perjodohan ini begitu saja, meski Faisal sudah memperlakukanku dengan cara tidak adil, tapi aku tidak ingin membalas ke tidak adilannya.
"Anjani, jangan terus menjadi pembangkang!!! Ibu tidak suka pada pilihan mu!!" Ibu membentakku, sama seperti dulu, ketika aku tidak mendapatkan nilai bagus di sekolah.
"Iya Ibu, tapi kenapa?" Aku masih terus bertanya, entah aku memiliki kekuatan dari mana untuk membantah setiap kata kata Ibu.
__ADS_1
"Ok, kalau begitu Ibu ingin bertanya padamu, Kapan Faisal pernah mengajakmu menikah??" Pertanyaan Ibu sukses membuatku tertegun, Faisal memang sering mengiming - imingi pernikahan padaku, tapi aku pun tidak pernah mendapatkan jawaban pastinya, dia hanya berkata "Iya nanti, kalau aku sudah naik jabatan" "Iya nanti kalau ibu kamu sudah setuju," "Iya nanti, nanti, nanti dan nanti nanti yang lainnya"
"Apa yang tetangga katakan itu pada kenyataannya memang benar Jani, jika kamu tidak secepatnya mengambil keputusan, kamu akan terlambat menikah, ibu tidak ingin kamu memiliki keturunan di saat usiamu sudah terlalu dewasa," Akhirnya Ibu menjelaskan ke khawatirannya.
Aku diam, mencerna setiap perkataan Ibu, apa yang di katakan Ibu memang ada benarnya.
"Tapi ibu ..."
"Diam Anjani!!! dan turuti saja ke inginan Ibu, semua yang Ibu lakukan adalah untuk kebaikanmu. Jangan sampai Ibu merasa telah menyesal karena sudah melahirkanmu" Hardik ibu, emosi Ibu semakin tak terkontrol
"Ibu pernah menyesal memiliki anak seperti Jani??" Tanyaku dengan pandangan nanar pada Ibu.
"Pernah" jawab Ibu singkat sambil membuang napasnya kasar,
__ADS_1
"Kapan Ibu??" Tanyaku yang mulai melemah,
"Sekarang, hari ini, ketika kamu sudah tidak lagi mendengarkan Ibu, kamu tau Jani?? seberapa sulitnya ibu membesarkanmu seorang diri??Jadi ibu minta turutilah mau ibu, dan ibu akan meridhoi langkahmu" Jelas ibu,
Tak ingin Allah murka padaku, karena ibu tak meridhoi pilihanku, maka tak ada opsi lain saat ini, selain menuruti perkataan ibu.
"Baik ibu, Jani ikuti kemauan ibu, Jani akan menemui pria pilihan ibu" Jawabku pasrah sambil menundukkan wajahku,
"Bagus, besok temui dia, di tempat yang sudah ibu janjikan," Jawab ibu seraya beranjak memasuki kamarnya,
Sementara aku dan Indah hanya saling bertatapan. "Kakak, yang sabar ya" kata Indah seraya langsung memelukku erat, tak terasa air mataku luruh juga, mengalir begitu deras, mewakili segala kepedihan di hatiku.
Bersambung.............
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers....vote, like, koment, dan bintang lima nya di kencengin yaaa...hhee...makasih.