
Anjani P.O.V
Menjalani status baru sebagai seorang janda adalah hal yang sulit bagiku, aku yakin menjadi seorang janda bukanlah pilihan yang menarik bagi semua perempuan, aku yakin semua perempuan di muka bumi ini, memimpikan untuk bisa memiliki pasangan hidup, yang tidak hanya mencintai lahir batin, tapi juga selalu setia mendampingi, namun kini, status itu sudah menjadi kenyataan bagi hidupku. Manusia memang hanya bisa berkehendak, tapi Allah lah yang menentukan semuanya.
Menjadi seorang janda bukanlah perkara yang mudah, tapi aku sadar bahwasannya kenyataan ini bisa terjadi pada siapapun, status ini sudah menjadi bagian dari kehidupan di dunia ini. Aku bahkan sempat merasa frustasi karenanya, entah apa yang harus kulakukan sekarang, orang-orang banyak yang berbisik-bisik ketika berpapasan denganku, aku tahu mereka pasti membicarakan aku yang tidak-tidak.
Aku tidak menyangka jalan hidupku akan seperti ini, ketabahanku, cintaku, kasih sayangku sungguh tengah di uji habis-habisan. Ternyata suamiku bukan jodoh sejatiku. Ternyata setelah aku bertemu dengan banyak pria, bahkan pria yang sudah mengucapkan janji sucinya pun, ternyata dia juga bukan jodohku.
Sakit, ketika orang-orang terutama perempuan bersuami selalu meningkatkan kewaspadaanya sepuluh kali lipat ketika berpapasan denganku, mungkin takut jika suaminya melirik aku, meskipun mataku sama sekali tidak jelalatan. Bahkan aku selalu menundukkan pandanganku, ketika berjalan.
Ketika keluar rumah orang-orang menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya, ketika aku bersolek di bilangnya kegatelan, ketika aku tidak bersolek di bilangnya tidak bisa merawat diri, kumal dan lemah. Ketika aku membalas komunikasi dari seorang pria di bilangnya ganjen, kurang pelukan dan kasih sayang, dan ketika aku tidak membalasnya di bilangnya sombong, judes, jutek, tidak tahu diri.
Sungguh rumit jika kita sepenuhnya mendengarkan ocehan orang. Tapi aku berusaha untuk tidak mendengarkan bisikan mereka, aku hanya melakukan semua yang terbaik. Allah akan menjadi saksi untuk semua hal yang telah kulakukan di dunia ini.
“Assalamu’alaikum Jan, lagi apa??” Anwar datang ke rumahku di suatu sore, ketika aku sedang menggunting tanaman hias di depan rumahku.
“Wa’alaikumsalam, aku lagi motongin bunga, kamu kenapa kesini?? Ayo duduk“ jawabku, sambil mempersilahkan Anwar duduk di kursi di depan rumah yang berada di teras.
“Iya, makasih Jan. Gak apa-apa aku cuman mau main aja“ jawab Anwar sambil mendaratkan pantatnya di kursi yang aku tunjukkan.
“Oh, kenapa gak ke taman aja kalau cuman mau main?? Kenapa kesini??” tanyaku sambil tersenyum.
“Ah kamu Jan, bisa aja“ jawab Anwar sambil membalas senyumku.
“Kamu sekarang kegiatannya apa aja Jan??” tanya Anwar kemudian setelah aku duduk di kursi di samping Anwar.
“Aku ada aja di rumah, gak kemana-mana“ jawabku.
“Kamu, gak kefikiran buat kerja lagi Jan?? Buat ngilangin jenuh??” tanya Anwar menatapku dalam.
__ADS_1
“Enggak, aku cuman pengen istirahat dulu aja, kalau untuk sekedar ngilangin jenuh sekarang aku masih bantuin ibu bikin kue kok“ jawabku menjelaskan.
“Oh gituh,“ jawab Anwar, seketika suasana menjadi hening. Kami seolah tenggelam pada fikiran kami masing-masing.
“Jan,“ panggil Anwar lembut.
“Iya,“ jawabku sambil menatapnya.
