KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Anjani sakit


__ADS_3

“Kamu kenapa lagi mas?” tanyaku di sela acara makan malam kami.


“Jan, besok aku di tugaskan keluar kota untuk beberapa hari ke depan, karena ada urusan pekerjaan yang harus aku selesaikan“ jelas Bagas.


“Kenapa dadakan??” tanyaku heran.


“Iya, aku juga gak nyangka aku yang di tugaskan untuk pekerjaan ini“ jawab Bagas.


“Kamu gak usah pergi aja Mas“ pintaku yang entah kenapa aku merasa berat untuk melepaskan Bagas pergi.


Bagas menatapku lekat, “Aku cuman pergi beberapa hari Jan, gak akan lama kok“


“Tapi, nanti aku sendirian di sini“ rajukku, entah kenapa tapi hari ini aku merasa sangat ingin banyak bicara.


“Atau kamu mau tinggal dulu di rumah Ibu untuk sementara waktu? Selama aku berada di luar kota?” Tawar Bagas.


Aku berfikir sejenak, “Tidak, aku akan tetap di sini, nungguin kamu pulang“ putusku akhirnya.


“Ya udah, selama aku gak ada, kamu hati-hati di rumah ya, jaga diri baik-baik, kalau ada apa-apa kamu langsung telpon aku ya“ untuk pertama kalinya aku merasa tersanjung oleh ucapan suamiku, aku merasa di perhatikan. Untuk pertama kalinya kami berbicara begitu banyak dan terasa nyaman.


“Iya Mas, oh iya Mas aku boleh nanya sesuatu??” seketika entah kenapa tapi aku begitu betah ngobrol dengan suamiku, setelah kami sama-sama merebahkan diri di ranjang.


“Apa??” Bagas membalikkan wajahnya ke arahku.


“Kamu, pernah mencintaiku??” tanyaku yang entah kenapa tapi aku ingin sekali menanyakan hal itu kepada Bagas.


“Apa aku harus menjawab pertanyaan itu?kenapa kamu selalu menanyakan hal yang sama berulang-ulang??” tanya Bagas menatapku lekat.


“Gak apa-apa aku hanya ingin tau, ayo jawab“ pintaku.


“Gak ada yang perlu di jawab Jan, kamu sudah tau jawabannya“ jujur aku sangat kecewa dengan jawaban Bagas, bahkan mengatakan cinta kepadaku saja dia tidak bisa.


“Aku tau apa jawaban kamu, aku hanya ingin memastikannya saja“ jawabku sambil beranjak membelakangi Bagas.


“Apa yang harus kamu pastikan?? Semuanya sudah jelas dan pasti“ gumam Bagas yang masih bisa ku dengar.


“Selama menikah, aku tidak pernah sekalipun mendengar kata cinta darimu,“ Aku masih saja merajuk. Entah kenapa tapi akupun merasa aku sangat manja pada Bagas malam ini.

__ADS_1


“Aku fikir kata-kata seperti itu, tidak perlu di ungkapkan, kamu kan pasti udah tau jawaban nya“ Bagas masih tetap bersikukuh dengan pendapatnya.


“Ya udah“ jawabku memunggungi Bagas.


“Kamu tuh kenapa?? Gak biasanya lho kamu kayak gini“ Bagas merendahkan suaranya.


“Gak apa-apa” jawabku mengerucutkan bibirku.


“Ya udah,“ jawab Bagas singkat.


“Hih gak peka amat“ gumamku


“Nanti kalau aku udah gak ada kamu bakalan nyesel“ kataku tiba-tiba yang membuat Bagas langsung melotot kepadaku.


“Kamu tuh kalau ngomong suka kemana-mana“ Bagas mulai meninggikan suaranya.


Aku tidak ingin melanjutkan percakapan lagi dengan Bagas, aku menaikkan selimut hingga ke atas dadaku, kemudian memejamkan mata hingga terlelap dengan sendirinya.


***


“Jan, aku berangkat ya, kamu baik-baik di rumah“ pamit Bagas.


“Iya mas, hati-hati ya“ Aku mencium tangan  Bagas, dan tiba-tiba,


Cup,


Bagas mencium keningku. Aku sangat kaget dengan perlakuan Bagas yang jarang langka ini, Bagas tersenyum padaku dan melambaikan tangannya. Aku membalas lambaian tangan Bagas, aku melihat kepergian suamiku hingga kendaraan yang di tumpanginya sampai menghilang di telan jalan, Aku masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu.