“Kamu udah baikan sekarang??” tanya Anwar yang terdengar ambigu di telingaku.
“Maksudnya?? Kamu lihatkan aku baik-baik saja??” jawabku sambil menoleh pada diriku sendiri.
“Bukan fisikmu, tapi hatimu Jan, kamu sudah bisa melupakan mantan suami kamu??” tanya Anwar yang berhasil membuatku kembali mengingat Bagas.
“Aku sudah mencoba melupakan Bagas, aku sedang belajar menghapus semua cerita, dan mimpi indah yang dulu sempat terjalin begitu dalam di hatiku ini.“ Jawabku sambil menunjuk dadaku sendiri.
“Kenapa?? Karena kamu sekarang sudah membencinya?? Atau mungkin sekarang kamu sudah memikirkan untuk mencari penggantinya??” tanya Anwar menatapku semakin lekat.
“Bukan Bagas, lalu sekarang Bagas siapa untukmu Jan??” Anwar terus menatapku.
“Bagas hanya masa lalu, yang mungkin kini sudah tidak tersisa lagi di benakku. Bagas sudah hancur menjadi sebuah puing yang tak mungkin lagi aku lihat, dan tak ingin aku ingat“ jawabku sambil menoleh pada Anwar.
“Kamu kenapa nanya gitu?” tanyaku kemudian.
“Gak apa-apa, aku semakin yakin, jika kamu adalah perempuan hebat, kuat, dan mandiri” puji Anwar yang membuat pipiku menghangat.
“Kamu baru tau ya??” tanyaku sambil tersenyum tipis, menggodanya.
“Aku fikir kamu sekarang sedang menangis, mengurung diri, dan meratapi nasib, hhee ...” Anwar terkekeh dengan pernyataannya sendiri.
__ADS_1
“Aku tidak selemah itu Anwar“ jawabku yakin.
“Aku tahu itu dari pertama kita bertemu Jani, aku bahkan banyak belajar tentang kekuatan hidup dari kamu“ kata-kata Anwar membuatku mengerutkan dahi.
“Hmht??? Maksudnya??” tanyaku tak bisa lagi menyembunyikan rasa penasaranku.
“Kamu tahu Jan?? Setelah aku bertemu denganmu, aku jadi memiliki kekuatan untuk bisa menata diri dan berusaha untuk sembuh“ jawab Anwar sambil menerawang.
“Kamu selalu bilang tentang kesembuhan, memangnya kamu sakit apa Anwar??” tanyaku penasaran.
“Akan aku kasih tau jika sudah waktunya“ jawab Anwar yang membuatku frustasi.
“Jawabannya gitu melulu, kamu udah banyak banget hutang penjelasan sama aku lho“ Aku mengingatkan Anwar tentang semua janji penjelasannya.
“Iya, nanti aku jelaskan, tapi tidak sekarang“ Anwar masih kukuh tidak ingin menjelaskan apapun.
Aku menarik napas panjang dan mengeluarkannya lembut “Aku harap, ketika saat itu tiba, aku masih ada di dunia ini Anwar“ jawabku hampa.
“Kamu, memangnya mau kemana??” tanya Anwar mengerutkan dahinya.
“Gak kemana-mana, aku masih stay disini kok“ Aku tersenyum menatap Anwar sekilas, lalu menundukkan pandanganku.
Ah, bertemu kembali dengan Anwar dengan status baruku, adalah ujian yang nyata bagiku. Anwar sering datang kerumah, hanya untuk sekedar melihat keadaanku saja. Sebagai perempuan dewasa pastinya aku faham, ada maksud lain dari setiap kunjungan Anwar, dan ini membuat ke adaanku menjadi sangat rumit.
Tau kan?? Gimana ocehan tetangga?? Perempuan singgle dan laki-laki singgle saling bertemu terlalu sering, akan menimbulkan pradigma tersendiri bagi orang-orang awam, dan kepo. Ya meskipun tidak pernah terjadi hal apapun pada kami.
Ah, aku harus bagaimana menyikapi semua ini???.
Bersambung................
__ADS_1
Readers sayang, jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaaaaa.....terimakasih.......