***


Waktu berlalu, sudah dua hari Bagas tidak ada di rumah, semenjak pergi Bagas belum pernah menghubungiku, enta lah mungkin dia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Aku pun tidak berniat untuk menghubunginya lebih dulu, aku takut mengganggu pekerjaan Bagas.


Hari ini, seperti biasa aku melakukan tugasku sebagai Ibu rumah tangga, aku membersihkan rumah, mencuci pakaian, dan lain sebagainya. Kali ini aku sudah merendam seprai dan selimut yang ukurannya cukup besar, kemudian lanjut mencucinya, cukup melelahkan memang.


Setelah aku menjemurnya, aku menyelonjorkan kakiku di teras belakang, ah, aku merasa hidupku kian sepi, sekarang aku jadi punya ke ahlian lain, yaitu menunggu.


Ah, kenapa perutku terasa sakit, seperti kram, padahal aku sudah makan tepat waktu. Aku memejamkan mataku merasakan rasa sakit yang kian mendera di area perutku yang semakin menjalar ke area ************.

__ADS_1


Kenapa ini?? Kian lama sakitku tak kunjung reda, malah kian terasa.


Aku mencoba untuk berdiri, aku menggapai rak sepatu yang ada di sampingku, tapi sia-sia, rak sepatu yang terbuat dari bahan plastik itu tak mampu menopang badanku, dan malah ambruk, hingga aku pun ikut terjatuh.


Rasa sakit ku makin bertambah, kenapa ini?? aku tidak pernah selemah ini, aku mencoba berdiri lagi, tapi alangkah terkejutnya aku, karena aku melihat bercak darah di lantai, yang berasal dari area sensitifku. Aku menjadi lemas, dan melorot ke lantai shock dan sakit yang kian menyiksa membuatku down.


Aku mencoba untuk beringsut, ingin meraih ponselku yang ku letakkan di ruang tengah di atas meja, aku coba untuk terus menggapainya sambil menahan rasa sakitku. Aku mencoba menghubungi nomor Bagas dan langsung menekan tombol ‘panggil’ . Setelah tersambung Bagas mengangkat telponku setelah agak lama aku melakukan panggilan.


“Hallo Jan, ada apa??” tanya Bagas yang membuatku heran, dua hari tak menhubungiku dia tanya ‘ada apa???’ keterlaluan.


“Mas, aku sakit“ rengekku.


“Sakit apa??” tanya Bagas agak datar.


“Sakit perut“ jawabku sambil terus meringis, sementara darah terus keluar dari area sensitifku semakin banyak.


“Udah minum obat kan??” tanya Bagas.


“Mas, aku tuh keluar banyak darah, aku udah lemes banget“ Aku sudah mulai lemas dan tidak ingin banyak berkata-kata lagi.


“Darah apa??, aku gak bisa pulang sekarang Jan, aku telpon Ayahku saja ya, biar bawa kamu ke rumah sakit“ tawar Bagas.


“Sayang ...” tiba-tiba terdengar panggilan seorang laki-laki dari telpon Bagas.


‘Apa ini?? Bagas bersama siapa?? Kenapa ada laki-laki yang memanggilnya sayang?? Apa Bagas berbohong padaku?? Apa dia sekarang sedang bersama kekasih prianya??’


Seketika pandanganku mulai kabur, aku sudah tidak tahan lagi dengan rasa sakitku.


“Jan, Jani, kamu masih di sana 'kan?? Kamu bisa bertahan 'kan?? Ayahku akan segera ke sana Jan“ terdengar suara Bagas di telpon yang sudah ku jauhkan dari telingaku. Aku sudah tidak sanggup lagi menahan sakit fisik dan sakit hatiku.


Seandainya Allah ingin menjemputku saat ini, Aku akan sangat ikhlas. Aku hanya ingin melihat Ibu bahagia, itu saja ke inginanku.


Bersambung...................


Kira kira Anjani kenapa ya????


Jangan lupa dukung author terus ya readers......like, komen, bintang lima dan vote sebanyak banyak nya.

__ADS_1


__ADS_2